PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Di balik keramaian wisata Pangandaran, tersembunyi kisah haru perjuangan seorang ayah tunggal bernama Zakaria (38). Pria asal Bekasi ini terpaksa melakoni pekerjaan sebagai pemulung demi menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil.
Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan sempit berdinding triplek di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran.
Baca Juga: Grand Palma Pangandaran Rayakan HUT Ke-2, Hotel Syariah Bintang Empat Pertama di Pangandaran
Zakaria mengaku harus memikul tanggung jawab mengasuh seluruh anaknya seorang diri sejak berpisah dari sang istri.
Ia memutuskan merantau ke kawasan pesisir Pangandaran dengan harapan bisa memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Namun, kegagalan mendapat pekerjaan tetap memaksa Zakaria memulung sampah plastik di sepanjang jalanan setiap hari.
Ia membagi penghasilan harian yang sangat minim untuk membayar uang sewa kontrakan serta membeli makanan.
“Kadang kalau lagi banyak tamu, saya bisa jajanin anak cilok. Kalau lagi sepi, ya makan nasi sama garam,” tuturnya.
Kesulitan ekonomi tersebut membuat ketiga anak Zakaria terpaksa putus sekolah dan sering menemaninya mencari rongsokan.
Kisah pilu keluarga perantau ini akhirnya mengetuk perhatian Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran.
Petugas dinas langsung mendatangi kontrakan Zakaria untuk mendata serta membelikan seluruh perlengkapan sekolah anak-anaknya.
Pemerintah memfasilitasi ketiga anak Zakaria agar dapat segera mengecap pendidikan formal mulai pekan depan.
Kadisdikpora Pangandaran Soleh Supriadi meminta Zakaria tidak lagi membawa anak-anaknya pergi memulung di jalanan.
“Kami mohon Pak Zakaria, anak-anak jangan diajak memulung lagi. Biar fokus sekolah,” tegas Soleh.
BAZNAS Kabupaten Pangandaran turut mengulurkan bantuan dana operasional awal guna menyokong kebutuhan hidup keluarga tersebut.
Zakaria mengusap air matanya dan mengucapkan rasa syukur mendalam atas kepedulian berbagai pihak terhadap keluarganya.
Kini, ia bisa bernapas lega karena impian besarnya melihat sang buah hati bersekolah akhirnya terwujud.
(Sajidin)



