spot_imgspot_img
Senin 28 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pemkab Bekasi Intervensi Pasokan Pangan, IPH Naik Dua Pekan Berturut-turut

BEKASI,FOKUSjabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi menyusun langkah taktis guna mengendalikan harga serta menjaga ketersediaan pangan daerah. Langkah ini menyusul lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Bekasi selama dua pekan terakhir.

Kenaikan IPH ini berakar dari lonjakan harga bahan pokok yang bergantung pada pasokan luar daerah. Rilis data pekan terakhir mencatat IPH Kabupaten Bekasi menyentuh angka 2,73.

Baca Juga: Niat Berteduh di Buah Batu Bandung, Robi Terjebak di Reruntuhan Baliho

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmi Yenti, menaruh perhatian serius atas tren kenaikan harga ini. Ia menyampaikan hal tersebut usai Apel Pagi ASN di Plaza Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (28/9/2026).

“Memang sudah dua minggu berturut-turut IPH di Kabupaten Bekasi mengalami kenaikan. Terakhir itu di angka 2,73,” ujar Helmi usai Apel Pagi ASN di Plaza Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (28/9/2026).

Helmi membeberkan faktor cuaca ekstrem sebagai pemicu utama lonjakan harga pangan. Musim kemarau panjang memangkas hasil panen daerah-daerah pemasok utama.

Sejumlah bahan pokok mendapat sorotan khusus, antara lain cabai rawit, cabai merah, serta daging sapi. Produksi lokal Bekasi belum sanggup memenuhi seluruh kebutuhan cabai warga.

Selama ini, Bekasi mendatangkan pasokan cabai dari wilayah Garut dan Magelang. Namun, panen pada kedua daerah tersebut merosot akibat kemarau serta selesainya masa panen raya.

“Setelah kita hubungkan dengan daerah pemasok, mereka juga mengalami pengurangan produksi sekitar 40 persen. Selain karena kemarau, mereka juga sudah tidak dalam masa panen raya,” jelasnya.

Jajaki Pasokan Cabai dari Sumatera

Pemkab Bekasi menjalin komunikasi bersama Lampung dan Sumatera Barat guna mengamankan pasokan alternatif. Produksi cabai kedua wilayah tersebut relatif stabil menghadapi terpaan kemarau.

Namun, pengiriman cabai dari Sumatera menyimpan tantangan tersendiri. Helmi menyebut kadar air cabai area tersebut cukup tinggi sehingga gampang membusuk saat distribusi.

“Risikonya, dari barang yang dikirim bisa ada sekitar sepertiganya yang mengalami kebusukan. Artinya ada kerugian yang harus ditanggung bandar,” katanya.

Kerusakan bahan pangan ini memicu kerugian bagi distributor. Biaya ekstra tersebut berpotensi mengerek harga jual cabai pada tingkat pedagang pasar.

Pemkab Bekasi terus berkoordinasi bareng Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta kementerian terkait. Langkah ini bertujuan menjaga kelancaran jalur distribusi sekaligus menekan harga.

Di samping itu, pemda memandang penting penguatan data produksi pangan lokal. Pemetaan akurat membentengi komoditas strategis pemicu inflasi.

Helmi menegaskan data aktual mengenai jumlah petani dan kapasitas produksi cabai sangat membantu pemerintah mengeksekusi intervensi pasar.

“Kita akan koordinasi dengan Dinas Pertanian agar ada data yang benar-benar aktual mengenai produsen dan petani di Kabupaten Bekasi, khususnya yang berkaitan dengan komoditas cabai,” ujarnya.

Gelar Operasi Pasar dan Manfaatkan EWS Inflasi

Pemkab Bekasi menggandeng Perum Bulog demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras.

Pemerintah siap menggelar operasi pasar gabungan bersama Satgas Pangan dan Polres jika harga beras melambung tinggi.

“Kalau beras naik, otomatis kami akan melakukan operasi pasar. Itu sudah kami lakukan bersama Satgas Pangan dan Polres di seluruh pasar yang sampai sekarang masih berjalan,” kata Helmi.

Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi turut mengoptimalkan sistem Early Warning System (EWS) Inflasi. Fitur ini memberi prediksi perkembangan harga komoditas sepekan ke depan.

Helmi menjelaskan EWS Inflasi memantau stok distributor lalu mencocokkannya dengan harga riil pasar. Data ini menjadi sinyal awal pelaksanaan intervensi.

“EWS ini sangat membantu kita untuk lebih cepat melaksanakan intervensi pasar,” tuturnya.

Pemkab Bekasi terus memantau pergerakan stok, harga, serta rantai distribusi pangan. Langkah preventif ini membendung gejolak harga sekaligus menekan laju inflasi daerah.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru