BANDUNG,FOKUSJabar.id: Peluang warga Jawa Barat (Jabar) bekerja di negeri Sakura (Jepang) semakin terbuka.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar telah bekerjasama dengan Pemerintah Shizuoka Jepang.
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat, Uu Rushanul Ulum mengatakan, kerjasama ini merupakan kesempatan baik.
BACA JUGA: Kebocoran Retribusi Parkir Kota Banjar Mencapai 30 Persen
Dia ingin, lulusan SMA/SMK di Jabar dapat memanfaatkan peluang tersebut.
Uu mengatakan, persentase tenaga kerja asal Indonesia di Jepang saat ini masih lebih rendah dari tenaga kerja negara lain.
Jepang membuka peluang untuk warga Jabar yang ingin bekerja di sana.
“Saya ditugaskan oleh Pak Gubernur ke Jepang. Ternyata di Jepang mereka membutuhkan tenaga kerja orang Indonesia, yang selama ini baru 40.000. Sementara tenaga kerja dari luar negeri di Jepang ada sekitar 160.000,” ucapnya.
Terkait hal itu, Uu meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar untuk memanfaatkan peluang tersebut.
“Melalui peluang bekerja di Jepang, bisa menjadi salah satu langkah menurunkan angka pengangguran di Jabar,” ungkapnya.
Wagub mengimbau, Disnakertrans dan Disdik Jabar dapat memfasilitasi sekaligus mempermudah proses persiapan pengiriman lulusan SMA/SMK ke Jepang.
“Saya minta Disnakertrans dan Disdik berkolaborasi bagaimana memanfaatkan peluang ini. Dorong anak-anak lulusan SMA/SMK untuk bekerja di Jepang. Dengan begitu, pengangguran di Jabar semakin sedikit,” kata Uu.
Uu menyebut, di Jabar tersedia SMK-SMK dengan konsentrasi pendidikan yang mumpuni. Seperti SMK pertanian, otomotif, penerbangan, dan ilmu kelautan.
Sehingga peluang ini dapat ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama (MoU) dengan perusahaan-perusahaan di Jepang.
Guna memonitor peluang tersebut, Uu meminta Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan di Jabar untuk menyampaikan kembali informasi ini kepada para Kepala SMA/SMK serta membantu persiapannya.
BACA JUGA: Kampung Nila Kawali Punya potensi Jadi Kawasan Wisata Edukasi
“Saya minta kegiatan kali ini ada progres. Minimal 2-3 bulan masing-masing sekolah sudah siap mengirim lulusannya ke Jepang,” ujarnya.
“Bulan Agustus/September, saya ingin para KCD untuk ada progres setelah pertemuan hari ini. Informasi yang didapat sampaikan kepada para kepala sekolah. Laporkan kepada saya progresnya,” tutup Dia.
(Budiana Martin/Bambang)


