Kamis 1 Oktober 2020

Apa Sindrom Othello? Cemburu Berlebihan Bisa jadi Gejalanya

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Sindrom Othello belum begitu populer di kalangan masyarakat. Namun, Waspadalah jika Anda atau pasangan mudah merasa cemburu atau cemburu berlebihan, karena itu mungkin saja gejalanya.

Cemburu adalah emosi kompleks yang umum dialami sebagian besar orang di waktu tertentu. kita semua memiliki tingkat kecemburuan.

Namun, belum adanya definisi tegas dan batasan atau konsensus jelas tentang apa yang disebut kecemburuan normal dan kecemburuan patologis membuat sindrom Othello.

Akar kata Latin dan Yunani dari istilah “cemburu” mengacu ke kegairahan, semangat, cinta untuk ditiru. Kecemburuan umumnya ditandai sebagai reaksi emosional negatif yang muncul saat seseorang kehilangan (atau takut kehilangan) hubungan yang berharga karena ancaman saingan, baik bersifat nonfiktif maupun imajinatif.

BACA JUGA: Gejala Demensia Alzheimer Harus Diwaspadai

Cemburu patologis terutama mengacu ke kondisi irasional. Kingham dan Gordon (2004) menyatakan bahwa kondisi ini merupakan sekumpulan emosi dan pikiran irasional, dengan perilaku ekstrem atau tidak dapat diterima, di mana tema dominan tentang ketidaksetiaan pasangan tetapnya, yang tidak berbasis bukti.

Sejarah

Sindrom Othello adalah kepercayaan yang salah bahwa pasangan dirinya atau kekasihnya tidak setia. Istilah sindrom ini pertama kali dikemukakan oleh psikiatris Inggris, John Todd dan K Dewhurst, melalui publikasi di Journal of Nervous and Mental Disorder tahun 1955, berjudul “The Othello Syndrome: a study in the psychopathology of sexual jealousy”.

Eponim sindrom Othello terinspirasi dari naskah drama tragis tahun 1603 karya William Shakespeare. Selain Shakespeare, banyak juga sastrawan dan penulis ternama yang melukiskan pengalaman dan perilaku emosional seseorang yang cemburu melalui maha karya mereka.

Sebutlah mulai dari Boccaccio dalam “The Decameron”, Burton melalui “Anatomy of Melancholy”, de Maupassant dengan “One Evening”, dan Tolstoy melalui karyanya “The Kreutzer Sonata”.

Pada akhir abad ke-19, von Krafft-Ebing berhasil menemukan asosiasi sindrom Othello dan adiksi alkohol. Ia mendeskripsikan sindrom ini sebagai patognomonik alkoholisme. Tahun 1906 Alois Alzheimer mengungkapkan kasus Auguste Deter yang terkait dengan penyebab terserang demensia. Pasien merasa sangat cemburu kepada suaminya, memburuknya memori secara cepat, dan gangguan psikososial.

Fenomena sindrom ini pada demensia diinvestigasi pertama kali secara komprehensif tahun 1997. Sindrom ini dijumpai di berbagai tipe demensia degeneratif dan non-degeneratif.

Tuduhan perselingkuhan atau ketidaksetiaan berkembang secara paralel seiring dengan deteriorasi fungsi kognitif. Di tahap awal penyakit, gejala lebih sering muncul di malam hari. Seiring berlalunya waktu, tuduhan itu menjelma konstan.

Dalam terminologi medis, sindrom Othello bersinonim dengan cemburu patologis, cemburu psikotik, sindrom cemburu erotis (erotic jealousy syndrome), conjugal paranoia, delusion of infidelity, delusional jealousy, morbid jealousy, pathological jealousy, sexual jealousy.

Epidemiologi

Prevalensi sindrom Othello dilaporkan 1,1 persen pada pasien rawat inap psikiatri dan 7 persen pasien dengan gangguan mental neurobiologis. Onset usia rata-rata sindrom ini adalah 68 tahun, dengan rentang usia antara 25-94 tahun.

Sekitar 61,9 persen penderita sindrom Othello adalah kaum pria. Studi lain menemukan bahwa perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan pria pada kelompok pasien psikiatris dengan sindrom ini.

Soyka dkk (1991) menemukan rasio jenis kelamin sama di usia tertentu. Berbagai referensi menyebutkan bahwa sebagian besar kaum Adam tersangkut kasus pembunuhan karena tragedi cemburu. Hal ini bukan berarti pria lebih cemburu dibandingkan perempuan.

Kecemburuan patologis merupakan kondisi berbahaya pada pria. Kemungkinan inilah sebab mengapa para psikiater lebih memperhatikan para pria yang cemburu. Perilaku mereka lebih sering terlibat kasus pembunuhan dan bunuh diri.

Universalitas kecemburuan seksual pria dan probabilitas perannya di berbagai tragedi pembunuhan telah terungkap di beragam studi lintas budaya.

Potret klinis

Penderita sindrom Othello menunjukkan perubahan mental yang nyata, misalnya agresi berlebihan, sikap permusuhan, dan mudah tersinggung.

Para penderita sindrom ini dapat mengumpulkan bukti berbasis kejadian atau peristiwa secara acak, merekam percakapan, screenshoot media sosial di gawai, barang-barang atau perabotan rumah tangga yang salah tempat untuk mendukung kecurigaan mereka.

Perspektif forensik sindrom ini juga telah dijelaskan di beragam referensi, yakni kecemburuan delusional yang merupakan faktor risiko terjadinya kekerasan, pembunuhan, dan tindakan kriminal lainnya. Sekitar 20 persen individu dengan sindrom Othello telah melakukan percobaan bunuh diri.

Terdapat perubahan personaliti dan perilaku yang signifikan pada penderita sindrom Othello. Jelaslah bahwa penderita sindrom ini berpotensi membahayakan diri mereka sendiri.

Penyebab

Sindrom Othello (SO) dipertimbangkan sebagai salah satu manifestasi dari sindrom disregulasi dopamin.

Delusi sebagai gejala utama sindrom Othello terkait erat dengan gangguan fungsi (disfungsi) otak di bagian lobus frontal, terutama lobus frontal kanan.

Riset lain menunjukkan lesi di lobus frontal kiri dan thalamus berkorelasi dengan kejadian sindrom Othello.

Pemeriksaan penunjang melalui studi pencitraan dengan Voxel-based morphometry (VBM), tampak bahwa pelbagai kasus neurodegeneratif dengan sindrom Othello menunjukkan hilangnya materi abu-abu (grey matter) yang signifikan di otak bagian lobus frontal dorsolateral.

Analisis Magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan gambaran T1-weighted volumetric setelah onset sindrom ini.

Komorbiditas

Sindrom Othello umumnya terkait erat dengan gangguan sistem persarafan, neurodegeneratif (penuaan terkait sistem saraf), serta kejiwaan, berupa gangguan psikotik fungsional.

Laporan klinis berhasil mengungkap asosiasi kondisi morbid ini baik pada psikosis organik maupun fungsional, seperti skizofrenia paranoid atau gangguan mood dengan karakteristik psikosis.

Beberapa penyakit yang merupakan komorbid dari sindrom Othello antara lain skizofrenia, demensia, neurosis, stroke, trauma otak, tumor otak, hidrosefalus normotensif, infark serebrovaskuler, hipertiroidisme, multipel sklerosis, ensefalitis, hidrosefalus tekanan normal, gangguan endokrin, gangguan personaliti dan afektif, dan obat-obatan tertentu.

Beberapa penderita sindrom Othello dijumpai pada pasien dengan penyakit Parkinson. Hingga 25 persen pasien penyakit Parkinson menderita delusi dan halusinasi. Sindrom ini juga sering dijumpai pada pria alkoholik yang kronis.

Penanganan

Intervensi farmakologis dan terapi perilaku dialektikal merupakan opsi pilihan untuk mengatasi cemburu patologis. Di rumah sakit, keselamatan pasien diutamakan, intervensi kolaboratif dan komprehensif direkomendasikan sebagai tata laksana.

Prinsip prosedur terapeutik secara umum di semua pasien adalah reduksi dosis dopamin agonis. Dokter akan memberikan pramipexole 4,4 mg setiap harinya bila penderita sindrom ini ai merasakan delusi.

Pilihan medikamentosa lain yang diberikan hanya dengan resep dokter, antara lain terapi dopaminergik dengan apomorfin, ropinirole, kombinasi Levodopa atau Carbidopa. Tata laksana lainnya sebagai tambahan terhadap apomorfin adalah kombinasi dari Levodopa, Carbidopa, atau Entacapone.

Obat-obatan golongan neuroleptik, pimozide, secara historis direkomendasikan untuk mengatasi sindrom Othello. Pada pasien neuroleptik atipikal, maka dokter boleh merekomendasikan clozapine atau quetiapine, sesuai indikasi.

Antipsikotik digunakan untuk terapi delusi pada gangguan neurodegeneratif dengan beragam tingkat kesuksesan. Medikasi ini tidak berhasil memperbaiki delusi pada demensia vaskuler. Studi review sistematik menunjukkan bahwa olanzapine dan risperidone merupakan antipsikotik atipikal yang paling sering diresepkan dokter.

Tiapride direkomendasikan oleh Mukai (2003) sebagai obat pilihan pada lansia dengan sindrom Othello dan semua tipe gangguan monodelusional pada lansia.

Prognosis sindrom ini gantung kepada fenomenologi dan patofisiologi yang mendasari terjadinya penyakit, eksistensi gangguan mental komorbid, dan respons terhadap terapi.

Dengan penanganan paripurna dan komprehensif, maka sindrom ini era teratasi, dan penderita dapat segera produktif.

 

(Agung/ANT)

Artikel Lainnya

KONI Jabar Distribusikan Perlengkapan Pencegahan Covid-19

BANDUNG,FOKUSJabar.id: KONI Jabar distribusikan bantuan perlengkapan pencegahan Covid-19 dari...

Mengenal Tanaman Janda Bolong, yang Harganya Fantastis

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Tanaman Janda Bolong atau dalam bahasa latin Monstera Adansonii Variegata semakin diminati belakangan ini, bahkan harga jual untuk tanaman ini menembus angka...

Tahun 1960-an Sarang Siluman Ular di Ciamis Kerap Dikunjungi Penggila Nomor Undian

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Tahun 1960-an pemerintah melegalkan perjudian berupa Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Undian berhadiah tersebut dibentuk untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan sosial. Saat itu, konon tempat bersemayamnya...

Tangani Corona, Indonesia Habiskan Anggaran Hampir Rp800 Trilyun

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Indonesia tercatat telah menghabiskan anggaran sekitar Rp800 trilyun untuk menangani virus corona (covid-19), Selasa (29/9/2020). Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Instasi Pemerintah Bidang...

Klaster Covid-19 dari Keluarga Meningkat, Oded: Tingkatkan Kewaspadaan

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung mengimbau warga terutama anggota keluarga untuk waspada terhadap Covid-19. Pasalnya, di Kota Bandung telah terjadi klaster...

Tak Ada Laga Uji Coba, Persib Gelar Game Internal

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pelatih Persib Bandung Robert Rene Alberts, memastikan tidak akan ada pertandingan uji coba pada akhir pekan ini. Meski tidak ada laga uji coba, namun...

Bank bjb Dukung Pemberdayaan Petani di KBB

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Bank bjb memberikan dukungan terhadap langkah pemberdayaan petani di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Provinsi Jawa Barat. Program pemberdayaan petani ini terlaksana berkat kerjasama Pemerintah...