spot_imgspot_img
Rabu 29 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pengamat Politik UPI Sebut Pembangunan “Dilan Corner” Berlebihan

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pengamat Politik dari UPI Karim Suryadi menilai pembangunan ‘Dilan Corner’ yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Emil) di area Gor Saparua, Kota Bandung berlebihan dan tidak ada korelasi dengan budaya Jawa Barat.

“Saya nggak mengerti kebijakan apa ‎bangun Pojok Dilan itu. Saya tidak menemukan alasan, menemukan momentum mengapa harus dibangun Pojok Dilan itu,” tegas Karim Suryadi, Selasa (26/2/2019).

Untuk diketahui, peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Dilan Corner sudah dilakukan pada Minggu (24/2) lalu. Emil bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya dan para pemain film Dilan 1991 secara simbolis meresmikan pembangunan Dilan Corner di area Gor Saparua, Kota Bandung.

Karim Suryadi mengaku tidak paham pesan yang ingin disampaikan Emil dengan membangun ‘monumen’ tersebut. Tidak bermaksud merendahkan film Dilan, tapi dia tidak melihat korelasi cerita film itu dengan kontek Jawa Barat.

“Setahu saya, Dilan itu isi ceritanya hanya pertemanan remaja biasa. Apakah secara kasat mata pesannya itu menghentikan Dilan sebagai ketua geng motor atau apa?. Tapi menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai dibangun Pojok Dilan,” kata dia.

Dia menyarankan Emil lebih bijak dalam mengambil keputusan. Apalagi, kata dia, sebagai pejabat publik Emil harus bisa memilih kebijakan yang benar-benar berdampak positif untuk kemajuan Jawa Barat ke depan.

“Seharusnya sebagai pejabat publik bisa memilih film yang mengandung pesan-pesan monumental. Sekarang saya tanya hubungan film Dilan dengan Jabar apa? Sebutlah produk literasi, tapi menurut saya tidak sedikit novel jadi film. Menurut saya itu alasan yang mengada-ada,” jelas Karim.

Tidak hanya itu, Karim pun meminta Emil tidak mengeluarkan kebijakan yang kontra produktif dengan pembangunan Jabar. Pihaknya lebih mendukung agar Emil menyiapkan program yang melibatkan generasi muda dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

“Alih-alih jadi bintang film, bangun Pojok Dilan, lebih baik menyiapkan program yang melibatkan anak-anak muda. Apa garapan mereka dalam 15-20 tahun ke depan untuk menghadapi perubahan. Sudah cukup terlalu main-main bersolek taman kayak gitu. Dia sekarang sudah jadi gubernur. (Pembuatan Dilan Corner) terlalu mengada-ada,” kata dia.

Senada dengan Karim, pengamat kebijakan publik Unpar Asep Warlan pun mengaku heran dengan keputusan Emil dalam pembuatan Dilan Corner. Padahal menurut dia, ada tokoh lain yang lebih layak dibuatkan monumen semacam itu, ketimbang sosok fiktif seperti Dilan.

“Bagi saya agak aneh kenapa mesti Dilan. Padahal ada tokoh-tokoh lain, tokoh sejarah, tokoh olahraga, itu kan banyak, tidak sekedar tokoh fiktif,” tegas Asep.

Asep juga tidak melihat makna yang coba disampaikan oleh Gubernur dalam pembuatan Dilan Corner. Dia mempertanyakan apa manfaat besar yang timbul dari pembangunan ‘monumen’ itu.

“Karena penamaan sebuah bangunan, tempat itu ada tiga hal. Pertama karena mendapat pengakuan, manfaat dan pertalian sejarah hari ini dan ke depan. Nah ini ketiganya menurut saya lemah. Manfaat juga apa dan apa hubungan dengan sejarah. Jadi menurut saya agak lebay,” ucapnya.

(LIN)

spot_img

Berita Terbaru