PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebuah toko kelontong mungil bercat merah muda di Jalan Stasiun, Dusun Karangsalam, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, menjadi saksi bisu perjalanan hidup Ismantoro (76). Pria lanjut usia (lansia) yang merupakan pensiunan pegawai Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tersebut kini mengisi hari tuanya dengan menjaga deretan sepatu yang tertata rapi di atas etalase kaca.
Ismantoro sesekali membenarkan posisi alas kaki dagangannya, lalu kembali duduk tenang sembari memperhatikan suasana jalanan kampung yang kontras dari hiruk-pikuk kawasan wisata pantai. Lokasi usahanya memang melesat jauh dari zona keramaian turis, tepat bertumpu di depan bangunan bekas Stasiun Kereta Api Pangandaran yang kini telah beralih rupa menjadi area permukiman padat dan warung makan kecil.
Baca Juga: Rawan Megathrust dan Tsunami, Pantai Pangandaran Ternyata Masih Kekurangan Sirine
Kendati sepi dari jangkauan pelancong, Ismantoro justru memeluk erat kondisi tersebut. Bagi pria berlogat Betawi kental ini, sudut sepi tatar Galuh pesisir justru menyuguhkan satu hal berharga yang ia cari sepanjang hidup: ketenangan batin.
Memori masa mudanya masih merekam jelas dinamika bekerja sebagai abdi negara di ibu kota, terutama saat ia bertugas di lantai tiga asuhan Gubernur legendaris, Ali Sadikin.
“Kami bekerja penuh disiplin saat zaman Gubernur Ali Sadikin. Saya masih ingat betul memori masa muda di kantor lantai tiga itu,” kenang Ismantoro, Senin (15/6/2026).
Capek Sumpeknya Jakarta, Ismantoro Rela Pakai Uang Pensiun Demi Putar Modal Sandal
Meskipun Ismantoro baru resmi mengantongi kartu tanda penduduk (KTP) Pangandaran pada tahun 2019, hasrat untuk bermigrasi ke wilayah selatan Jawa Barat ini sejatinya sudah tertanam sejak lama. Sang istri bahkan telah menetap mendahuluinya di Pangandaran sejak tahun 1987, kala Ismantoro masih harus merampungkan masa kedinasan di Jakarta. Begitu lonceng pensiun berbunyi, ia langsung mengemas barang untuk menyusul sang istri.
“Saat usia sudah menginjak tua, saya hanya ingin mencari ketenangan hidup. Kami sudah terlanjur capek memeras energi di Jakarta yang kondisinya kian sumpek dan padat,” lirihnya.
Guna mengusir kejenuhan sekaligus menyambung urat nadi kebutuhan harian, Ismantoro nekat mendirikan usaha mikro penjualan alas kaki. Ia memajang rupa-rupa model sepatu kasual hingga sandal murah meriah untuk memenuhi rak-rak kayu di toko mininya.
Ia setia membuka pintu toko mulai pukul 09.00 pagi hingga menutupnya kembali pukul 21.00 malam. Selama durasi 12 jam berjaga tersebut, pembeli tidak selalu datang mengetuk pintu. Saat ruko sedang lengang, Ismantoro memilih bercengkrama bersama tetangga sekitar atau sekadar menikmati ritme aktivitas warga yang mendiami bekas jalur rel kereta api.
Nominal Laba Kecil yang Tetap Disyukuri
Margin keuntungan dari hasil penjualan alas kaki tersebut terhitung sangat tipis. Ismantoro kerap hanya mengantongi laba bersih senilai seribu hingga dua ribu rupiah dari sepasang sepatu yang berpindah tangan. Namun, angka nominal yang kecil itu sama sekali tidak mengusik rasa syukurnya.
“Kami tetap bersyukur walau jualan ini ibaratnya cuma menghasilkan untung seribu atau dua ribu rupiah saja. Angka itu tidak apa-apa, yang paling utama adalah hidup tenang. Kalau ambisi saya melulu mencari uang besar, tentu saya lebih baik bertahan di Jakarta. Dalam keadaan berumur seperti sekarang, saya hanya berdoa semoga semua orang sehat,” tuturnya.
Demi menjaga ketersediaan barang hiasan raknya, Ismantoro bahkan masih kuat melakoni perjalanan luar kota menuju Pasar Anyar Bogor untuk kulakan stok sepatu baru. Ia konsisten memijat urat kakinya yang senja untuk menempuh perjalanan jauh tersebut. Sering kali, Ismantoro terpaksa merogoh kantong uang pensiun bulanan sebagai tambahan modal belanja, lantaran omzet harian toko belum mampu memutar roda usaha secara mandiri.
Potret Kemandirian di Tengah Ribuan Lansia Telantar Kabupaten Pangandaran
Di tengah impitan ekonomi nasional yang kian mencekik, khususnya bagi kelompok lanjut usia yang rawan terjebak kemiskinan, Ismantoro memberikan teladan nyata tentang cara bertahan hidup secara terhormat. Ia mengubur dalam-dalam ambisi ekspansi bisnis kapitalis atau memindahkan lapak ke titik strategis pariwisata. Bagi dirinya, ruko merah muda di pinggiran rel sudah lebih dari cukup untuk menemani sisa usia.
Langkah tegap Ismantoro ini sekaligus menjadi tamparan positif bagi potret sosial daerah. Merujuk data resmi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pangandaran, grafik kemiskinan dan ketelantaran pada kelompok usia senja di wilayah ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang menumpuk.
Pada usia yang hampir menyentuh delapan dekade, Ismantoro tidak lagi memedulikan kemewahan duniawi. Dari balik etalase kaca depan bekas stasiun itu, ia mengajari publik sebuah pesan mendalam.
“Kebahagiaan sejati lahir dari keputusan hidup bersahaja tetap bekerja, tetap bergerak, dan tiada henti memanjatkan syukur,” punkgasnya.
(Sajidin)



