BANDUNG, FOKUSJabar.id: Di balik dapur sederhana Desa Padasuka Kecamatan Sumedang Utara, ada potensi besar yang sedang di hidupkan oleh 10 perempuan. Lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Jamur Tiram, mereka tak hanya menanam jamur. Tetapi merintis jalan menjadi wirausaha sosial (Sociopreneur) yang bisa jadi tumpuan ekonomi keluarga.
KWT Jamur Tiram ini di gagas anggota PKK usia 30-60 tahun sejak beberapa tahun lalu. Awalnya sederhana, tapi ambisinya mengubah kelompok tani jadi sentra pangan desa mandiri sangat besar.
BACA JUGA:
Atasi Krisis Sampah, Pemkot Bandung Gandeng Danantara dan Kemenristek
Namun di tengah semangat itu, ada tiga ganjalan besar berdasarkan hasil pemetaan sosial tim Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) pada 14 Agustus 2025.
Pertama adalah proses produksi masih manual, seperti membuat baglog yang membutuhkan tenaga berat, waktu yang lama hingga biaya tinggi.
Kemudian plastik bekas baglog menumpuk dan menjadi sampah yang mencemari desa. Adapun persolan lainnya yakni pasar yang hanya terbatas di lingkungan desa.
“Semangat ibu-ibu sempat luntur karena bebannya terlalu berat. Padahal potensinya luar biasa,” kata Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat UKRI, Didin Sabarudin.
Mesin Hemat Listrik Khusus Perempuan
Untuk memutus rantai masalah tersebut, tim UKRI mengajukan solusi. Salah satunya teknologi tepat guna yang cocok untuk kebutuhan desa.
Ada dua alat utama yang di rancang. Yakni, Smart Boiler Biomassa IoT untuk sterilisasi baglog dan Chopper Jerami dengan Soft-start Inverter VFD untuk mencacah media tanam.
Keduanya di desain hemat energi. Sehingga bisa di operasikan dengan daya listrik kebanyakan di desa (900 VA).
“Terpenting ergonomis, ramah untuk operator perempuan. Konsepnya di sebut Women Friendly Technology,” kata dia.
Dengan teknologi tersebut, kerja fisik bisa di kurangi, biaya produksi bisa di tekan hingga meminimalisasi sampah plastik baglog.
BACA JUGA:
Bandung Kekurangan 36 Ribu APJ, Pemkot Gandeng Investor untuk Tambah Penerangan
Tidak hanya teknologi, KWT juga akan di bekali strategi pemasaran digital. Tim UKRI akan menerapkan konsep Integrated Marketing Communication (IMC). Mulai dari branding, kemasan hingga menjual produk di media sosial. Sehingga pasar akan lebih luas dan tidak lagi bergantung pada pembeli di desa.
Langkah tersebut sejalan dengan perkembangan zaman. Di mana media bukan hanya alat sosial dan politik, tetapi juga sebagai mesin ekonomi.
“Ini bukan sekadar bantu produksi. Tapi membangun kemandirian sosial, menaikkan pendapatan perempuan dan menurunkan pengangguran di desa,” kata dia.
Ajukan Proposal ke Kemendiktisaintek
Seluruh rencana tersebut sudah di tuangkan tim UKRI dalam proposal PKM bertajuk “Pemberdayaan Sociopreneur Wanita Desa Padasuka Melalui Hilirisasi Teknologi Produksi Jamur Ramah Lingkungan dan Strategi Komunikasi Pemasaran Terintegrasi.”
Proposal ini di ajukan ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat 2025.
Adapun tim UKRI yang terlibat, Didin Sabrudin (Ketua), Ahli Energi Biomassa Win Hendrawan dan Ahli Mekanika Manufaktur Raden Lutfi.
Mereka juga di bantu lima mahasiwa dari Ilmu Komunikasi, Teknik Mesin dan Teknik Industri. Proyek tersebut akan mulai di jalankan tahun 2026 setelah mendapat persetujuan.
Apa itu Sociopreneur?
Untuk di ketahui, Sociopreneur adalah wirausaha yang lahir dari kepedulian sosial. Model ini di yakini bisa menyelesaikan masalah di lingkungan.
Seperti di katakan Mair dkk dalam buku Social Entrepreneurship 2006, sociopreneur penting karena mampu merespon perubahan sosial dan ekonomi secara strategis.
Di Padasuka, jawaban ini di mulai dari 10 perempuan. Sekarung baglog jamur dan satu mesin hemat listrik.
(LIN)



