BANDUNG, FOKUSJabar.id: Ketua Komite Pariwisata, Warisan dan Budaya Negara Datuk Muhammad Jailani mengatakan, dirinya bersama rombongan datang ke Kota Bandung untuk promosi wisata.
“Ini khusus dalam rangka mengembangkan (promosi) Malaka ke Kota Bandung,” kata M Jailani di Gedung Kreatif Hub, Kota Bandung, Selasa (15/1/2019).
Pihaknya berencana memulai kerjasama di bidang wisata famili, wisata pengajian, hingga wisata Islami.
Dia mengaku sangat tertarik dengan Bandung, terlebih kemandirian masyarakatnya. Begitupun dengan wisata alam Bandung.
“Kami banyak peluang wisata alam di Malaka, tapi masih berada di belakang dibanding Indonesia, karena kita terlalu konsen di kota-kota,” jelas dia.
Adapun wisatawan yang datang ke Malaka, yakni Singapura, Cina, Jepang dan Indonesia. Wisatawan Indonesia ke Malaka sekitar 2 juta orang per tahun.
” Tahun depan kita targetkan 20 juta turis dan 3 juta wisatawan dari Indonesia,” ungkap dia.
Kaitannya dengan gempa yang kerap terjadi di Indonesia, Jailani menyebut ada sedikit pengaruh. Banyak warga memilih di daerah sendiri.
“Kami doakan Kota Bandung ini tidak ada gempa. Kita ke Bandung ini bukan tanpa alasan, kami ingin membangun kerjasama yang baik dibl bidang pariwisata,” kata dia.
Untuk diketahui, Malaka, Malaysia memiliki 576 destinasi wisata dengan 26 museum. Adapun elemen yang ditekankan di kepariwisataan Malaka, yakni hemat, berkualitas dan bahagia.
Sementara itu, Kabid Promosi dan Pemasaran Disbudpar Kota Bandung Aswin Sulaiman mengaku, kunjungan rombongan dari Malaka, Malaysia ini adalah kunjungan seperti sebelumnya.
“Mereka ingin berinteraksi dengan Kota Bandung, tetapi bukan melalui Pemerintah Kota,” kata Aswin.
Kaitannya dengan kerjasama, Aswin menegaskan bahwa untuk ke ranah tersebut harus ada G to G.
“Harus melalui Kementrian Luar Negeri, termasuk Kemenpar. Tetapi memang harua dimulai dari grass root (dari bawah),” kata Aswin.
Untuk diketahui, wisatawan dari Malaysia ke Bandung mencapai 13-16 ribu per tahun. Jumlah itu berdasarkan data yang mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.
” Yang melalui darat dan lainnya tidak terhitung. Mereka biasanya ke Pasar Baru, tempat makan, kawasan wisata alam,” jelas dia.
(LIN)


