spot_imgspot_img
Rabu 28 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Masjid Bersejarah di Tasikmalaya Ini Pernah Jadi Markas Gerilya Gubernur Sewaka, Kini Butuh Perhatian

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kampung Cisurupan, Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah menyimpan sebuah riwayat penting dari masa perang kemerdekaan Indonesia. Dusun terpencil di pelosok Kabupaten Tasikmalaya ini menjadi saksi perjuangan rakyat bersama para pemimpin bangsa, khususnya tokoh Jawa Barat.

Di dusun ini berdiri Masjid An Nur Sewaka. Tempat ibadah ini tidak sekadar menjadi pusat kegiatan spiritual warga lokal, tetapi pernah berfungsi sebagai markas gerilya Gubernur Jawa Barat periode 1947–1948 dan 1950–1951, Raden Mas Sewaka.

Baca Juga: Jalan Sehat dan Gerakan Pangan Murah Warnai HUT Kota Tasikmalaya di Cibeureum

Sayangnya, bangunan yang menyimpan nilai sejarah amat tinggi ini kini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Di tengah gempuran zaman dan posisi geografis yang terisolasi, tempat ibadah bersejarah ini belum pernah menyentuh bantuan pemerintah.

Mengenang Perjuangan dan Gotong Royong Rakyat

Pada rentang tahun 1947, ketika tekanan militer Belanda makin memuncak akibat Agresi Militer I, Gubernur Sewaka memindahkan pusat aktivitasnya ke pedalaman. Beliau memilih Kampung Cisurupan, kawasan selatan Tasikmalaya yang sukar dijangkau musuh.

Selama berbulan-bulan mengungsi, Gubernur Sewaka menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat. Masjid An Nur bukan hanya menjadi tempat salat berjamaah, melainkan juga pusat perancangan strategi pertahanan dan konsolidasi perjuangan.

Gubernur Sewaka bahkan terlibat langsung dalam pembangunan fisik tempat ibadah tersebut bersama masyarakat desa.

“Dari cerita almarhum ayah saya, Pak Gubernur Sewaka dulu tidak cuma salat berjamaah di sini, tapi beliau ikut gotong royong memperbaiki bangunan masjid bersama warga,” kata Ruhiyat, putra almarhum Kodin yang mendampingi pengungsian Gubernur Sewaka, Rabu (28/10/2026).

Namun, bangunan yang pernah menerima perawatan langsung dari Gubernur Jawa Barat tersebut kini justru lepas dari perhatian pemerintah daerah maupun Pemprov Jawa Barat.

Upaya “Beak Dengkak” Warga yang Berujung Kekecewaan

Masyarakat Kampung Cisurupan tidak tinggal diam melihat kondisi tempat ibadah bersejarah mereka. Warga melancarkan berbagai upaya—atau beak dengkak dalam istilah bahasa Sunda—demi memperjuangkan bantuan restorasi.

Pengurus masjid melayangkan proposal bantuan ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Pemprov Jawa Barat, hingga anggota DPRD. Namun, serangkaian permohonan tersebut hanya membuahkan janji manis tanpa kejelasan.

“Kami sudah mencoba segala cara. Dulu sempat ada anggota dewan yang datang membawa janji manis. Bahkan prosesnya sudah sampai penandatanganan berkas pencairan dan warga sudah diikutkan bimbingan teknis. Namun, apa daya? Sampai detik ini uangnya tidak pernah cair,” tutur Ruhiyat.

Kekecewaan senada meluncur dari Fathudin, warga setempat. Ia menyoroti janji manis pengawalan perbaikan yang kerap muncul menjelang momentum politik, lalu menguap begitu saja.

“Jujur, kami di sini sudah bosan. Sering sekali ada orang mengaku utusan atau wakil rakyat yang datang dan berjanji akan mengawal perbaikan Masjid An Nur Sewaka. Tapi pada kenyataannya, semuanya cuma harapan hampa,” tegas Fathudin.

Satu-satunya bantuan fisik yang masuk ke kawasan tersebut hanyalah pembangunan gedung madrasah. Sementara bangunan utama Masjid An Nur Sewaka belum pernah menyentuh alokasi dana APBD kabupaten maupun provinsi.

Akses Terpencil dan Medan Jalan Rusak Parah

Perjuangan merawat warisan sejarah ini makin berat akibat kondisi infrastruktur wilayah yang buruk. Kampung Cisurupan berjarak sekitar 80 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya dengan waktu tempuh mencapai 5 jam perjalanan.

Rute menuju lokasi menuntut perjalanan melintasi jalur selatan Tasikmalaya hingga Desa Padawaras, lalu memotong ke arah Desa Nagrog sejauh 12 kilometer. Rute Kampung Luluk hingga batas Desa Nagrog menyajikan kondisi jalan rusak parah dengan batuan lepas dan sisa aspal yang terkelupas.

Kombinasi lokasi yang terisolasi dan ketiadaan perhatian pemerintah membuat Masjid An Nur Sewaka rentan termakan zaman. Warga berharap para pemangku kebijakan segera mengucurkan perhatian nyata sebelum rekam jejak sejarah Gubernur Sewaka di selatan Tasikmalaya ini benar-benar hilang.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru