PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Penyebaran kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pangandaran saat ini menyerupai fenomena gunung es. Angka kasus terdeteksi yang masuk ke fasilitas kesehatan hanya mewakili sebagian kecil dari realitas kasus di tengah masyarakat.
Dokter Umum Puskesmas Padaherang, dr. Hilda Fauzia Akmal, menyebutkan bahwa sebagian besar penderita baru mendatangi fasilitas kesehatan setelah penyakit merusak daya tahan tubuh mereka.
Baca Juga: Krisis Air di SMKN 1 Padaherang Pangandarna, 1.700 Siswa Antre di Toilet
“Penemuan kasus HIV/AIDS itu seperti fenomena gunung es. Banyak orang yang baru tes dikala kondisi kesehatannya semakin parah,” kata Hilda kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Penderita Melewati Stadium Awal Tanpa Gejala
Perkembangan HIV mencakup empat tingkatan stadium. Pada tingkat pertama, tubuh penderita belum menunjukkan reaksi atau keluhan medis sama sekali, sehingga mereka mengabaikan potensi infeksi tersebut.
“Jadi yang pertama datang ke kita itu biasanya yang sudah ada keluhan. Karena stadium HIV kan ada empat, biasanya kalau tingkat pertama belum terasa, belum ada keluhan,” ujarnya.
Puskesmas Padaherang mendapati rata-rata pasien baru memeriksakan diri saat menginjak stadium dua. Hasil penelusuran tim medis selalu menemukan riwayat aktivitas yang memicu faktor risiko penularan.
“Ternyata setelah digali-gali ada faktor risikonya. Itu yang datang ke kita itu mungkin sepersekian saja, dari yang sebetulnya ada di lapangan,” ucapnya.
Puskesmas Padaherang Sediakan Layanan Khusus ODHIV
Kini Puskesmas Padaherang memegang status sebagai fasilitas Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mendampingi serta memantau penanganan pasien secara berkala.
“Dari provinsi juga sering ada monev. Jadi alhamdulillah semakin tergali untuk penanganannya,” kata Hilda.
Tenaga medis puskesmas akan merujuk pasien berstatus stadium empat atau dalam kondisi kritis ke RSUD Pandega Pangandaran. Setelah tim rumah sakit berhasil menstabilkan kondisi fisik pasien, puskesmas akan mengambil alih kembali perawatan rutin tersebut.
“Jadi kita tinggal rujuk ke Pandega saja untuk menstabilkan keadaannya. Nanti kalau sudah bagus stadiumnya, sudah membaik nanti balik lagi ke sini,” jelasnya.
Anak Usia Sekolah Ikut Terinfeksi
Puskesmas Padaherang saat ini memberikan pengobatan berkala kepada 17 pasien ODHIV. Selain menyasar kelompok usia produktif rentang 20 hingga 50 tahun, infeksi virus ini juga menyerang warga usia sekolah.
“Setelah didiagnosa mereka dikasih obat dan pendampingan. Obatnya di-cover BPJS. Kita juga sosialisasi bahaya penularan HIV ke sekolah-sekolah,” pungkasnya.
Stigma negatif masyarakat serta ketakutan diskriminasi sosial menjadi tembok penghambat utama dalam mendeteksi kasus HIV lebih awal. Padahal, pemeriksaan dini memperbesar peluang keberhasilan terapi medis sekaligus menekan risiko penularan ke orang lain.
(Sajidin)



