spot_imgspot_img
Rabu 7 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Krisis Air di SMKN 1 Padaherang Pangandarna, 1.700 Siswa Antre di Toilet

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Kemarau panjang yang menerjang Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini mulai melumpuhkan sektor pendidikan. SMKN 1 Padaherang yang menampung sekitar 1.700 siswa menghadapi krisis pasokan air bersih akibat nihilnya curah hujan di wilayah tersebut.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMKN 1 Padaherang, Teguh, menjelaskan bahwa sekolah sebenarnya mengoperasikan enam titik sumur. Namun, menyusutnya debit air membuat sebagian besar sumber air meluas kekeringannya.

Baca Juga: Tongkat Komando Kodim 0625/Pangandaran Berganti, Letkol Inf Eko Novandy Saputro Resmi Jadi Dandim

“Ada beberapa titik yang mulai mengering, ada juga yang alhamdulillah masih ada airnya,” kata Teguh, Rabu (7/10/2026).

Rekayasa Instalasi dan Sistem Distribusi Air Bersih

Penyusutan sumber air memaksa tim sarana dan prasarana sekolah memutar otak. Kekeringan membuat sejumlah toren penampung air kehilangan pasokan, sehingga pengelola sekolah harus merombak ulang jalur distribusi air.

“Kami dari tim sarpras bagaimana caranya dengan kondisi sumber yang terbatas bisa menyuplai seluruh saluran air yang ada. Tentu tidak merata, sehingga harus ada instalasi ulang,” ujarnya.

Saat ini sekolah mengandalkan tiga titik sumur yang masih bertahan, yaitu area depan dekat masjid, belakang kantin, serta area belakang sekolah. Pengelola menyalurkan air dari titik-titik ini secara bergiliran ke fasilitas utama sekolah.

Siswa Mengeluhkan Antrean Toilet dan Trik Pembagian Jurusan

Keterbatasan air bersih paling memukul kenyamanan siswa saat menggunakan fasilitas MCK. Penyumbatan pasokan air di beberapa toilet memicu antrean panjang para siswa.

“Otomatis banyak siswa yang mengeluh harus antre di WC karena WC yang ada airnya terbatas,” kata Teguh.

Guna memecah penumpukan barisan, pengelola sekolah menerapkan skema pembagian toilet berdasarkan program keahlian siswa.

“Kami mempunyai trik. Kami labeli siswa sesuai dengan jurusannya. Misalkan jurusan TKJ di sebelah sana, WC di sana diperuntukkan khusus untuk jurusan TKJ. Jadi mengantisipasi penumpukan,” kata dia.

Imbauan Wudu dari Rumah untuk Kegitan Keagamaan

Selain untuk kebersihan sanitasi, aktivitas sekolah membutuhkan pasokan air untuk area perkantoran, tempat wudu, hingga kegiatan praktik bengkel kendaraan.

Guna menghemat penggunaan air pada kegiatan salat duha berjamaah setiap Jumat pagi, pengelola sekolah meminta para siswa mempersiapkan wudu sejak dari rumah.

“Untuk salat duha masih berjalan. Kami sarankan dari rumah sudah wudu, karena pagi jadi berangkat sudah siap untuk salat berjamaah,” ucapnya.

Keterbatasan Akses Tangki Air Bantuan

Pemerintah setempat melalui pihak kecamatan sebenarnya pernah mengirimkan bantuan tangki air bersih. Namun, sempitnya jalur sekolah membuat truk tangki hanya bisa menjangkau dan mengisi satu toren di bagian depan.

“Kendala karena penyebaran torennya tidak bisa masuk truk, jadi hanya bagian depan yang diisi. Tapi karena bantuannya sedikit, satu-dua hari sudah habis,” ujarnya.

Pihak sekolah kini memantau ketat ketersediaan air cadangan sebelum mengajukan permohonan pasokan armada tambahan jika kemarau terus berlanjut.

“Kami masih ada sumber air. Entah nanti kalau betul-betul kering. Karena di daerah sekitar sini juga sudah kering, beberapa rumah tangga harus ngangsuk,” kata Teguh.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru