TERNATE, FOKUSJabar.id: Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (Mas Dar) mengatakan, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menghadapi berbagai persoalan.
Menurutnya, program MBG pada dasarnya merupakan program yang baik. Namun pelaksanaannya di lapangan masih perlu di perbaiki. Terutama dari sisi tata kelola dan standar operasional.
BACA JUGA:
Mendiktisaintek Ungkap Persiapan Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi
“Apakah MBG sudah bagus? Programnya bagus, pelaksanaannya bermasalah? Kalau tidak bermasalah, saya tidak jadi Ketua BGN. Tinggal saya mampu apa tidak,” ujar Sudaryono di kutip tribunternate.com, Rabu (23/9/2026).
Mas Dar menegaskan, berbagai persoalan dalam pelaksanaan program MBG tidak akan di tutup-tutupi. Pihaknya, saat ini fokus melakukan perbaikan tata kelola agar program tersebut dapat berjalan sesuai ketentuan.
“Kami tidak menutup mata bahwa ada persoalan. Tapi kita perbaiki tata kelola. Yang salah kita tutup dapurnya,” ungkap Mas Dar.
Menurutnya, SPPG yang tidak memenuhi standar kebersihan dan higienitas akan di tutup.
Ia juga menyinggung kondisi dapur yang di nilai tidak layak. Termasuk persoalan kebersihan lingkungan sekitar SPPG.
“Yang dapurnya ada sarang burung walet di atasnya, kita tutup. Yang tidak ada standar higienis kita tutup. Kepala dapur yang bermasalah kita pecat,” katanya.
Sudaryono juga menyinggung posisi kepala dapur MBG yang menurutnya merupakan tanggung jawab besar. Ia mengingatkan para pengelola dapur agar menjalankan tugas dengan serius.
Ia bahkan membandingkan posisi tersebut dengan perjuangan para pekerja honorer yang bertahun-tahun menunggu kesempatan untuk di angkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
BACA JUGA:
Dirjen Bea Cukai Dipanggil Prabowo ke Istana, Ini yang Dibahas
“Jangan kau kira tempat dudukmu, posisimu, pekerjaanmu tidak di impikan oleh jutaan orang yang lain. Maka, pergunakanlah posisimu. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya,” pesan Bos BGN.
Sudaryono juga menyinggung keluhan sejumlah pengelola atau pekerja MBG yang di sampaikan melalui media sosial. Ia meminta persoalan internal pekerjaan tidak sembarangan di bawa ke ruang publik.
Menurutnya, pekerjaan penyediaan makanan dalam jumlah besar memang menuntut persiapan sejak dini hari agar makanan dapat di sajikan sesuai jadwal.
Mas Dar mencontohkan, jika makanan harus di bagikan pada pagi hari, proses persiapan dan memasak harus di lakukan lebih awal. Terlebih jumlah penerima MBG jauh lebih banyak di bandingkan pelayanan makanan untuk beberapa orang saja.
Sudaryono mengatakan, berbagai persoalan tersebut menjadi tantangan yang harus di hadapi dalam memperbaiki pelaksanaan program MBG.
Di hadapan peserta kegiatan, Sudaryono juga memberikan apresiasi terhadap Maluku Utara dan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos.
Dia menyebut, Maluku Utara yang secara geografis berada jauh dari Jakarta mampu menunjukkan kinerja dan perkembangan yang menurutnya patut di apresiasi.
“Saya yakin, saya mencontoh Bu Sherly. Maluku Utara yang jauh dari Jakarta saja bisa bersinar. Apalagi saya kantornya di Jakarta. Masa saya kalah sama Bu Sherly,” ucapnya.
Sudaryono menegaskan, persoalan dalam pelaksanaan MBG menjadi bagian dari tantangan yang harus di benahi.
Dia menekankan pentingnya tata kelola, kebersihan dapur, kedisiplinan pengelola serta tanggung jawab dalam menjalankan program tersebut.
(Bambang Fouristian)



