BANJAR, FOKUSJabar.id: Sinergi dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan daerah. Hal tersebut terus di bangun Pemerintah Kota Banjar. Salah satunya melalui silaturahmi dan pertukaran gagasan dengan Keluarga Besar Alumni Fakultas Ekonomi Unpad Angkatan 70.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membangun komunikasi dan kebersamaan antara Pemerintah Kota Banjar dengan Keluarga Besar Alumni Fakultas Ekonomi Unpad Angkatan 70.
BACA JUGA:
Rekonstruksi Pembunuhan Pak Ogah di Banjar, Pelaku Peragakan 49 Adegan
Wali Kota Banjar, Sudarsono menegaskan, Pemda terbuka terhadap berbagai saran, masukan dan gagasan konstruktif dari berbagai pihak.
Menurutnya, kolaborasi dengan para alumni yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang ekonomi dapat menjadi energi positif dalam mengoptimalkan potensi daerah.
“Saran dan masukan sangat berharga bagi kami. Mengingat Bapak dan Ibu semua memiliki basic ekonomi yang kuat. Kami sangat memerlukan dukungan dan saran dalam pemberdayaan berbagai potensi pembangunan di Kota Banjar,” kata Sudarsono.
Ia berharap, silaturahmi tersebut tidak berhenti pada pertemuan semata. Tetapi dapat terus berlanjut dalam bentuk komunikasi, berbagi ilmu, informasi serta gagasan yang memberikan manfaat bagi kemajuan Kota Banjar.
“Semoga ke depan kita dapat terus berbagi ilmu dan informasi untuk mendukung pembangunan di Kota Banjar. Dengan kebersamaan dan kolaborasi, mudah-mudahan berbagai potensi yang di miliki dapat kita kembangkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat,” harapnya.
Gaya Kepemimpinan Sudarsono
Gaya kepemimpinan Wali Kota Banjar di nilai memiliki kemiripan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Penilaian itu di sampaikan Suherman Saleh (Uda Herman) salah satu Keluarga Besar Alumni Fakultas Ekonomi Unpad Angkatan 70.
BACA JUGA:
Bantuan 200 Becak Listrik untuk Kota Banjar Senilai Rp4,4 Miliar
Dia menyebut, kesamaan tersebut terlihat dari cara Sudarsono membangun komunikasi dan aktif mencari peluang bagi daerah. Yakni bukan sekadar menunggu program atau bantuan datang.
“Beliau bukan termasuk pemimpin yang menunggu bola. Tapi penjemput bola,” kata Uda Herman.
Menurutnya, pola tersebut mengingatkannya pada Dedi Mulyadi saat masih menjabat Bupati Purwakarta.
Ia mengaku pernah memberikan saran kepada Dedi Mulyadi pada 2008 agar aktif membangun jaringan dengan pemerintah pusat, para menteri, wakil rakyat hingga calon investor untuk kepentingan pembangunan daerah.
“Saya melihat ada benang merah antara yang saya sarankan kepada Pak Bupati Purwakarta tahun 2008. Fan sekarang ke Pak Wali Kota,” ujarnya.
Uda Herman mengaku, awalnya penasaran dengan Kota Banjar setelah sering mendengar Dedi Mulyadi berbicara mengenai daerah tersebut.
Ia menyebut, Dedi beberapa kali datang ke Banjar dan menceritakan perkembangan kota serta kepemimpinan Sudarsono.
“Saya tertarik, apa sih hebatnya Banjar ini sampai Pak Gubernur begitu antusias menyampaikan kehebatan Banjar kepada masyarakat luar. Termasuk kepada saya,” katanya.
Setelah datang langsung ke Banjar, Dia mengaku mendapat gambaran mengenai arah pembangunan yang tengah di dorong Sudarsono.
Salah satu yang menarik perhatiannya adalah rencana pengembangan kawasan sungai sebagai destinasi wisata.
“Mudah-mudahan beberapa tahun ke depan apa yang di sampaikan Pak Wali menjadi kenyataan. Banjar nanti menjadi kota Paris versi Banjar. Di mana sungai-sungainya menjadi tujuan wisata,” pungkasnya.
(Agus Purwadi)



