CIAMIS,FOKUSJabar.id: Para pengrajin di Kampung Angklung, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, menyambut hangat wacana Bupati Ciamis Herdiat Sunarya untuk menggelar pertunjukan 20 ribu angklung pada tahun mendatang. Gagasan ini memperkuat identitas budaya Kabupaten Ciamis sekaligus mendongkrak kesejahteraan para pembuat alat musik bambu lokal.
Herdiat menyampaikan gagasan besar tersebut saat menghadiri acara Gebyar Angklung Jilid II dalam rangka Hari Ulang Tahun Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Ciamis. Bupati ingin membawa Ciamis menggelar pergelaran seni kolosal yang mengumpulkan puluhan ribu instrumen bambu tersebut.
Memperkuat Identitas Ciamis Lewat Musik Bambu
Herdiat menilai angklung sebagai warisan leluhur yang membutuhkan pelestarian serta pengembangan secara konsisten. Pertunjukan kolosal ini bakal mengangkat citra Ciamis sebagai daerah yang kaya akan nilai seni dan budaya di tingkat nasional.
“Kita ingin angklung tidak hanya dimainkan, tetapi benar-benar menjadi identitas Kabupaten Ciamis. Kalau dipersiapkan dengan baik, saya optimistis kita bisa mewujudkan pertunjukan 20 ribu angklung,” ujar Herdiat saat menghadiri HUT PWRI di Alun-Alun Ciamis, Rabu (22/07/2026) lalu.
Menanggapi tantangan tersebut, pengrajin senior Nunu Angklung menegaskan kesiapan komunitasnya untuk mengawal rencana Bupati. Pengrajin meminta pemerintah daerah memulai persiapan produksi sejak jauh hari.
“Kami sangat mendukung wacana Pak Bupati. Kalau persiapannya mulai dari sekarang dan tidak mepet dengan waktu pelaksanaan, kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan produksinya,” kata Nunu, Minggu (26/07/2026).
Kapasitas Produksi dan Bahan Baku Melimpah
Nunu menjelaskan bahwa Kampung Angklung memegang modal sosial dan produksi yang sangat memadai. Wilayahnya menampung lebih dari 10 kelompok usaha dengan 70 pengrajin aktif yang rutin memproduksi angklung untuk pasar pariwisata, edukasi, dan pertunjukan seni.
Pengrajin sanggup memacu kapasitas produksi secara bertahap jika pemerintah mendata kebutuhan pesanan sejak awal. Selain kesiapan sumber daya manusia, pasokan bambu di wilayah Ciamis masih sangat berlimpah untuk mengimbangi produksi skala besar.
“Untuk bahan baku kami tidak khawatir karena bambu di wilayah Ciamis masih melimpah. Yang terpenting adalah perencanaannya lebih awal sehingga hasil produksinya bisa maksimal,” ungkap Nunu.
Nunu meyakini bahwa pergelaran 20 ribu angklung ini akan membawa dampak ganda (multiplier effect). Event ini bakal menggairahkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pelestarian budaya daerah.
“Semakin sering angklung tampil dalam kegiatan besar, masyarakat akan semakin mengenal Kampung Angklung sebagai pusat produksi angklung. Dampaknya tentu akan kembali kepada para pengrajin dan masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap Pemkab Ciamis terus menggandeng para pengrajin lokal dalam setiap agenda seni budaya agar angklung menjadi motor penggerak ekonomi warga.
“Kami siap menjadi bagian dari upaya itu. Harapan kami, Kampung Angklung semakin terkenal dan Ciamis semakin identik dengan angklung di tingkat nasional bahkan internasional,” pungkas Nunu.
(Mia)



