PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebanyak 170 anak telah merasakan manfaat program pembelajaran di Rumah Belajar Masyarakat Bumi Neng Mom (RBM BNM). Sanggar belajar ini bertempat di Dusun Patinggen 2, Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Lembaga yang berdiri sejak 10 November 2023 tersebut mengambil peran sebagai penyempurna pendidikan formal. Pengelola menghadirkan kelas gratis berbasis praktik dan pengalaman langsung bagi anak-anak pedesaan.
Baca Juga: Pacuan Kuda di Tepi Pantai? Indonesia Derby 2026 Hadirkan Sensasi Unik di Pangandaran
Tiga Kurikulum Utama Tanpa Beban Biaya
Kepala Jaringan RBM BNM, Amalia Nur Falah, menekankan bahwa kehadiran RBM BNM tidak bertujuan untuk menggeser atau menyaingi peran sekolah formal.
“Konsep kami tidak mengikuti sekolah formal dan tidak menyaingi sekolah formal yang sudah ada. Kami hadir untuk melengkapi pendidikan yang sudah ada,” ujar Amalia, Minggu (26/7/2026).
RBM BNM mengusung tiga program unggulan yang menyasar berbagai jenjang usia:
- Performing Arts (Usia 4–7 tahun)
- STEM / Science, Technology, Engineering, and Mathematics (Usia 7–12 tahun)
- Creative Problem Solving (Usia 12–17 tahun)
Yayasan membebaskan seluruh biaya pendidikan peserta. Pengelola menyusun kurikulum secara mandiri dan kini sedang mengembangkan materi belajar melalui kolaborasi bersama HighScope Indonesia.
“Kami memang berniat memberikan hal-hal yang belum diperoleh anak-anak di sekolah. Karena itu semua program kami gratis dan terbuka untuk masyarakat,” tambah Amalia.
Di Padaherang, lima fasilitator mendampingi kegiatan belajar para siswa. Pendiri RBM BNM, Kornel H. Soemardi bersama Susi, juga terjun langsung memandu jalannya kelas.
Evaluasi Pentas Tanpa Sistem Ujian
Proses pembelajaran memakan waktu 10 bulan dalam satu siklus. Tim pengajar memberikan materi selama 8 bulan, lalu menggunakan 2 bulan sisanya untuk persiapan pentas seni. Uniknya, RBM BNM meninggalkan sistem ujian maupun kelulusan baku layaknya sekolah umum.
“Evaluasi kami dilakukan melalui pentas. Anak-anak menunjukkan hasil belajar mereka di hadapan publik, bukan melalui ulangan,” tegas Amalia.
Antusiasme warga terus melonjak saban periode. Awalnya RBM BNM hanya menampung 25 anak, kini kuota belajar menampung hingga 50 anak per periode. Kelas STEM menjadi incaran utama para orang tua yang ingin memperkuat kemampuan bahasa Inggris anak sejak dini.
Demi menjaga kualitas interaksi, pengelola membatasi rasio pendampingan. Satu fasilitator membimbing maksimal 10 anak saja.
Masyarakat merasakan dampak positif dari metode interaktif ini. Salah satu orang tua siswa, Sri Wulandari, rela mengantar anaknya yang berusia 5 tahun dari Desa Mangunjaya ke Padaherang.
“Dulu kalau di TK harus ditunggu, sekarang sudah berani sendiri dan tidak pemalu lagi. Banyak perubahannya,” cerita Sri gembira.
Kontribusi Alumnus Amerika Serikat untuk Kampung Halaman
Kornel H. Soemardi menggagas pendirian RBM BNM setelah menyelesaikan kariernya di industri minyak dan sempat tinggal lama di Amerika Serikat. Kemudian sekembalinya ke Indonesia, ia membangun rumah belajar di kampung halaman sang ibu di Padaherang sebagai wujud bakti bagi pendidikan anak-anak desa.
Yayasan Cakrawala Cerah Indonesia menyokong seluruh biaya operasional RBM BNM sehingga fasilitas ini dapat terus melayani masyarakat secara gratis.
(Sajidin)



