CIAMIS,FOKUSJabar.id: Jaja Sukmana, seorang Penyuluh Pertanian Kecamatan Purwadadi, menciptakan inovasi Muharam (Mutiara Hitam Suburkan Alam). Langkah ini berhasil mendongkrak produktivitas padi di lahan rawa dan tadah hujan hingga 7,5 ton per hektare, dari angka awal yang hanya 3 ton.
Inovasi tersebut menggabungkan ekstrak organik dengan teknologi PMAS dari Kementerian Pertanian. Kolaborasi ini memberikan jawaban nyata atas tantangan kondisi lahan ekstrem di wilayah Purwadadi, Kabupaten Ciamis.
Baca Juga: Swasembada Pangan, Ciamis Perkuat Sinergi Penyuluh dan Petani Capai Target LTT
Mengatasi Tantangan Lahan Rawa dan Tadah Hujan
Jaja merancang metode ini setelah memetakan potensi wilayah binaannya. Lahan pertanian setempat memiliki dua karakteristik utama: lahan rawa yang banjir saat musim hujan, serta lahan tadah hujan yang mengalami kekeringan ekstrem saat kemarau.
“Dari situ saya berpikir bagaimana menghadirkan solusi agar lahan dengan kondisi seperti ini tetap mampu menghasilkan. Kebetulan ada program PMAS dari Kementerian Pertanian yang menurut saya memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi,” ujar Jaja usai sosialisasi Percepatan LTT di Aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ciamis, Sabtu (25/07/2026).
Penerapan teknologi gabungan ini terbukti memicu kembali semangat para petani untuk mengolah sawah. Lonjakan hasil panen memberi dampak positif langsung pada tingkat pendapatan mereka.
“Artinya ada peningkatan produksi yang cukup besar. Dampaknya bukan hanya pada hasil panen, tetapi juga terhadap kesejahteraan petani karena mereka memperoleh tambahan hasil yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Peran Ekstrak Muharam dan Teknologi PMAS
Penyuluh asal Purwadadi ini mengintegrasikan PMAS dengan berbagai metode budidaya populer. Beberapa di antaranya meliputi System of Rice Intensification (SRI), tanam dangkal, metode Haston, tabela, dan sistem jajar legowo.
Guna memperkuat metode tersebut, Jaja menyuntikkan inovasi Muharam yang pernah menembus ajang lomba inovasi tingkat nasional pada 2024. Ekstrak kompos pupuk kandang ini mengandungkan tiga senyawa penting:
- Asam humat
- Asam fulvat
- Humin
Ketiga unsur alami tersebut memperbaiki struktur tanah sekaligus mempercepat tanaman menyerap nutrisi. Dampaknya, petani bisa memangkas pemakaian pupuk kimia sintetis secara signifikan.
“Kalau tanah sudah memiliki kandungan asam humat, asam fulvat, dan humin, fungsinya hampir sama seperti memberikan humus ke dalam tanah sehingga penyerapan unsur hara menjadi lebih optimal,” jelas Jaja.
Strategi Menghadapi Musim Kemarau
Keberhasilan inovasi ini juga memacu keberanian petani di Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi. Petani kini tak ragu menggunakan mesin pompa air untuk mengairi sawah saat musim kemarau.
Bahkan, sebagian petani berani mengalihfungsikan kembali lahan kacang hijau mereka menjadi tanaman padi. Hasil panen yang tinggi terbukti sanggup menutup biaya operasional BBM pompa air.
“Harapannya peningkatan produksi dapat mengganti biaya yang dikeluarkan petani untuk pompanisasi sekaligus memberikan keuntungan yang lebih baik. Dengan begitu, produktivitas tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” kata Jaja.
(Mia)



