FOKUSJabar.id: Penyanyi sekaligus penulis lagu Nadin Amizah menyampaikan pandangannya mengenai gelombang serangan yang belakangan menyasar perempuan trans (trans women) melalui unggahan di Instagram Story, Jumat, 17 Juli 2026. Unggahan tersebut kemudian menjadi perhatian warganet karena membahas isu keamanan komunitas queer di tengah maraknya perundungan dan ujaran kebencian di media sosial.
Pernyataan itu disampaikan saat ruang digital tengah diramaikan oleh berbagai konten yang dinilai menyerang identitas perempuan trans. Dalam unggahannya, Nadin menyoroti bahwa persoalan tersebut tidak berhenti hanya karena konten yang dianggap bermasalah telah dihapus dari platform.
Melalui pesannya, Nadin mengajak publik untuk melihat isu tersebut dari sisi kemanusiaan. Menurutnya, hilangnya sebuah unggahan di media sosial tidak serta-merta menghapus ancaman ataupun rasa tidak aman yang masih dapat dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran.
BACA JUGA: Cuaca Panas Saat Musim Kemarau? Ini 5 Tips Memilih Outfit agar Tetap Adem dan Stylish
Nadim Amizah: Kekerasan Tidak Dapat Dibenarkan
Dalam unggahan tersebut, Nadin menulis, “them (or instagram) deleting their posts does not mean queers’ safety are guaranteed. violence is violence, no matter what sides you’re in.”
Lewat pernyataan itu, Nadin menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun maupun dilakukan oleh pihak mana pun. Ia juga menilai bahwa menghapus konten yang mengandung kebencian bukanlah solusi yang secara otomatis menjamin keamanan komunitas queer dari dampak yang telah ditimbulkan.
Unggahan tersebut menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pengguna turut membagikan kembali isi pesannya sehingga pembahasan mengenai perlindungan kelompok rentan di ruang digital semakin meluas.
Berdasarkan informasi yang beredar pada hari yang sama, fokus utama unggahan Nadin bukan ditujukan kepada individu tertentu. Ia lebih menyoroti pentingnya memastikan rasa aman bagi komunitas queer yang menjadi sasaran serangan di media sosial, sekaligus mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak selesai hanya karena sebuah unggahan telah dihapus.
Pesan yang disampaikan Nadin juga menunjukkan pandangannya bahwa tindakan intimidasi, ujaran kebencian, maupun bentuk kekerasan lainnya tetap harus dipandang sebagai persoalan kemanusiaan. Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan tanpa melihat siapa pelaku maupun pihak yang menjadi sasarannya.
BACA JUGA: ARMY Bersiap, BTS Tambah Jadwal Konser Ketiga di SUGBK
Isi unggahan itu telah memicu berbagai diskusi mengenai pentingnya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi seluruh pengguna, termasuk kelompok rentan. Percakapan yang berkembang juga menyoroti perlunya mencegah penyebaran ujaran kebencian dan berbagai bentuk kekerasan di media sosial.
Pernyataan yang disampaikan Nadin, menjadi pengingat bahwa menghapus sebuah unggahan tidak serta-merta menghilangkan dampak yang telah dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran. Melalui pesannya, ia menegaskan bahwa persoalan utama terletak pada tindakan kekerasan itu sendiri, yang menurutnya harus ditolak tanpa memandang pihak yang terlibat.
(Jingga Sonjaya)



