CIAMIS,FOKUSJabar.id: Badai finansial hebat sedang melanda para peternak ayam petelur mandiri di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kombinasi antara lonjakan harga pakan pabrikan dan hancurnya harga jual telur di pasaran membuat kelangsungan usaha mereka berada di ujung tanduk.
Kenyataan pahit ini salah satunya menimpa Eka Muntaha, anggota Kelompok Peternak “Maju Berdikari” di Dusun Timbang Windu, Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis. Ia mengaku tabungannya kini kian menipis akibat terus-menerus mengalir sebagai subsidi operasional kandang.
Baca Juga: DKUKMPP Ciamis Gelar Pelatihan Manajemen untuk Pengurus KDMP
“Setiap hari kami harus nombok untuk bisa bertahan hidup. Penghasilan dari penjualan telur harian tidak lagi cukup untuk menebus karung pakan baru,” ungkap Eka, Selasa, (30/6/2026).
Produktivitas Ayam Bagus, Namun Kalah oleh Struktur Biaya
Ironisnya, peternakan skala kecil berkapasitas 600 ekor ayam yang Eka kelola bersama kelompoknya sebenarnya memiliki performa bertelur yang sangat prima. Setiap hari, kawanan unggas tersebut mencatat persentase keberhasilan bertelur hingga 85 persen, atau menghasilkan sekitar 26 kilogram telur ayam ras segar.
Namun, prestasi produksi tersebut justru berubah menjadi petaka akibat struktur biaya yang timpang:
- Konsumsi Pakan Tinggi: Populasi 600 ekor ayam tersebut menghabiskan pakan pabrikan secara konsisten sebanyak 70 kilogram setiap hari.
- Harga Pakan Merangkak Naik: Dalam dua bulan terakhir, harga pakan di tingkat agen melompat dari Rp6.800 menjadi Rp7.000, hingga puncaknya menembus Rp7.200 per kilogram pada seminggu terakhir.
- Harga Telur Terjun Bebas: Harga telur di tingkat peternak yang semula nyaman di angka Rp22.000 per kilogram, mendadak ambruk hingga menyentuh Rp18.000 per kilogram dalam dua hari terakhir.
Jika menghitung secara matematis, hasil panen 26 kilogram telur hanya menghasilkan omzet sebesar Rp468.000 per hari. Sementara itu, modal untuk membeli 70 kilogram pakan membengkak jadi Rp504.000. Komparasi timpang ini memaksa Eka merugi dan nombok sebesar Rp36.000 setiap hari hanya untuk urusan perut ayam.
Penyebab Pasar Surplus dan Daya Beli Lesu
Menyikapi fenomena tersebut Sekretaris Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC), Teten, membeberkan, posisi harga telur saat ini sudah berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) dan Harga Pokok Produksi (HPP) yang menetapkan standar ideal pemerintah. Saat ini, HPP telur nasional berada pada angka Rp23.000 per kilogram dengan HAP konsumen sebesar Rp26.500.
Menurut Teten, ada dua faktor utama yang memicu hancurnya harga telur secara nasional:
- Surplus Pasokan: Produksi telur mengalami kelebihan pasokan (surplus) secara nasional sekitar 12 persen.
- Daya Beli Melemah: Permintaan pasar sedang sepi akibat penurunan daya beli masyarakat, ditambah dengan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menyerap stok telur dalam jumlah besar.
Langkah Darurat dan Harapan Peternak Lokal
Sebagai langkah penyelamatan agar aset tidak habis terjual, para peternak terpaksa melakukan efisiensi ketat di area kandang. Mereka menempuh strategi cutting populasi dengan mengeliminasi ayam yang sudah kurang produktif serta memotong rantai distribusi dengan menjual telur langsung ke konsumen akhir.
P2APC dan para peternak lokal menaruh harapan besar kepada pemerintah serta instansi terkait agar segera mengucurkan bantuan nyata.
Mereka meminta BUMN Bulog atau dinas terkait untuk menyalurkan program bansos menggunakan komoditas telur. Tujuannya untuk mempercepat penyerapan stok di tingkat peternak.
Selain itu, mereka berharap pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) kelak meningkatkan menu berbasis telur minimal dua kali dalam seminggu saat program tersebut kembali berjalan.
(Irfansyah)



