CIAMIS,FOKUSJabar.id: Cerita urban Nusantara selalu menyimpan daya tarik tersendiri, terutama kisah misteri yang mengakar kuat di tengah masyarakat modern. Salah satu kisah yang memicu rasa penasaran berada di Dusun Cariu, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Hingga detik ini, warga Dusun Cariu memegang teguh sebuah pantangan besar, mereka dilarang keras menggelar pertunjukan wayang. Konon, siapa pun yang nekat melanggar larangan tersebut akan mendatangkan kutukan mengerikan, mulai dari bencana alam, gagal panen, hingga kematian mendadak.
Baca Juga: Tinggal Sebatang Kara, Nenek 71 Tahun di Ciamis Menangis Dapat Rumah Baru dari Polisi
Sumpah Sang Prabu dan Dua Versi Asal-usul Kutukan
Ahmad Rizki Fauzi, seorang pegiat sejarah dan budaya dari Komunitas Cakra Mangsa Ciamis, mengonfirmasi keaslian mitos yang masih hidup tersebut, Selasa (30/6/2026). Menurut penuturannya, masyarakat setempat memercayai dua versi cerita terkait awal mula larangan ini. Both kisah tersebut berpusat pada sosok Prabu Sirnaraja, Raja Kerajaan Samida, yang juga merupakan putra Prabu Siliwangi dari selir Dewi Nawangsih.
Versi Pertama: Amukan Badai Saat Pertunjukan Seni Kisah pertama bermula saat Prabu Sirnaraja sedang berburu di wilayah Cariu. Untuk menyambut kedatangan sang raja, warga setempat menyajikan pertunjukan pantun yang mengemas sebuah lakon atau drama sandiwara.
Namun, di tengah-tengah kemeriahan acara, cuaca mendadak berubah ekstrem. Hujan angin berkecamuk, langit menjadi gelap gulita, dan petir menyambar-nyambar area tersebut.
Bencana mendadak ini memicu kemarahan sang prabu. Ia kemudian mengeluarkan supata (sumpah atau kutukan) yang melarang segala bentuk pertunjukan lalakon (drama), termasuk wayang, di wilayah Cariu untuk selamanya.
Versi Kedua: Tersinggung karena Tokoh Dorna Versi lain menyebutkan bahwa Prabu Sirnaraja memiliki cacat fisik pada bagian tangan yang bengkok (kengkong). Sang raja akhirnya berhasil menyembuhkan tangannya setelah melakukan perjalanan ke wilayah Rancah.
Karena kondisi fisiknya tersebut, sang raja melarang pertunjukan wayang. Ia merasa tokoh wayang berkarakter tangan bengkok seperti Resi Dorna merupakan bentuk ejekan yang menyinggung perasaannya. Sebagai gantinya, sang raja yang gemar menari memperkenalkan kesenian ronggeng sebagai hiburan alternatif bagi warga Cariu hingga saat ini.
Petaka Nyata Bagi yang Nekat Melanggar
Mitos ini bukan sekadar cerita pengantar tidur. Keyakinan warga Cariu semakin menebal setelah beberapa kejadian mistis menimpa orang-orang yang mencoba menantang pantangan tersebut pada masa lalu.
Fauzi menceritakan bahwa pernah ada warga yang nekat menggelar pertunjukan wayang. Tak lama setelah acara mulai, berbagai keanehan dan musibah langsung beruntun terjadi. Mulai dari mesin genset yang meledak tiba-tiba, hingga kematian mendadak anggota keluarga penyelenggara acara pada keesokan harinya.
Rentetan peristiwa tragis itulah yang mengunci kesadaran psikologis masyarakat Dusun Cariu untuk tetap menghormati aturan leluhur dan menjauhkan wayang dari kampung mereka.
(IrfansyahRiza)



