GARUT, FOKUSJabar.id: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan membangun fondasi ekonomi kerakyatan.
Demikian di sampaikan Bendahara Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Tatang Abd Basyit sekaligus pinisepuh Pondok Pesantren Kudang Limbangan.
BACA JUGA:
Bupati Garut Perkuat Lindungi Generasi Muda dari Narkoba
Menurutnya, jika di jalankan dengan mengutamakan potensi lokal, kedua program tersebut akan menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Kekuatan utama program MBG bukan hanya pada makanan yang di terima anak-anak. Melainkan pada rantai pasok ekonomi yang tercipta.
“Setiap porsi makanan butuh beras, sayuran, telur, ayam, ikan, buah-buahan, susu, bumbu dapur, minyak goreng hingga jasa distribusi. Semua kebutuhan tersebut dapat di penuhi oleh masyarakat Garut Utara khususnya,” kata Dia.
Sebagai contoh, beras di pasok oleh kelompok tani di Cibiuk, Leuwigoong, Limbangan. Sayuran berasal dari petani hortikultura. Telur dan daging ayam di penuhi peternak setempat.
Ikan berasal dari pembudidaya perikanan air tawar. Buah-buahan di pasok petani lokal sesuai musim.
Seluruh hasil produksi tersebut dihimpun oleh KDMP untuk di sortir, di kemas dan di distribusikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Dia menambahkan, rantai ekonomi tidak berhenti sampai di situ. Pedagang beras memperoleh pasar yang lebih pasti. Pengusaha penggilingan padi meningkatkan kapasitas produksinya.
Toko bahan pangan memasok kebutuhan pelengkap, pelaku UMKM memproduksi tempe, tahu, kerupuk, sambal dan makanan pendamping.
Industri rumah tangga membuat wadah makanan, celemek, seragam atau perlengkapan dapur.
Pengrajin Selaawi bahkan dapat memproduksi rak penyimpanan, keranjang distribusi, meja, kursi hingga peralatan pendukung dapur yang ramah lingkungan.
Sektor jasa juga ikut bergerak. Pemilik kendaraan angkutan memperoleh pekerjaan mengirim bahan pangan. Pemuda desa dapat bekerja sebagai tenaga logistik. Ibu-ibu memperoleh kesempatan menjadi tenaga pengolah makanan di dapur MBG.
Pedagang pasar mendapatkan peningkatan omzet karena permintaan bahan pangan meningkat setiap hari. Bahkan usaha kecil seperti warung, toko kelontong, percetakan, jasa kebersihan hingga bengkel kendaraan turut menikmati dampak ekonomi dari meningkatnya aktivitas tersebut.
Peran KDPM menjadi sangat penting karena berfungsi sebagai penghubung antara ribuan produsen kecil dengan kebutuhan program MBG.
“Koperasi mengonsolidasikan produksi masyarakat, menjaga kualitas, mengatur harga yang adil, menyediakan permodalan serta memastikan distribusi berjalan tepat waktu. Dengan demikian, keuntungan ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak, tetapi tersebar kepada masyarakat secara lebih merata,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Ekonomi Kreatif, Home Industri, UMKM dan Koperasi Fondasi Kemandirian Garut Utara
Inilah yang di sebut efek berganda (multiplier effect). Satu rupiah anggaran negara yang di belanjakan melalui MBG akan berputar di Garut Utara.
Petani memperoleh penghasilan, pedagang memperoleh keuntungan, UMKM berkembang, jasa transportasi hidup, tenaga kerja terserap, koperasi tumbuh dan daya beli masyarakat meningkat. Perputaran ekonomi inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan daerah.
Garut Utara memiliki semua prasyarat untuk mewujudkan sistem tersebut. Potensi pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, UMKM, koperasi, pesantren dan industri rumah tangga telah tersedia.
Yang di butuhkan adalah tata kelola yang baik, sinergi antarlembaga serta komitmen untuk mengutamakan produk dan tenaga kerja lokal.
“Jika rantai pasok program MBG di bangun berbasis masyarakat melalui Koperasi Merah Putih, maka program ini tidak hanya mencetak generasi yang sehat dan cerdas. Namun juga melahirkan ekonomi daerah yang mandiri, memperkuat ketahanan pangan, mengurangi kemiskinan serta mempercepat terwujudnya Garut Utara yang maju, sejahtera dan berdaya saing,” pungkasnya.
(Bambang Fouristian)



