TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Pendidikan adalah hak fundamental setiap anak, sebuah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah. Namun, di tengah hiruk-pikuk perkembangan kota, realitas pahit kebodohan struktural akibat kemiskinan masih mengintai. Kisah pilu sekaligus haru datang dari Bojong Kaum, Kota Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar).
Di mana dua anak perempuan bersaudara sempat harus mengubur mimpi sekolah mereka karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Untungnya, asa yang sempat padam itu kini menyala kembali berkat aksi nyata dari Forum Silaturahmi Selasar Masjid Agung (Fossma).
BACA JUGA:
SPMB 2026 Tasikmalaya Tuai Keluhan, Fossma Resmi Buka Posko Pengaduan
Terjebak Keterbatasan, Terpaksa Putus Sekolah
Kondisi ekonomi yang menghimpit memaksa kedua bersaudara ini berhenti mengecap indahnya bangku sekolah. Sang adik, yang baru menginjak usia 9 tahun, terpaksa putus sekolah sejak duduk di kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) semester 1.
Sementara sang kakak, nasibnya tak jauh berbeda. Langkahnya terhenti tepat setelah lulus MI dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Ketua Fossma, Dadang Abdul Fatah mengungkapkan rasa prihatinnya saat menerima pengaduan tersebut.
”Sangat memprihatinkan masih ada anak usia sekolah di Kota Tasikmalaya yang terpaksa berhenti belajar hanya karena keterbatasan ekonomi,” kata Dadang, Minggu (6/6/2026).
Pendampingan Fossma dan Hangatnya PUI Cigeureung
Fossma tidak tinggal diam. Bergerak cepat melakukan advokasi dan pendampingan. Mereka menjalin komunikasi intensif dengan pihak sekolah. Hasilnya? Sebuah kabar baik yang melegakan.
Kedua anak tersebut kini resmi di terima untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah PUI Cigeureung.
Sang Adik kembali melanjutkan sekolahnya di jenjang MI. Sedangkan Sang Kakak resmi terdaftar untuk melanjutkan mimpi ke jenjang SMP.
Selain faktor keterbukaan pihak sekolah, lokasi PUI Cigeureung yang relatif dekat dengan kediaman mereka di Bojong Kaum menjadi angin segar.
Jarak yang dekat ini di harapkan mampu mempermudah mobilitas belajar sekaligus menekan biaya transportasi. Sehingga tidak menjadi beban baru bagi ekonomi keluarga.
Sorotan Terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Di balik kebahagiaan ini, ada satu catatan penting yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama bagi pemerintah setempat. Kedua anak ini di ketahui belum menerima program MBG.
BACA JUGA:
Program MBG di Mulyasari Tasikmalaya Dihentikan Sementara, Ini Penjelasannya
Fossma berharap, pihak-pihak terkait. Baik Dinas Pendidikan maupun Dinas Sosial dapat segera melakukan pendataan ulang secara valid.
Akses terhadap program bantuan sosial dan pendidikan seperti ini adalah hak mereka yang harus segera di penuhi agar proses belajar dapat berjalan optimal tanpa kendala pemenuhan gizi.
Gotong Royong Menyelamatkan Masa Depan Bangsa
Kisah dari Bojong Kaum ini adalah sebuah wake-up call atau pengingat keras bagi kita semua. Negara menjamin pendidikan bagi setiap warganya, dan tidak boleh ada satu pun anak yang kehilangan masa depan hanya karena persoalan biaya.
“Satu anak kembali bersekolah adalah satu masa depan yang terselamatkan,” kata Dadang Abdul Fatah.
Apresiasi tinggi patut di berikan kepada seluruh pihak yang telah membuka jalan dan mengulurkan tangan.
Langkah advokasi ini mungkin terlihat kecil. Namun dampak yang di hasilkan sangat masif untuk masa depan generasi penerus bangsa.
(Abdul Latif)



