TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah jeritan warga soal infrastruktur dan tumpukan sampah yang belum tuntas, publik Kota Tasikmalaya kini di kejutkan oleh kebijakan anggaran Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP).
Bagaimana tidak, di tengah kondisi fiskal yang sedang “sakit”, pemkot justru menggelontorkan dana fantastis untuk pengadaan bibit burung murai hingga kandang jangkrik.
Berdasarkan data Rencana Umum Pengadaan (RUP) Tahun Anggaran 2026, tercatat angka mencengangkan sebesar Rp5,7 miliar yang di alokasikan melalui skema E-Purchasing untuk belanja bahan, bibit ternak, dan bibit ikan.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Komisaris CIJ dan Artha Galunggung Tasikmalaya, Terkesan Tertutup?
Anggaran Elitis di Tengah Tekanan Ekonomi
Dua item yang kini menjadi buah bibir adalah pengadaan “Bibit Burung Murai” yang menyentuh angka Rp92,5 juta dan “Kandang Jangkrik Panjang” senilai Rp45,2 juta. Angka-angka ini di nilai melukai rasa keadilan masyarakat yang saat ini masih berjuang dengan urusan perut dan pelayanan dasar yang minimalis.
Tak hanya itu, pengamatan pada daftar belanja juga menemukan adanya beberapa item dengan nominal berulang sebesar Rp270 juta, yang semakin menambah deretan pertanyaan di benak publik.
Kritik Pedas Aktivis
Aktivis Tasikmalaya, Khairul Fadli, angkat bicara mengenai prioritas belanja daerah yang di anggap “nyeleneh” ini. Menurutnya, pemerintah daerah seolah buta terhadap realitas sosial yang di hadapi warga.
“Rakyat sedang menghadapi tekanan ekonomi. Jalan rusak ada di mana-mana, sampah masih jadi masalah, tapi pemerintah malah belanja burung murai dan kandang jangkrik. Ini benar-benar membuat publik geleng kepala,” ujar Khairul dengan nada tegas, Senin (11/5/2026).
Khairul menegaskan bahwa kritiknya bukan soal hobi atau budidaya, melainkan soal urgensi dan transparansi. Ia mempertanyakan siapa penerima manfaat dari program ini dan apa dampak ekonominya bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Polemik Limbah Dapur MBG di Tasikmalaya, Satgas Minta Seluruh SPPG Benahi Pengelolaan IPAL
”APBD itu uang rakyat, bukan ruang eksperimen proyek yang membingungkan. Ini soal empati anggaran. Jangan sampai program ini hanya jadi simbol kegagalan pemerintah dalam membaca kebutuhan mendasar warga,” tambahnya.
Menanti Jawaban DKPPP Kota Tasikmalaya
Hingga berita ini di turunkan, pihak DKPPP Kota Tasikmalaya masih bungkam. Belum ada penjelasan resmi mengenai teknis pemilihan bibit burung murai tersebut maupun target yang ingin di capai dari pengadaan kandang jangkrik puluhan juta rupiah itu.
Publik kini menunggu keterbukaan pemerintah. Apakah pengadaan ini benar-benar untuk pemberdayaan masyarakat bawah, atau sekadar proyek elitis yang jauh dari realitas kehidupan warga Kota Tasikmalaya.
(Abdul Latif)


