BANJAR, FOKUSJabar.id: Pemerintah Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, di buat kelabakan setelah muncul tagihan dari pihak luar yang mengaku memiliki kerjasama usaha dengan Direktur BUMDes Sukamukti berinisial S.
Ironisnya, sang direktur mendadak menghilang dan tak bisa di hubungi sejak awal pekan lalu.
Sekretaris Desa Sukamukti, Nana Juhana, menuturkan pihak desa awalnya tidak mengetahui adanya kerjasama yang di lakukan oleh S.
Baca Juga: Pansus XIV Bahas Penyertaan Modal Perumda Tirta Anom Kota Banjar
Fakta itu baru terungkap setelah seorang pelaku usaha datang ke kantor desa dan menagih pembayaran atas suplai barang untuk dapur MBG.
“Baru ketahuan setelah ada pihak yang datang membawa berkas dan mengaku ada janji pembayaran. Padahal tidak pernah ada musyawarah desa atau MoU resmi,” ujar Nana, Senin (11/5/2026).
Menurut Nana, kerjasama yang di lakukan S bersifat pribadi karena tidak melalui mekanisme rapat maupun keputusan resmi BUMDes. Dokumen yang di bawa pihak terkait pun tidak menunjukkan adanya MoU dengan BUMDes.
“Semua berkas yang kami pelajari jelas atas nama pribadi S, bukan BUMDes,” tegasnya.
Kekhawatiran semakin besar setelah muncul dugaan penggunaan dana BUMDes. Dari total penyertaan modal sekitar Rp170 juta, kini tersisa hanya Rp30 juta di rekening. Artinya, ada sekitar Rp140 juta yang masih di telusuri.
Kerugian Capai Rp600 Juta
Sementara isu yang beredar menyebut kerugian mencapai Rp600 juta, Nana menilai angka itu kemungkinan berasal dari akumulasi kerjasama pribadi sang direktur.
“Kami belum bisa memastikan karena keberadaan S belum di ketahui,” katanya.
Baca Juga: PC PMII Kota Banjar Soroti Nobar Persib Bandung yang Digagas Kemenag
Padahal, selama ini BUMDes Sukamukti di kenal sebagai BUMDes percontohan dengan kerjasama suplai buah untuk dapur MBG. Bahkan laporan keuangan terakhir yang di paparkan dalam Musdes Maret lalu di terima baik oleh masyarakat.
“Kami kaget karena selama ini semua berjalan baik, tidak ada indikasi masalah,” tambah Nana.
Sebagai informasi, kini pemerintah desa bersama pihak kecamatan tengah mencari solusi sekaligus melacak keberadaan sang direktur yang hilang.
(Budiana Martin)


