BANDUNG,FOKUSJabar.id: Perum Bulog mencetak rekor baru dalam sejarah ketahanan pangan nasional. Hingga pertengahan Mei ini, stok beras nasional yang dikuasai BUMN pangan tersebut berhasil menembus angka 5,37 juta ton. Capaian ini tercatat sebagai volume cadangan pangan tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pemerintah optimistis ketersediaan cadangan beras yang melimpah ini mampu mengamankan stabilitas pangan nasional hingga pertengahan tahun 2027 mendatang. Stok jumbo ini sekaligus menjadi benteng pertahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim ekstrem serta ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Maranatha Ukir Sejarah! Kawinkan Gelar Basket Putra dan Putri di Campus League 2026
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa melimpahnya stok beras merupakan modal krusial bagi pemerintah untuk mengendalikan pasokan dan meredam gejolak harga pangan di seluruh pelosok negeri.
“Stok Bulog sampai hari ini mencapai 5,37 juta ton, hampir 5,38 juta ton. Ini merupakan jumlah tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka,” ungkap Ahmad Rizal saat meninjau gudang penyimpanan Bulog, Sabtu (23/5/2026).
Ahmad menambahkan, kekuatan cadangan beras yang besar ini memberikan Indonesia daya tahan yang jauh lebih tangguh dalam menangkal dampak buruk perubahan iklim terhadap sektor pertanian domestik.
Lindungi Petani: Bulog Wajib Beli Gabah Rp6.500 per Kilogram
Selain mengamankan gudang penyimpanan, Bulog kini terus memacu penyerapan gabah langsung dari para petani lokal. Langkah masif ini merujuk pada amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026.
Melalui regulasi anyar tersebut, Presiden mewajibkan Bulog membeli Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Kebijakan harga ini bertujuan menjaga kesejahteraan para petani sekaligus mempertebal stok pangan nasional.
Meski demikian, Ahmad mengingatkan jajarannya agar tetap selektif memantau usia panen tanaman padi demi menjaga standar kualitas beras yang diserap.
“Namun dengan catatan harus dalam masa usia panen. Jangan belum di usia panen ikut dipanen, nanti terlalu muda. Istilahnya kalau buah, masak di pohon, harus seperti itu,” jelasnya.
Rangkul Tengkulak Jadi Sopir Angkut, Pemkab Bandung Salurkan Bantuan Pangan
Uniknya, Bulog menerapkan strategi inklusif dengan merangkul para tengkulak ke dalam ekosistem distribusi pangan bentukan pemerintah. Bulog mengarahkan para tengkulak untuk beralih fungsi menjadi transporter resmi yang bertugas mengangkut gabah dari area persawahan menuju fasilitas penggilingan mitra Bulog.
“Gabah dibeli Bulog Rp6.500 di pinggir sawah. Tugas tengkulak sekarang menjadi transporter untuk mengangkut gabah ke penggilingan mitra Bulog,” urai Ahmad.
Melalui skema kemitraan baru ini, para transporter mengantongi kompensasi ekonomi sebesar Rp200 per kilogram gabah yang mereka angkut. Pola ini terbukti tetap memberikan margin keuntungan yang sehat bagi eks-tengkulak tanpa mengganggu rantai penyerapan beras negara.
Di sisi lain, melimpahnya stok pangan ini memicu Bulog untuk langsung tancap gas menyalurkan program bantuan pangan ke masyarakat. Salah satu titik penyaluran menyasar warga di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Program bantuan sosial ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan total 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia. Khusus di wilayah Kecamatan Arjasari, sebanyak 1.442 kepala keluarga tercatat menerima jatah bantuan.
Setiap KPM berhak membawa pulang 20 kilogram beras premium dan 4 kilogram minyak goreng untuk alokasi dua bulan sekaligus. Pemerintah mengunci penerima manfaat ini khusus bagi masyarakat yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) pada kluster Desil 1 hingga 3.
(Yusuf Mugni)



