GARUT, FOKUSJabar.id: Kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Ulama Pondok Pesantren (Ponpes) Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) menyambut antusias Musyawarah Cabang (Muscab) ke-X yang akan di gelar di Ponpes Zawiyah Samarang, Minggu (26/4/2026)
Plt Ketua DPC PPP sekaligus Ketua Panitia Muscab Garut, Asep De Maman menjelaskan, pemilihan Pondok Pesantren Zawiyah Samarang merupakan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sebagai salah satu upaya pendekatan kepada para ulama dan pesantren tempat lahirdan di besarkan partai berlamban Ka’bah.
BACA JUGA:
Kisruh Kepengurusan DPP PPP Berimbas ke DPC Kota Banjar
Menurut Dia, keluarga besar Pondok Pesantren Zawiyah Samarang menyambut baik dan menyetujui di jadikan tempat pelaksanaan Muscab PPP Garut.
“Kami ikuti arahan DPP yang menginstruksikan Muscab di gelar di lingkungan pesantren. Dan Alhamdulillah, Yayasan Ponpes Zawiyah menyambut baik dan mengizinkannya,” kata Asep De Maman,Jumat (24/4/2026).
“Ini baik sekali. Muscab di lingkungan pesantren sebagai langkah awal mengembalikan marwah PPP kepada jati diri. Di mana secara historis terlahir dari rahim ulama dan pesantren,” Dia menambahkan.
Asep menyebut, persiapan pelaksanaan sudah 90 persen. Baik mengenai masalah teknis pelaksanaan maupun kepesertaan.
“Hampir semua kader (struktural maupun kultural) menyambut antusias Muscab di gelar di lingkungan pondok pesantren. Bahkan mereka telah memberikan pernyataan resmi kepada kami,” tegas Asep.
Penyelenggaraan Muscab X di tanggapi antusias Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Al Burhaniyyah, Cijelereun, Bayongbong, KH. Ade Burhan.
Menurut Majelis Syariah DPC PPP Garut, hal ini menjadi momentum awal kebangkitan PPP sebagai partai yang sejak awal berdirinya gigih berjuang menegakkan syariat Islam.
Ade Burhan yang juga sesepuh Himpunan Alumni Pesantren Miftahul Huda (Hamida) mendukung penuh Muscab X.
“Sebagai orang yang berjuang sejak dulu, saya menaruh harapan baru PPP bisa bangkit lagi menjadi partai besar yang berjuang dalam menegakkan syariat Islam, berdiri serta berjuang bersama para ulama dan santri untuk kemajuan agama, bangsa dan negara,” tegas Ade.
BACA JUGA:
DPW PPP Jabar Gugat Balik Pengganggu Partai
Pimpinan Pondok Pesantren Al Islah Badahiyah Rancabolang, Bayongbong, KH. Aceng Miraz Sibawaeh menyatakan, PPP memilih tempat Muscab di Ponpos sangat baik.
Bagaimana tidak, PPP dulu lahir dari para ulama dan pondok pesantren sebagai wadah aspirasi politik mejalankan visi Amar ma’ruf nahi munkar demi kepentingan bangsa dan negara.
“Selama beberapa dekade, PPP terkesan hampir meninggalkan ulama dan pesantren, padahal PPP lahir dari sana. Sehingga ciri khas PPP sebagaimana di kehendaki para pendiri sebagai wadah perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar nyaris di abaikan dan malah larut dengan arus warna politik yang di kembangkan partai-partai lain dan PPP terus mengecil. Bahkan pemilu 2024 lalu kita gagal masuk ke parlemen,” katanya.

Oleh karena itu, jika ada upaya arah PPP untuk kembali mendekat kepada para ulama dan pesantren serta mewadahi sekaligus memperjuangkan aspirasinya maka PPP akan berjaya kembali.
“Insya Allah, kalau benar-benar PPP bersama lagi dengan para ulama, ke depan akan kembali bersinar,” imbuhnya.
Sementara Wakil Ketua DPW PPP Jawa Barat, Yudi Muhamad Aulia (Yudi Kamsut) mengapresiasi langkah DPC PPP Garut melaksanakan Muscab di lingkungan pondok pesantren.
Dia menyebut, pesantren sebagai basis massa PPP selama ini terkesan semakin di tinggalkan. Sehingga PPP juga semakin di tinggalkan.
“Saya dukung penuh langkah ini. Dan ke depan PPP harus semakin banyak melibatkan para ulama dan pesantren. Baik dalam menentukan kebijakan partai maupun langkah perjuangan pemenangan partai berlambang Ka’bah,” tegas Yudi Kamsut.
Cucu dari dua Kyai Kharismatik Garut yakni KH. Yusuf Taudziri (Ponpos Darussalam Wanaraja), dan pendiri Ponpes Musadaddiyah (KH. Anwar Musddad) mengaku, Dia sempat mendengar letupan kecil upaya penolakan terkait pelaksanaan Muscab di pesantren.
Yudi Kamsut menganggapnya hanya sekedar kesalahfahaman kecil yang pada akhirnya semua sepakat pelaksanaan Muscab di Ponpes Zawiyah.
“Aneh saja, masa iya sih kader PPP menolak kegiatan partai di laksanakan di Pesantren. Maka saya anggap mereka belum berpikir secara jernih tentang kepentingan kebesaran partai. Alhamdulillah semua bisa di selesaikan” singkat Yudi Muhammad Aulia.
(Bambang Fouristian)


