BANDUNG, FOKUSJabar.id: Dalam momentum Hari Kartini, refleksi tentang peran dan kesejahteraan perempuan kembali mengemuka.
Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, kebutuhan akan ruang aman untuk berbagi dan merawat diri menjadi semakin relevan, bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.
BACA JUGA:
Bupati Garut Dorong Perempuan jadi Pemimpin Adaptif di Era Digital
Gagasan itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Kartini Circle di Locus Work.
Kegiatan ini mempertemukan perempuan lintas usia dari 21 hingga 59 tahun, dalam suasana yang hangat dan setara.
Balutan kebaya yang di kenakan para peserta menghadirkan nuansa reflektif menghubungkan semangat perjuangan masa lalu dengan realitas perempuan masa kini.
Di balik penyelenggaraannya, PT Sinkona Indonesia Lestari bersama brand Selensia mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih membumi.
Alih-alih sekadar perayaan simbolik, kegiatan ini di fokuskan pada pengalaman personal, tentang bagaimana perempuan bisa lebih jujur pada diri sendiri, mengenali emosi dan memberi ruang untuk beristirahat dari tekanan peran sehari-hari.
Salah satu sesi yang cukup membekas adalah diskusi kesehatan mental bersama Fainna Safitri.
Dalam sesi tersebut, peserta di ajak melihat kerentanan dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sebagai kelemahan, melainkan bagian yang manusiawi dan perlu di terima.
Percakapan berlangsung cair. Bahkan cenderung intim, seolah setiap orang di beri kesempatan untuk di dengar tanpa di hakimi.
Suasana ruang turut mendukung proses tersebut. Aroma lembut dari essential oil yang di gunakan menghadirkan ketenangan, membantu peserta lebih fokus dan rileks.
Detail kecil seperti ini terasa sederhana, namun memberi pengaruh nyata terhadap kenyamanan selama kegiatan berlangsung.
BACA JUGA:
GOW Kota Tasikmalaya Satukan Semangat Idulfitri dan Hari Kartini untuk Perkuat Pemberdayaan Perempuan
Menariknya, kegiatan tidak berhenti pada diskusi. Sesi melukis tote bag menjadi ruang ekspresi yang lebih bebas, semacam jeda reflektif yang memungkinkan peserta menuangkan perasaan dalam bentuk visual. Bagi sebagian orang, ini menjadi cara lain untuk “berbicara” tanpa kata-kata.
Direktur Utama PT Sinkona Indonesia Lestari, Wisnu Sucahyo, menyampaikan bahwa tantangan perempuan hari ini tidak hanya soal kesetaraan di ruang publik. Tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan diri.
Pernyataan ini terasa relevan dengan apa yang terjadi di ruang acara. Di mana merawat diri bukanlah bentuk keegoisan, tetapi bagian dari keberlanjutan hidup itu sendiri.
Pada akhirnya, semangat Kartini tampak hadir dalam bentuk yang lebih sederhana namun dekat, keberanian untuk berhenti sejenak, mengenali diri dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih.
Bukan lagi sekadar tentang emansipasi dalam arti besar, tetapi juga tentang hal-hal kecil yang sering terlewat. Seperti mendengar diri sendiri dan merawatnya dengan lebih sadar.
(LIN)



