spot_imgspot_img
Minggu 19 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Konferensi Asia Afrika, Peran Vital Kota Bandung dalam Sejarah Diplomasi Internasional

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kota Bandung mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah dunia saat menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18–24 April 1955. Peristiwa kolosal ini menjadi simbol lahirnya kekuatan baru dari bangsa-bangsa berkembang di tengah kepungan pengaruh negara-negara besar.

Tepat 71 tahun silam, Bandung menyatukan berbagai negara dengan latar belakang berbeda ke dalam satu visi solidaritas. Momentum ini muncul saat dunia masih terbelah oleh persaingan ideologi antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah kendali Uni Soviet.

Baca Juga: Wujudkan Disiplin Ruang Publik, Dishub Kota Bandung Bersihkan Parkir Liar di Kawasan Panjunan

Perdana Menteri Indonesia saat itu, Ali Sastroamidjojo, mencetuskan gagasan forum lintas benua ini dalam pertemuan di Kolombo tahun 1954. Presiden Soekarno kemudian memberikan dukungan penuh hingga akhirnya pertemuan di Bogor menetapkan Bandung sebagai pusat pelaksanaan mandat bersejarah tersebut.

Persiapan Matang dan “Langkah Bersejarah”

Menjelang konferensi, Pemerintah Indonesia melakukan persiapan intensif di jantung Kota Bandung. Panitia menyulap Gedung Merdeka sebagai ruang sidang utama, serta menyiapkan Hotel Homann dan Hotel Preanger untuk menyambut para delegasi dari 29 negara.

Pada pagi hari tanggal 18 April 1955, ribuan warga memadati Jalan Asia Afrika dengan antusiasme tinggi. Para pemimpin dunia berjalan kaki dari hotel menuju Gedung Merdeka dalam momen ikonik yang populer dengan sebutan “Langkah Bersejarah”.

Presiden Soekarno membuka konferensi tersebut melalui pidato legendaris berjudul “Let a New Asia and a New Africa be Born”. Ia membakar semangat para delegasi untuk bersatu melawan sisa-sisa penjajahan dan mewujudkan perdamaian abadi tanpa dibayang-bayangi kekuatan nuklir negara adidaya.

Dasasila Bandung: Warisan Abadi untuk Dunia

Selama satu minggu penuh, para peserta membahas berbagai isu krusial mulai dari kerja sama ekonomi hingga kedaulatan politik. Meskipun sempat muncul perbedaan pandangan yang tajam di Komite Politik, para delegasi berhasil menuntaskan dialog melalui musyawarah yang konstruktif.

Hasil puncaknya, konferensi ini melahirkan Dasasila Bandung pada 24 April 1955. Dokumen ini memuat sepuluh prinsip dasar, antara lain penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, persamaan derajat, serta penyelesaian konflik secara damai.

Prinsip-prinsip ini kemudian menginspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok dan membuktikan bahwa negara berkembang mampu memainkan peran sentral dalam menjaga stabilitas global.

Hingga hari ini, aura perjuangan tersebut masih kental terasa di kawasan Jalan Asia Afrika. Gedung Merdeka berdiri kokoh bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai monumen hidup yang mengajarkan generasi masa kini tentang pentingnya persatuan dan komitmen dalam menciptakan keadilan dunia.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru