PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Kabupaten Pangandaran meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami. Pihak BMKG dan BNPB menambah empat unit Early Warning System (EWS) baru untuk melengkapi lima unit sirene yang sudah ada, Sabtu (7/11/2026).
Penambahan alat deteksi dini ini bertepatan dengan peringatan Hari Tsunami Sedunia setiap 5 November. Momen ini juga mewarnai gelaran kegiatan Tsunami Ready dari UNESCO dan UN DRR di Pangandaran, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: Musim Hujan di Pangandaran Mundur, BMKG Prediksi Baru Turun Akhir November 2026
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, menegaskan bahwa sembilan EWS ini memegang peran vital sebagai alat peringatan dini bagi warga pesisir.
“Dulu kita belum punya alat apa-apa dari kejadian tahun 2006. Sekarang alhamdulillah kami sudah memiliki alat pendeteksi tsunami, gelombang, bahkan ada deteksi kebakaran. EWS aslinya lima, sekarang nambah empat lagi jadi kita punya sembilan,” kata Dodo.
Sebaran Titik Sirene dan Cara Kerja Sistem
BPBD menyebar sembilan unit EWS pada titik-titik rawan sepanjang pantai Pangandaran. Lima titik lama mencakup kawasan Telkom, Balawista, Pos 4, Kantor Kecamatan, serta Bojong Salawe.
Sementara itu, empat titik baru berada di Sunset Pangandaran, Batukaras, Madasari, dan Legok Jawa. Pemilihan Legok Jawa merujuk pada catatan sejarah tsunami 2006 yang menelan banyak korban di lokasi tersebut.
“Kenapa Legok Jawa, karena Legok Jawa termasuk korban yang banyak waktu tsunami, jadi kemarin kami siapkan di sana,” jelas Dodo.
Petugas mengendalikan seluruh sirene EWS secara terpusat melalui satu tombol di kantor BPBD Pangandaran. Petugas akan langsung menekan tombol utama saat BMKG merilis peringatan potensi tsunami agar seluruh sirene berbunyi serentak.
“Jika ada peringatan tsunami dari BMKG berpotensi tsunami, kami akan memencet tombol yang di sembilan lokasi itu akan berbunyi semuanya,” ujar Dodo.
Guna menjaga fungsi alat, BPBD menggelar uji coba suara sirene rutin setiap tanggal 26. Langkah ini sekaligus mengedukasi masyarakat agar mengenali bunyi tanda bahaya tsunami.
“Setiap tanggal 26 itu mengadakan tes suara sirene supaya masyarakat tahu bahwa sirene itu adalah sirene tsunami,” ungkapnya.
Saat ini lima EWS lama terus beroperasi aktif, sedangkan petugas masih menuntaskan proses pemasangan empat unit EWS baru.
BPBD Jabar Imbau Warga Rawat Fasilitas EWS
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ame, menilai sembilan EWS sudah memadai untuk mengover garis pantai Pangandaran sepanjang 91 kilometer. Meski demikian, ia mengingatkan seluruh pihak untuk menjaga keberadaan fasilitas keselamatan tersebut.
“EWS itu tolong dipelihara bersama, jangan sampai mati. Ada beberapa alat misalnya di Cianjur, Sukabumi, karena tidak dipelihara jadi barang hiasan,” tegas Teten.
Teten meminta jajaran Destana, pihak kecamatan, relawan, hingga masyarakat lokal aktif merawat alat peringatan dini tersebut secara konsisten.
“Bencana tidak tiap hari, tapi alat ini aset kita. Tolong dijaga bersama,” pungkasnya.
(Sajidin)




