BANDUNG, FOKUSJabar.id: Konferensi Asep Asep (KAA) ke-7 oleh Paguyuban Asep Dunia (PAD) diselenggarakan di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Jalan Naripan No7-9, Kota Bandung Jawa Barat (Jabar), Sabtu (7/11/2026).
Agenda akbar dua tahunan ini menjadi momentum strategis untuk mempererat tali persaudaraan sesama pemilik nama Asep dari seluruh penjuru Nusantara hingga mancanegara.
BACA JUGA:
30 Ton Sampah Menggunung di Tegalega Bandung, Farhan Desak Kementerian PU Bertindak
KAA ke-7 mengusung motto Ti Asep Ku Asep Keur Indonesia. Konferensi tersebut tidak hanya sekadar ajang temu kangen. Namun juga sebagai wadah transformasi kolektif untuk menebar kontribusi nyata di berbagai sektor. Mulai dari sosial-budaya, ekonomi hingga pendidikan.
Menurut Presiden Paguyuban Asep Dunia, Asep Jaelani, nama Asep bukan sekadar identitas diri. Melainkan simbol kebersamaan yang sarat nilai filosofis Sunda. Yakni Agama Santun Empati dan Pesona.
“Konferensi Asep Asep bukan sekadar ajang kumpul-kumpul unik. Namun sebuah gerakan kebudayaan dan wadah persatuan yang membawa kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, PAD memberikan penghargaan Honorary Causa Asep (HC Asep) kepada sejumlah tokoh atas dedikasi dan kontribusinya bagi bangsa, negara serta pelestarian budaya Sunda.
Salah satunya, Ketua Umum (Ketum) Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen.
Selain itu, konferensi menghasilkan Deklarasi Bandung yang memuat tujuh poin penting. Yakni, persatuan, hukum, kebudayaan, isu global, teknologi dan ketahanan pangan.
Hasil deklarasi rencananya akan disampaikan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto sebagai bentuk kontribusi pemikiran para tokoh, budayawan dan seniman untuk kemajuan Indonesia.
Holil Aksan Umarzen mengucapkan terima kasih dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada PAD atas anugerah HC Asep yang diberikan kepadanya bersama sejumlah tokoh Sunda lainnya. Termasuk Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Dia menyebut, ini sebuah kehormatan, penghargaan dan amanah untuk menjaga warisan budaya Sunda.
“Bagi saya, anugerah ini bukan sekadar penghormatan atas sebuah nama. Tetapi juga bentuk apresiasi terhadap identitas, jati diri dan kekayaan budaya Sunda yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkap Holil.
BACA JUGA:
ASICS Indonesia Gelar Penjaringan Bakat Sepak Bola Muda di Bandung
Dia mengatakan, nama Asep telah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat Sunda. Di balik sebuah nama, tersimpan sejarah, nilai persaudaraan, keramahan, kesederhanaan, serta semangat kebersamaan.
Menurutnya, konferensi ini sebagai momentum yang sangat positif untuk memperkuat persaudaraan orang Sunda, memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada masyarakat dunia, sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas dan asal-usul kita.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran PAD, panitia penyelenggara serta semua pihak yang telah memberikan penghormatan ini. Mudah-mudahan menjadi pengingat sekaligus amanah untuk terus berkontribusi bagi kemajuan budaya Sunda.”
“Sebab, menjaga nama baik bukan hanya tentang siapa nama kita. Tetapi tentang bagaimana kita memberi makna dan manfaat bagi sesama. Asep Ngahiji, Sunda Ngawangi, Budaya Lestari,” tegas Holil Aksan Umarzen.
Ia berharap, organisasi Asep tidak hanya menjadi wadah silaturahmi. Tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia.
(Bambang Fouristian)




