PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui sistem Warning Receiver System (WRS) Engine untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana di daerah. Sistem baru ini menghadirkan fitur data yang jauh lebih lengkap serta canggih, Sabtu (7/11/2026).
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Dr. Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa WRS Engine kini menyajikan informasi cuaca, tinggi gelombang laut, kualitas udara, hingga titik hotspot kebakaran hutan secara real-time.
Baca Juga: Pangandaran Kini Punya 9 EWS Tsunami, Satu Tombol di BPBD Bisa Bunyikan Semua Sirene
“Dulu hanya gempa bumi saja dan tsunami. Sekarang sistemnya menjadi lebih lengkap lagi. Kita bisa melihat cuaca, melihat tinggi gelombang laut, melihat kualitas udara, bahkan melihat titik hotspot,” ujar Suaidi di Pangandaran.
BMKG merancang sistem ini khusus untuk memperkuat kinerja Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD di berbagai daerah. Saat ini sebanyak 500 unit WRS Engine telah beroperasi menyebar di seluruh wilayah Indonesia.
Tahan Sinyal Lemah Lewat Embedded System
Teknologi anyar ini mengusung keunggulan embedded system. Berbeda dari sistem lama yang bergantung penuh pada koneksi cloud BMKG dan rawan meleset saat internet memburuk, versi baru ini hanya menarik data berbasis teks ringkas sehingga tampilan monitor terus menyala.
“Kalau internetnya lemah, dia jadi blank. Dengan alat yang sekarang, internet dengan kondisi lemah pun bisa ditampilkan,” kata Suaidi.
Suaidi menegaskan bahwa WRS Engine berfungsi khusus sebagai layar penampil informasi berita bencana, bukan sebagai alat pendeteksi langsung. BMKG tetap memasang perangkat deteksi gempa seperti seismograf secara terpisah. Jawa Barat sendiri menampung sekitar 35 unit alat deteksi gempa, dengan dua hingga tiga unit berada di Pangandaran.
Akurasi Peringatan Dini Capai 98 Persen
BMKG juga mendongkrak presisi perkiraan cuaca lokal berkat dukungan pemodelan super komputer dan metode impact-based forecast hingga skala desa.
“Untuk 1 jam ke depan, akurasinya 98 persen. 3 jam ke depan akurasinya turun menjadi 95 persen. 10 hari ke depan akurasinya tinggal 60 sampai 70 persen,” jelas Suaidi.
Guna mempermudah pemantauan tinggi gelombang laut, BMKG menerapkan skema kode warna pada layar pemantau. Warna hijau menandakan kondisi aman di bawah 1,2 meter, kemudian warna kuning menunjukkan status waspada, dan selanjutnya warna merah menandakan ancaman gelombang ekstrem di atas 3 meter.
“Warna merah itu sudah di atas 3 meteran. Juga Warna kuning waspada. Dan hijau itu aman,” pungkasnya.
(Sajidin)




