spot_imgspot_img
Sabtu 31 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sewa Traktor Petani Majalengka Naik Jadi Rp300 Ribu, Bantuan Alsintan Akhirnya Datang

MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: Keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) serta lonjakan biaya pengolahan lahan mengancam produktivitas petani. Kendala ini menyulitkan para petani di Desa Tanjungsari, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka.

Petani setempat menghadapi keterbatasan unit traktor untuk membajak sawah. Kondisi ini memaksa mereka menyewa traktor dengan tarif yang terus melambung tinggi.

Baca Juga: Kosong 18 Bulan, Kursi Direktur Operasional BPR Majalengka Akhirnya Terisi

Anggota DPR RI Dapil Jabar IX Ujang Bey merespons masalah ini dengan menyerahkan satu unit traktor. Bantuan alsintan tersebut langsung menyasar Kelompok Tani Cigula.

Ujang menegaskan bahwa dukungan sektor pertanian membutuhkan pembenahan jaringan irigasi secara menyeluruh. Setiap wilayah memiliki tantangan tata kelola air yang berbeda.

Ujang menyoroti potensi banjir saat musim hujan akibat kelangkaan saluran irigasi yang memadai.

“Di sini masih ada sekitar 200 meter saluran irigasi pertanian yang harus diperbaiki. Kalau itu diperbaiki, insyaallah banjir bisa berkurang, apalagi nanti memasuki musim penghujan, In Syaa Alloh nanti kalau ada program keterkaitan itu nanti saya akan aspirasikan dan perjuangkan” kata Ujang kepada Sejumlah awak media, Sabtu (31/10/2026).

Ujang turut memperjuangkan bantuan combine harvester dan proyek irigasi di Majalengka, Sumedang, serta Subang. Ia berkomitmen mengawal perbaikan infrastruktur demi mendongkrak produktivitas panen warga.

Beban Biaya Sewa Melambung dan Harapan Air MT-3

Ketua Kelompok Tani Cigula Suryo mengapresiasi penyerahan bantuan traktor tersebut. Ketiadaan traktor mandiri sebelumnya kerap memicu keterlambatan jadwal olah lahan.

Biaya sewa traktor di wilayahnya melonjak dari Rp250 ribu menjadi Rp300 ribu per 100 bata.

“Kalau sebelum dapat bantuan, kadang-kadang bisa terlambat penggarapan karena harus menggunakan traktor pengamen (sewaan). Mudah-mudahan dengan adanya bantuan ini bisa mengurangi beban petani dan memperlancar pola tanam, jangan sampai ketinggalan sama kelompok-kelompok yang lain,” ujar Suryo kepada FOKUSJabar.

Suryo menambahkan bahwa petani Tanjungsari masih memerlukan perbaikan saluran irigasi tersier. Saluran yang belum rampung sering tersumbat sampah hingga menghambat pasokan air.

Krisis air juga mengancam area persawahan saat memasuki musim tanam ketiga (MT-3). Petani membutuhkan pasokan pompa air agar dapat mengolah seluruh lahan persawahan.

“Kalau musim MT-3, air di area sawah ini enggak tercukupi semua. Makanya suka mengajukan pompa air. Mudah-mudahan ke depan area sawah Cigula bisa ditanami semua pada waktu MT-3,” ungkapnya.

Masyarakat berharap pemerintah memberikan perhatian berimbang antara penyediaan alsintan, perbaikan irigasi, dan pengadaan pompa air.

(Jilly Ortega)

spot_img

Berita Terbaru