spot_imgspot_img
Sabtu 31 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pangandaran Jadi Laboratorium Sosial UI, Ada Isu Lobster hingga Krisis Iklim

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Indonesia (UI) memilih Pangandaran sebagai laboratorium sosial. Kampus ini menerjunkan mahasiswa untuk mendalami mata kuliah Jejaring dan Ruang Transnasional.

Dosen pengampu Prof. Dr. Dra. Ani Widyani Soetjipto, MA memimpin langsung kegiatan tahun kedua ini.

Baca Juga: Berawal dari Secangkir Kopi Rp10 Ribu, Iis Bangun Bisnis Kopi Silalabak di Pangandaran

Pada penyelenggaraan tahun pertama, mahasiswa HI UI menjalankan studi lapangan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Prof. Ani menegaskan bahwa Pangandaran menyimpan kompleksitas persoalan yang mencerminkan keterkaitan nexus lokal-global secara nyata.

“HI tidak lagi hanya soal diplomasi, perang, dan keamanan ala Pak Juwono Sudarsono 20-30 tahun lalu. HI hari ini adalah nexus lokal-global. Yang personal itu internasional, yang internasional itu berdampak pada kehidupan personal di mana-mana,” ujar Prof. Ani di Padaherang, Pangandaran, Jumat (30/10/2026) lalu.

Prof. Ani mendorong mahasiswa HI untuk terjun langsung memahami realitas masyarakat yang rentan dan tersisih. Mahasiswa tidak boleh sekadar menyerap teori akademis di ruang kelas.

“Diplomat kita gagap soal Papua karena tidak pernah injak Timika. Padahal isu migrant workers, food estate di Timika, ekstraksi tambang di Halmahera, itu semua isu HI,” kata Prof. Ani.

Lima Alasan Utama Relevansi Pangandaran Sebagai Lab Sosial

Prof. Ani membeberkan lima alasan strategis memilih Pangandaran dengan pendampingan mitra seperti SPP, Kiara, Mongabay, AMAN, Walhi Jabar, dan Greenpeace.

Pertama, krisis iklim memukul langsung perekonomian masyarakat nelayan dan pesisir. Warga menghadapi ancaman abrasi hingga kehilangan mata pencaharian.

Kedua, kawasan wisata Pangandaran menghadapi benturan konsep mass tourism melawan quality tourism.

Ketiga, daerah ini menyimpan potensi konflik tata ruang. Hutan Pananjung yang berfungsi sebagai benteng alami tsunami kini mengalami alih fungsi menjadi permukiman warga.

Keempat, Pangandaran masuk dalam rantai pasok global. Praktik penyelundupan benih lobster ke Vietnam dan Jepang memperlihatkan ketimpangan relasi kuasa.

Kelima, mahasiswa menemukan potensi konflik baru akibat lalu lintas tongkang batu bara di kawasan konservasi laut.

Membandingkan Kasus Pulau Pari, Bali, dan Pangandaran

Prof. Ani menyejajarkan dinamika Pangandaran dengan konflik agraria di Pulau Pari. Korporasi di Pulau Pari menggeser posisi nelayan demi proyek pembangunan vila mewah.

Gerakan nelayan Pulau Pari kemudian berjejaring secara transnasional hingga menggugat emisi karbon perusahaan semen Holcim di Swiss.

Sementara di Pangandaran, ketidakjelasan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah memicu tumpang tindih tata kelola.

Prof. Ani merujuk contoh penutupan TPA Suwung Bali yang bersinggungan dengan tanah adat demi Proyek Strategis Nasional.

Kolaborasi Seni Budaya dan Penguatan Identitas Global

Mahasiswa HI UI turut menggandeng SMK Bakti Karya Pangandaran dan komunitas seni Bumi Neng Mom.

Prof. Ani menekankan bahwa arus globalisasi membutuhkan kecakapan komunikasi lintas budaya yang solid.

“Orang Indonesia itu pendiam, sopan, verbal. Bule itu frank dan tulisan. Dalam relasi kuasa, yang pendiam dianggap bodoh. Cornel di Bumi Neng Mom mengajarkan: defense your culture, you have to be confident. You can speak their language, you can write,” ujar Prof. Ani.

Prof. Ani meyakini aksi lokal di daerah mampu membentuk norma serta hukum internasional baru.

“Mahasiswa HI mau jadi diplomat, wartawan, banker sekalipun, harus tahu yang diperjuangkan adalah rakyat dan bangsanya yang beragam, bukan hanya Jakarta,” pungkas Prof. Ani.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru