PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Iis Sunisih menyematkan nama Kopi Silalabak pada usaha kopinya di Dusun Karangmangal, Desa Sidamulih, Kecamatan Sidamulih, Pangandaran. Nama ini bukan sekadar merek dagang biasa.
Kata sila memiliki arti duduk, sedangkan labak berarti lorong. Iis memaknai Silalabak sebagai gambaran seseorang pada titik terendah lorong kehidupan yang terus memelihara harapan untuk bangkit.
Baca Juga: Fenomena Serangga Lembing Serbu Permukiman Warga di Padaherang Pangandaran
Makna mendalam ini membakar semangatnya untuk tekun membangun usaha dari modal secangkir kopi seharga Rp10.000.
“Dulu saya jualan di kantin sekolah, suami kerja serabutan. Titik terendah itu ya di situ. Tapi dari lorong itu kita coba bangkit,” kata Iis Sabtu (31/10/2026).
Kisah bisnis Iis bermula pada 2017 saat ia mengunjungi acara Hari Tani. Pengalaman membeli secangkir kopi seharga Rp10.000 memicu keinginan kuat untuk menanam dan menjual kopi sendiri.
Pada awal 2019, Iis membongkar tabungan keluarga demi membeli lahan kebun kopi seluas 1 hektar di Kertaharja. Ujian berat menghampiri pada akhir 2019 saat pemesan membatalkan pembelian olahan kopi merahnya.
“Dari situ saya putuskan bikin merek sendiri. Namanya Silalabak itu tadi, pengingat kalau kita pernah di bawah, tapi harus bangkit,” ujarnya.
Inovasi Kopi Gayem Hingga Rumah Edukasi Kopi (Reduksi)
Iis merintis Kopi Silalabak sejak 2019 dan mulai aktif mendistribusikan produk pada 2021.
Kini usaha Kopi Silalabak rutin memasok roasted beans ke 10 kedai dan 5 hotel di wilayah Pangandaran.
Iis juga meluncurkan inovasi unik berupa Kopi Gayem, yaitu biji kopi sangrai balut gula aren yang bisa konsumen kunyah langsung. Pihaknya turut memproduksi varian masker kopi organik.
Iis mempekerjakan 4 orang tenaga kerja lokal untuk mengoperasikan unit usaha. Ia juga mendirikan Rumah Edukasi Kopi Silalabak (Reduksi) di Sidamulih.
Fasilitas Reduksi mengajak para pengunjung mempelajari seluruh proses pengolahan kopi, mulai dari perawatan kebun hingga teknik menyeduh kopi.
(Sajidin)



