MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: Kehadiran Wisata Bukit Hortensia di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, mulai membuka peluang rezeki bagi warga sekitar. Objek wisata baru ini menyerap sekitar 15 hingga 20 warga lokal untuk mengelola area parkir.
Pemilik Bukit Hortensia, Mamay Rosmayati, merangkul warga setempat dalam kegiatan operasional harian di Blok Sukamanah.
Baca Juga: Berawal dari Hobi Bunga, Mamay Sulap Kebun Pribadi Jadi Wisata Bukit Hortensia Majalengka
“Di parkir, ya 15 mah 20 ada,” ujar Mamay kepada FokusJabar, Minggu (11/10/2026).
Mamay berharap geliat pariwisata ini terus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat seiring lonjakan angka kunjungan wisatawan.
“Jadi tambah ramai masyarakat, kan tambah penghasilannya, pendapatannya meningkat,” tuturnya.
Optimisme tersebut menguat setelah angka kunjungan wisatawan menunjukkan tren kenaikan saban hari. Mamay mencatat kehadiran 70 pengunjung pada hari ketiga pembukaan. Jumlah tersebut melonjak menembus 150 hingga lebih dari 250 orang per hari.
Tawarkan Tiket Murah dan Stroberi Petik Sendiri
Selain menyuguhkan hamparan bunga berlatar Gunung Ciremai, tempat wisata ini menawarkan aktivitas memetik buah stroberi dan tomat.
Pengelola mematok tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Sementara itu, wisatawan dapat membeli buah stroberi hasil petik seharga Rp80.000 per kilogram.
Dorong Perbaikan Akses Infrastruktur Jalan
Kendati demikian, Mamay menyoroti pentingnya dukungan fasilitas jalan yang memadai di kawasan Argalingga. Ia mendesak pemerintah membenahi akses jalan demi mempermudah jalur wisatawan menuju Bukit Hortensia serta objek wisata Curug Sawer.
Mamay mengungkapkan bahwa semak belukar kini menutupi jalur menuju air terjun Curug Sawer sehingga menyulitkan para pelancong.
“Harapannya ya dibagusin, soalnya ini kan akses buat ke wisata lain juga bisa ke Curug Sawer,” katanya.
Ia meyakini perbaikan jalan bakal menggairahkan sektor pariwisata kawasan Argalingga secara luas. Ketersediaan akses yang mulus akan mengalirkan dampak ekonomi yang makin merata bagi masyarakat desa.
(Jilly Ortega)



