spot_imgspot_img
Senin 12 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

14 Tahun Pangandaran, Ketua Presidium Ungkap Mimpi Besar yang Belum Terwujud

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Di balik kesuksesan pemekaran wilayah, perjalanan Kabupaten Pangandaran menyisakan sejumlah angan-angan besar yang belum tuntas. Salah satunya adalah impian menghadirkan ikon budaya serta destinasi wisata kelas dunia.

Hal tersebut terungkap dari pernyataan Ketua Presidium Pemekaran Kabupaten Pangandaran, Supratman, saat merefleksikan Milangkala ke-14 Pangandaran di kediamannya di Kecamatan Sidamulih, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: Pojok Baca Lapang Merdeka Pangandaran Kembali Dibuka

Supratman menilai Pangandaran memerlukan daya tarik budaya yang kuat agar memikat pelancong internasional, bukan sekadar wisatawan lokal.

“Karena Jogja punya Ramayana, Bali punya tari Kecak, Jakarta punya Ondel-ondel. Pangandaran punya apa?” ujar Supratman.

Ia sempat merintis gagasan tarian ikonik bernama Pancar Sura. Tarian ini merupakan metamorfosis seni tradisional Ronggeng Gunung yang dikemas secara modern.

Sayangnya, gagasan tersebut kandas karena pembiayaan murni berasal dari kantong pribadinya tanpa sokongan berkelanjutan dari pemerintah daerah.

“Tapi ternyata yang membiayai hanya saya sendiri. Hanya saya yang merintis. Sampai sekarang tidak dilanjutkan lagi,” ungkapnya.

Soroti Lemahnya Komunikasi dengan Pemda

Supratman menilai terputusnya tali silaturahmi antara kepemimpinan daerah dan tokoh presidium menjadi batu sandungan utama. Ia bahkan merasa gagasan para pendiri daerah kerap dianggap sebagai hal tabu oleh kepemimpinan berikutnya.

“Jangan kepemimpinan kepala daerah yang tidak nyambung dengan presidium, itu malah jadi gagasan presidium menjadi alergi bagi mereka. Ya, macet semua,” ujarnya.

Impikan Wisata Medis dan Hotel Bertaraf Internasional

Selain seni budaya, Supratman memimpikan Pangandaran menjelma sebagai pusat wisata medis (medical tourism) lewat pembangunan rumah sakit bertaraf internasional.

Ia berkaca pada kebiasaan warga Indonesia yang kerap berobat ke Singapura. Kehadiran fasilitas kesehatan berstandar global di Pangandaran mampu mendongkrak perekonomian lokal secara masif.

“Kalau nanti rumah sakit internasional di Pangandaran ini ada, orang yang berobat ke Singapura tidak hanya berobat saja. Keluarganya ikut, nginap, hotel-hotelnya isi, kulinernya makan di restorannya, taksi dan akomodasinya kepake, jadi pendapatan juga,” jelasnya.

Ia juga berharap Pangandaran segera memiliki hotel-hotel representatif untuk menampung event-event akbar tingkat nasional maupun internasional.

“Dari Jakarta, dari PDI mau kongres tidak harus ke Bali. Kalau Pangandaran menyiapkan lokasinya yang memadai, mungkin bisa di Pangandaran. Itulah tahapan-tahapan menuju kepada pariwisata internasional,” pungkasnya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru