spot_imgspot_img
Selasa 6 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

47 Kasus HIV/AIDS di Pangandaran, Ada yang Baru Tahu Saat Skrining Calon Pengantin

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pangandaran terus memberikan perhatian serius terhadap penanganan HIV/AIDS. Lembaga ini mencatat sedikitnya 47 kasus HIV/AIDS yang masuk dalam rekapitulasi resmi hingga September 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pangandaran Endang Suhendi menjelaskan bahwa petugas di lapangan juga menemukan enam kasus baru. Keenam pasien tersebut sudah terdiagnosis, tetapi belum masuk ke dalam rekapitulasi data utama.

Baca Juga: Bupati Pangandaran Bantah Anggaran Milangkala ke-14 Rp2 M

Berbagai kelompok masyarakat terpapar infeksi virus ini. Sebagian penderita baru menyadari kondisi tubuhnya setelah kesehatan mereka menurun drastis, sementara sebagian lainnya terdeteksi lewat pemeriksaan rutin.

Program pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin (Catin) menjadi salah satu sarana efektif untuk mendeteksi penularan secara dini.

“Ada pasangan calon pengantin yang saat mengikuti program Catin, keduanya terdiagnosis positif HIV/AIDS,” kata Endang, Selasa (6/10/2026).

Pihak puskesmas langsung memberikan perawatan intensif serta pendampingan medis kepada pasangan tersebut. Tim medis mewajibkan penderita mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara berkala guna menekan laju perkembangan virus di dalam tubuh.

Beragam Kelompok Masyarakat Terdeteksi Terpapar Virus

Data menunjukkan penyebaran HIV/AIDS menyasar berbagai kalangan. Dari total 47 kasus terdata, tiga orang merupakan calon pengantin dan tiga lainnya merupakan ibu hamil.

Petugas juga mencatat tujuh laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), satu penderita LSL dengan komplikasi tuberkulosis (TB), dua pasangan dengan HIV, serta tiga pasangan kategori risiko tinggi.

Kasus lainnya mencakup tiga pelanggan wanita pekerja seksual (WPS), satu penderita infeksi menular seksual (IMS), delapan pasien TB, satu penderita TB yang berprofesi sebagai penjaja seksual, 11 orang dari populasi umum, dan empat wanita pekerja seksual.

Sebaran data ini membuktikan bahwa infeksi HIV/AIDS dapat menimpa siapa saja, termasuk masyarakat umum dan pasangan yang hendak membina rumah tangga. Oleh sebab itu, tes kesehatan menjadi langkah krusial untuk mendeteksi status infeksi sejak awal.

Intensifkan Layanan PDP dan Skrining Tiga Bulanan

Dinkes Pangandaran menyiagakan sejumlah fasilitas Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV untuk melayani masyarakat. Layanan ini beroperasi di Puskesmas Parigi, Cimerak, Pangandaran, Selasari, Padaherang, dan Kalipucang.

“Setiap tiga bulan sekali juga ada tes HIV bagi Wanita Pekerja Seksual (WPS),” ujar Endang.

Pemeriksaan berkala membantu petugas menemukan kasus lebih cepat sehingga penanganan medis bisa langsung berjalan. Selain pengobatan, pemberian edukasi dan pendampingan kepada kelompok berisiko tinggi menjadi kunci utama pencegahan.

Endang menegaskan bahwa edukasi secara konsisten dapat memutus rantai penularan virus di wilayah Kabupaten Pangandaran.

“Pendampingan dan edukasi terhadap Wanita Pekerja Seks (WPS) memiliki peran yang sangat krusial untuk memutus rantai penularan HIV/AIDS di Kabupaten Pangandaran,” katanya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru