spot_imgspot_img
Rabu 23 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Cuma 10 Menit dari Alun-alun Majalengka, Ada Pantun Stone dengan Batu Raksasa Mirip Situs Megalitikum

MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: Masyarakat yang ingin melepas penat tidak perlu menempuh perjalanan jauh dari pusat kota. Hanya berjarak 10 menit dari Alun-alun Majalengka, terdapat destinasi wisata alam tersembunyi bernama Pantun Stone atau Batu Pantun.

Lokasi wisata ini berada di tepi jalan raya Kelurahan Babakan Jawa, arah Pancurendang. Kawasan ini menyajikan keindahan pepohonan rimbun serta hamparan batu raksasa yang mirip peninggalan sejarah Megalitikum.

Baca Juga: Harga Cabai Kerap Naik Turun, Pemkab Majalengka Bagikan 6.000 Pohon untuk Ditanam di Rumah

Pengelola Pantun Stone, Asep Fadilah, mulai menata kawasan hutan lindung ini sejak tiga tahun lalu. Langkah ini menyusul penerbitan SK Menteri Kehutanan tentang Hutan Kemasyarakatan.

“Ada daya tarik di sini berupa hamparan batu-batu besar. Tempatnya sangat indah sekali. Kalau melihat batu-batu besar seperti ini, ya sangat jarang lah untuk di Majalengka bisa ditemui lokasi, ya Bapak menyebutnya rest area ya,” ungkap Asep saat menceritakan awal mula penataan tempat tersebut.

Warung 24 Jam dan Pembukaan Area Perkemahan

Pengelola menyediakan fasilitas warung sederhana yang beroperasi selama 24 jam penuh di tengah kawasan. Kehadiran warung ini memanjakan pengunjung yang ingin beristirahat saat malam hari.

“24 jam buka. Insyaallah, karena kebetulan ada rekan kami juga, staf kami yang istilahnya nginep di sini. Jadi kalau misalkan mau rehat, istirahat, bisa singgah di warung sini,” kata Asep.

Asep mengarahkan kawasan ini sebagai ruang terbuka hijau edukatif bagi pelajar dan generasi muda. Pria asal Bojong ini menggelar diskusi interaktif guna mengedukasi warga terkait pentingnya menjaga ekosistem hutan dan mata air.

“Bapak ingin mengajak kepada warga atau anak-anak untuk lebih mengenal tentang hutan dan lingkungan. Karena Bapak lebih fokus di sini untuk edukasi. Sambil ngopi, sambil ini, kita bisa sharing bagaimana kondisi lingkungan kita, hutan kita. Karena kebetulan di sekitar Batu Pantun ini banyak terdapat apa, sumber mata air yang harus kita jaga dan kita lindungi,” jelasnya.

Asep kini tengah menyiapkan pengembangan fasilitas baru berupa area perkemahan (camping ground) dengan tiga pos utama.

Misteri Sejarah Lokal Makam Buyut Kalang Bentang

Daya tarik Pantun Stone semakin kuat dengan adanya jejak sejarah lokal di bagian atas hutan. Pengunjung dapat berjalan kaki sekitar 10 menit menuju makam leluhur Buyut Kalang Bentang.

Asep berencana menggali silsilah tokoh tersebut bersama para ahli dan budayawan lokal.

“Nanti kapan-kapan kita ke sana, sekaligus kita bertanya, kita cari-cari ini ke juru kunci atau para budayawan lah, seperti apa silsilah atau legendanya,” pungkasnya.

Budayawan dari Grup Majalengka Baheula (Grumala), Naro, menyebut Buyut Kalang Bentang sebagai sosok sakti mandraguna dan sangat dihormati. Masyarakat menyejarahkannya di puncak gunung yang kini terkenal sebagai Puncak Kalang Bentang.

Perpaduan batu purba, sumber mata air, kemudian fasilitas kemah, dan mitos sejarah menjadikan Pantun Stone sebagai paket wisata edukatif yang lengkap.

(Jilly Ortega)

spot_img

Berita Terbaru