PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Seorang penyandang disabilitas tunadaksa mengeluhkan pelayanan administrasi RSUD Pandega Pangandaran Jawa Barat (Jabar).
Dia mengaku harus membayar biaya pengobatan meski telah meminta layanan menggunakan BPJS Kesehatan.
BACA JUGA:
Kuasa Hukum Menduga Ada Pemalsuan SKMHT di Balik Eksekusi Rumah Pangandaran
Keluhan itu di sampaikan Inah Inayah (57), warga Desa Sukaresik Kecamatan Sidamulih. Peristiwa terseut terjadi pada Minggu (12/7/2026) lalu.
Inah menuturkan, insiden bermula saat dirinya memasak air di rumah. Air panas yang hendak di angkat tumpah dan mengenai tangannya hingga mengalami luka bakar.
“Pagi itu, Saya memasak air. Pas mau di angkat, air tumpah dan mengenai tangan,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Khawatir Puskesmas Cikembulan belum beroperasi, Inah memutuskan langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Pandega Pangandaran.
“Saya ke RSUD supaya cepat di tangani dan berharap mendapat obat yang bagus,” katanya.
Tiba di IGD, Inah sempat di periksa dokter. Namun menurutnya, dokter menyampaikan luka yang di alaminya termasuk kategori ringan dan tidak perlu rawat inap.
“Kata dokter lukanya ringan, bukan kondisi darurat dan tidak perlu di rawat. Jadi harus pakai layanan umum, bukan BPJS,” tuturnya.
Mendengar penjelasan itu, Inah menyampaikan keberatan karena tidak memiliki biaya untuk berobat umum. Ia pun meminta agar pelayanannya menggunakan BPJS Kesehatan.
“Saya bilang kalau pakai umum saya tidak punya uang. Saya minta pakai BPJS,” ujarnya.
Inah kemudian di suruh daftar menggunakan BPJS. Namun setelah tindakan medis selesai dan hendak menebus obat, ia justru di arahkan ke loket pembayaran.
Dia awalnya di minta membayar Rp185 ribu. Setelah menyampaikan protes, nominal turun menjadi Rp152 ribu.
BACA JUGA:
Eksekusi Rumah di Pangandaran Dipersoalkan, Kuasa Hukum Sebut Gugatan Masih Berjalan di PN Ciamis
“Awalnya saya harus bayar Rp185 ribu. Setelah saya komplain, akhirnya menjadi Rp152 ribu untuk perawatan luka dan obat salep,” katanya.
Sebagai penyandang disabilitas dengan kondisi ekonomi terbatas, Inah mengaku kecewa atas pelayanan administrasi RSUD Pandega.
“Saya sudah penyandang disabilitas dan ekonomi sulit, tapi tetap harus bayar. Padahal dari awal saya sudah bilang tidak mampu kalau harus berobat umum,” ucapnya.
Hingga berita ini tayang, pihak RSUD Pandega Pangandaran belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut saat di komfirmasi melalui WhatsApp.
(Sajidin)



