spot_imgspot_img
Rabu 29 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sebanyak 100 Kebakaran Terjadi di Depok, Damkar Ungkap Penyebab Terbanyak

DEPOK,FOKUSJabar.id: Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok mencatat 100 insiden kebakaran sepanjang semester pertama tahun 2026. Data akumulasi petugas merekam rentetan peristiwa tersebut dalam kurun Januari hingga Juni.

Gangguan instalasi listrik atau arus pendek menyumbang porsi terbesar sebagai pemantik utama kebakaran. Temuan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya korsleting listrik.

Baca Juga: Tiga Desainer Lokal Angkat Batik Gong Si Bolong di IFW 2026

Selain memetakan jumlah kejadian, Damkar Kota Depok giat mengevaluasi efektivitas penanganan musibah. Petugas berhasil mempertajam indikator waktu tanggap (response time) saat menerima panggilan darurat dari warga.

Kepala Bidang Operasional Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, Tesy Haryati membeberkan bahwa jajarannya menangani 52 musibah kebakaran pada periode Januari–Maret 2026. Angka tersebut melandai menjadi 48 kejadian pada periode April–Juni.

“Dari total 100 kejadian tersebut, sebanyak 71 kasus dipicu oleh arus listrik, sehingga masih menjadi penyebab paling dominan. Selain itu, terdapat 15 kasus akibat kebocoran tabung gas atau kompor, 12 kasus karena kelalaian manusia, sedangkan sisanya dipicu faktor lainnya dalam jumlah yang relatif kecil,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Rincian data menunjukkan arus pendek menguasai porsi penyebab dengan 71 kasus. Kebocoran tabung gas serta kompor menyumbang 15 kejadian, sementara faktor kelalaian manusia memicu 12 musibah lainnya. Sebagian kecil peristiwa sisanya bersumber dari faktor luar yang tidak signifikan.

Akselerasi Kualitas Pelayanan Publik

Guna melengkapi langkah pencegahan, Damkar Kota Depok terus mengakselerasi kualitas pelayanan publik melalui percepatan tindakan di lapangan. Upaya ini membuahkan penurunan durasi rata-rata penanganan.

Pada triwulan pertama (Januari–Maret 2026), armada pemadam mencatatkan rata-rata waktu tanggap 10,57 menit. Tim pemadam lantas berhasil memangkas durasi tersebut menjadi rata-rata 8,26 menit pada triwulan kedua (April–Juni).

Tesy menyebutkan hanya enam insiden yang mencatatkan waktu tanggap melebihi 15 menit selama semester pertama. Capaian ini membuktikan lonjakan kesiapsiagaan personel saat merespons laporan warga.

Kendati durasi respons makin tangkas, Tesy menekankan bahwa keberhasilan penanggulangan kebakaran membutuhkan peran aktif masyarakat. Keterlibatan warga dalam memberikan informasi secara cepat memegang peranan krusial guna menghentikan penjalaran api.

“Semakin cepat laporan diterima, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas. Kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap upaya pencegahan karena kebakaran bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa,” tutupnya.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru