spot_imgspot_img
Rabu 17 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ketum PM Gatra: KDMP Jangan Sampai Mengulang Sejarah

GARUT, FOKUSJabar.id: Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (Ketum PM Gatra), Holil Aksan Umarzen menyebut, program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) patut di apresiasi sebagai upaya memperkuat ekonomi rakyat hingga ke tingkat desa.

Namun sejarah mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak di tentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya lembaga yang di bentuk. Melainkan oleh manfaat ekonomi yang benar-benar di rasakan masyarakat.

BACA JUGA:

Jagung Garut Utara Komoditas Unggulan dan Pilar Ketahanan Pangan

Indonesia tidak pernah kekurangan program ekonomi rakyat. Kita pernah memiliki KUD, KUT, dana bergulir koperasi serta berbagai program pemberdayaan lainnya.

Sebagian berhasil, tetapi tidak sedikit yang berakhir sebagai keberhasilan administratif tanpa mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaannya, berapa banyak koperasi yang akan hidup, tumbuh dan menyejahterakan rakyat?

Ketum PM Gatra mengatakan, KDMP merupakan salah satu program ekonomi rakyat terbesar dalam sejarah Indonesia. Dengan dukungan pembiayaan yang di proyeksikan mencapai sekitar Rp3 miliar per koperasi dan target puluhan ribu koperasi desa dan kelurahan. Nilai program ini berpotensi mencapai ratusan triliun rupiah.

Semakin besar anggaran yang di kelola, semakin besar pula risiko penyimpangan yang mengintai.

Jangan sampai program yang lahir untuk memperkuat ekonomi rakyat justru menjadi ruang baru bagi korupsi, kolusi, penyalahgunaan kewenangan atau sekadar proyek yang sibuk membangun struktur tetapi miskin aktivitas usaha.

“Koperasi Desa Merah Putih harus menjadi lumbung kesejahteraan rakyat, bukan lumbung baru korupsi yang mengatasnamakan rakyat,” pesan Holil.

Jangan Terjebak pada Paradigma Simpan-Pinjam

Salah satu kelemahan koperasi di Indonesia adalah terlalu lama terjebak pada fungsi simpan-pinjam.

Akibatnya, banyak koperasi berhenti sebagai lembaga keuangan mikro dan gagal berkembang menjadi kekuatan ekonomi produktif. Padahal di banyak negara maju, koperasi telah berkembang menjadi asosiasi ekonomi yang menguasai rantai pasok, distribusi, pemasaran, logistik, pengolahan hasil produksi. Bahkan perdagangan ekspor.

Petani tidak hanya meminjam uang dari koperasi. Mereka memperoleh akses teknologi, pasar, pengolahan produk hingga kepastian penjualan dengan posisi tawar yang lebih kuat.

“Inilah pelajaran penting bagi Koperasi Desa Merah Putih. Jangan hanya menjadi tempat menyimpan uang dan menyalurkan pinjaman,” ungkapnya.

BACA JUGA:

Garut Utara Kawasan Pariwisata Terpadu Provinsi Jawa Barat

Koperasi harus menjadi pusat produksi, perdagangan, distribusi dan pengembangan usaha masyarakat.

Koperasi yang hanya hidup dari simpan-pinjam akan sulit menjadi lokomotif ekonomi rakyat. Koperasi baru menjadi kekuatan besar ketika mampu menguasai produksi, perdagangan, distribusi dan pasar.

Sukses Administrasi Belum Tentu Sukses Ekonomi

Menurut Holil Aksan Umarzen, persoalan utama ekonomi kerakyatan selama ini bukan kekurangan organisasi, melainkan kekurangan produktivitas.

BACA JUGA:

Garut Utara Bumi Santri Tatar Sunda

“Kita sering sibuk membangun lembaga, tetapi lupa membangun usaha. Kita sering bangga pada jumlah koperasi yang berdiri, tetapi jarang mengukur berapa yang aktif, sehat, mandiri dan mampu menciptakan lapangan kerja,” imbiuhnya.

Koperasi hanyalah instrumen

Tujuan besarnya adalah rakyat yang lebih sejahtera, lebih produktif dan lebih berdaya saing. Karena itu keberhasilan KDMP tidak boleh di ukur dari jumlah koperasi yang terbentuk. Namun dari meningkatnya pendapatan petani, naik kelasnya UMKM, tumbuhnya usaha produktif, terbukanya lapangan kerja serta menguatnya ekonomi desa.

Menurut Holil, pelajaran terbesar dari masa lalu sangat sederhana. Yakni, jangan sampai sukses membentuk koperasi, tetapi gagal membangun ekonomi rakyat.

“Saya tak meragukan niat baik pemerintah. Saya juga tidak meragukan semangat para penggerak koperasi. Yang saya khawatirkan adalah apabila koperasi kembali di posisikan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” ujarnya.

Sejarah mengajarkan bahwa membangun organisasi jauh lebih mudah daripada membangun produktivitas.

BACA JUGA:

2.599 Petugas Sensus Ekonomi 2026 Dilepas Bupati Garut

Mendirikan koperasi bisa di lakukan dalam hitungan hari. Namun membangun budaya usaha, profesionalisme, akses pasar, jaringan distribusi dan daya saing membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Pada akhirnya sejarah tidak akan mencatat berapa banyak koperasi yang di bentuk.

Sejarah akan mencatat apakah koperasi tersebut mampu mengubah kehidupan rakyat. Sebab ukuran keberhasilan ekonomi kerakyatan bukan jumlah lembaganya. Melainkan kesejahteraan yang di hasilkan.

Dan bangsa yang besar bukan bangsa yang banyak membuat program. Melainkan bangsa yang mampu belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Jangan ukur keberhasilan koperasi dari besarnya pinjaman yang di salurkan. Tetapi dari besarnya nilai tambah, lapangan kerja dan kesejahteraan yang berhasil di ciptakan.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru