spot_imgspot_img
Senin 15 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Garut Utara Bumi Santri Tatar Sunda

GARUT, FOKUSJabar.id: Salah satu identitas yang paling kuat dari Garut Utara Jawa Barat (Jabar) adalah keberadaannya sebagai kawasan religius dan basis pendidikan Islam tradisional.

Bagaimana tidak, hampir di setiap kecamatan berdiri pondok pesantren, madrasah, majelis taklim dan pusat-pusat pendidikan keagamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama beberapa generasi.

BACA JUGA:

Garut Utara Negeri Wisata dan Jejak Peradaban Sunda

Karenanya menurut Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen tidak berlebihan jika di kenal sebagai Bumi Santri.

Selain itu, kehidupan sosial masyarakatnya tumbuh dan berkembang dalam tradisi keislaman yang kuat, berpadu harmonis dengan budaya Sunda dan nilai-nilai kearifan lokal.

Jaringan pesantren tersebut telah melahirkan banyak ulama, mubaligh, pendidik, birokrat, akademisi, budayawan, pengusaha dan tokoh masyarakat yang berkiprah di tingkat lokal, regional hingga nasional.

Menurut Holil, Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama. Namun juga pusat pembinaan akhlak, pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Tembang Sunda Cigawiran Warisan Sastra, Dakwah dan Spiritualitas

Kekayaan budaya Garut Utara semakin lengkap dengan hadirnya Tembang Sunda Cigawiran, sebuah tradisi seni vokal khas yang berkembang di Cigawir, Kecamatan Selaawi.

“Tradisi ini lahir dan tumbuh dari lingkungan pesantren sebagai media dakwah, pendidikan moral dan pelestarian bahasa serta sastra Sunda,” ungkap Holil.

Keunikan Tembang Cigawiran terletak pada kekuatan vokal, kedalaman syair dan penghayatan spiritualnya. Tradisi ini di wariskan secara turun-temurun melalui peran para tokoh budaya.

Salah satunya oleh Mama Eyang Jalari Cigawir. Dia mewariskan nilai-nilai kehidupan dan kebijaksanaan melalui syair-syair Sunda yang sarat makna.

“Tembang Sunda Cigawiran bukan hanya ekspresi seni. Tetapi juga warisan budaya tak benda yang memadukan sastra, dakwah, pendidikan dan spiritualitas masyarakat Sunda. Karenanya, tradisi ini layak di kembangkan sebagai salah satu atraksi wisata budaya dan pendidikan karakter Garut Utara,” ucap Holil.

Padepokan Pencak Silat, Panglipur, Tradisi Pernapasan Istighosah dan Seni Badawang

Garut Utara juga kaya dengan tradisi bela diri dan pembinaan karakter. Hampir di setiap pelosok masih hidup berbagai padepokan pencak silat yang menjadi tempat belajar bela diri, pembentukan akhlak, disiplin, kepemimpinan dan pelestarian falsafah hidup masyarakat Sunda.

BACA JUGA:

Gaya Hidup Sehat Bupati Garut dan Sumedang West Java Extreme Walk 60K

Di antara perguruan yang di kenal luas adalah Perguruan Pencak Silat Panglipur yang berkembang di kawasan Kecamatan Cibatu dan Sukawening.

Kata Holil, dalam pandangan masyarakat Sunda, pencak silat bukan sekadar seni mempertahankan diri. Melainkan bagian dari proses pendidikan manusia seutuhnya, membentuk pribadi yang tangguh, santun, menghormati guru dan orang tua, mencintai tanah kelahiran serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan gotong royong.

Tradisi bela diri tersebut tumbuh berdampingan dengan kehidupan pesantren. Karena itu, di beberapa lingkungan padepokan dan komunitas keagamaan berkembang pula tradisi 10 Jurus Pernapasan Istighosah. Yakni, metode pembinaan yang memadukan latihan olah napas, pengendalian diri, dzikir dan doa-doa istighosah sebagai sarana penguatan jasmani, mental serta spiritual.

Kekayaan budaya Garut Utara semakin di perkaya oleh Seni Badawang Pasirwaru, rudat, qasidah, karinding, calung, marawis, dan berbagai kesenian tradisional lainnya yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Seluruh tradisi tersebut merupakan warisan budaya hidup (living heritage) yang layak di kembangkan sebagai atraksi wisata budaya dan pendidikan karakter.

Situ dan Candi Cangkuang

Salah satu ikon utama Garut Utara adalah Situ dan Candi Cangkuang di Kecamatan Leles. Kawasan ini merupakan perpaduan harmonis antara wisata alam, situs arkeologi dan budaya masyarakat.

BACA JUGA:

Catat! PM Gatra Terbuka untuk Semua

Candi Cangkuang di kenal sebagai satu-satunya candi Hindu yang berhasil di temukan dan di rekonstruksi di wilayah Tatar Sunda. Di tengah Situ Cangkuang berdiri Kampung Pulo, sebuah kampung adat yang hingga kini tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai warisan leluhur.

“Perpaduan antara danau, situs sejarah, kampung adat dan kehidupan masyarakat tradisional menjadikan kawasan ini sebagai pusat wisata sejarah dan budaya yang memiliki nilai edukatif tinggi. Sekaligus simbol harmoninya perjalanan peradaban Sunda dan Islam di Garut Utara,” kata Holil.

Talaga Bodas dan Panorama Alam Pegunungan

Garut Utara juga memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa melalui keberadaan Talaga Bodas, sebuah danau kawah vulkanik dengan panorama pegunungan yang memukau.

Sebagai bagian dari sistem vulkanik dan panas bumi regional Garut, Talaga Bodas memiliki nilai strategis sebagai kawasan geowisata, konservasi lingkungan dan laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian.

Keindahan alamnya di perkaya oleh bentang Gunung Sanghyang dan kaki Gunung Kareumbi yang menawarkan panorama hutan, lembah, dan udara pegunungan yang sejuk.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Provinsi Bengkulu Bahas Akselerasi Pembangunan

Kawasan ini sangat layak dikembangkan sebagai destinasi ekowisata, wisata keluarga, wisata petualangan dan wisata kontemplasi alam berbasis konservasi.

Museum Bumi Nyai Tanggulun

Sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya, kini Garut Utara memiliki Museum Bumi Nyai Tanggulun di Desa Cianten Kecamatan Balubur Limbangan.

Museum ini merupakan ruang pelestarian sejarah dan budaya yang menghimpun berbagai benda pusaka, artefak, dokumentasi dan jejak perjalanan sejarah Limbangan serta Tatar Sunda.

Keberadaan museum ini menjadi bukti tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga memori kolektif dan identitas daerah.

“Museum Bumi Nyai Tanggulun tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah. Tetapi juga sarana edukasi, penelitian dan penguatan karakter generasi muda agar mengenal akar sejarah dan budayanya sendiri,” pungkas Ketum PM Gatra.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru