spot_imgspot_img
Senin 15 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Garut Utara Negeri Wisata dan Jejak Peradaban Sunda

GARUT, FOKUSJabar.id: Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen berbicara tentang pembangunan daerah pada era modern.

Menurutnya, pembangunan di era modern tidak lagi hanya di ukur dari banyaknya infrastruktur dan investasi fisik. Namun juga dari kemampuan suatu wilayah dalam menjaga, melestarikan dan mengembangkan warisan sejarah, budaya, alam serta identitas masyarakatnya sebagai modal pembangunan yang berkelanjutan.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Provinsi Bengkulu Bahas Akselerasi Pembangunan

“Daerah yang mampu memadukan kekayaan alam dengan nilai-nilai peradaban akan memiliki daya saing yang lebih kuat. Baik dari sisi ekonomi, sosial maupun kebudayaan,” ungkap Holil, Senin (15/6/2026).

Dalam konteks tersebut, Garut Utara memiliki modal yang sangat lengkap dan istimewa karena di anugerahi bentang alam pegunungan yang indah, danau dan kawah vulkanik yang eksotis, posisi strategis di jalur perdagangan dan transportasi Priangan serta menyimpan jejak panjang peradaban Sunda.

Tradisi pendidikan pesantren, situs-situs sejarah, makam para leluhur, seni budaya yang masih hidup dan ekonomi kreatif yang tumbuh dari masyarakat.

Di samping itu, Garut Utara juga memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan industri kreatif berbasis desa.

Perpaduan antara alam, budaya, sejarah, religiusitas dan produktivitas masyarakat inilah yang menjadikan Garut Utara memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan pariwisata unggulan dan pusat pertumbuhan baru di Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Cikal Bakal Kabupaten Garut

Holil menyebut, dari perspektif sejarah, Garut Utara bukanlah wilayah pinggiran. Kawasan ini merupakan bagian penting dari perjalanan panjang Tatar Sunda dan pernah menjadi pusat pemerintahan melalui keberadaan Kabupaten Limbangan. Jadi secara historis menjadi salah satu embrio lahirnya Kabupaten Garut.

Sejak masa Kerajaan Sunda, periode penyebaran Islam hingga era kolonial, wilayah ini berkembang sebagai jalur perdagangan, pertanian dan interaksi sosial budaya.

Letaknya yang strategis menjadikan Garut Utara sebagai penghubung antara Priangan Barat dan Timur, sekaligus ruang tumbuhnya berbagai tradisi serta nilai luhur yang masih hidup hingga kini.

“Membangun Garut Utara sesungguhnya bukan menciptakan sejarah baru. Melainkan menghidupkan kembali peran historisnya sebagai salah satu simpul peradaban dan pusat pertumbuhan di kawasan Priangan,” ungkapnya.

Pusat Pemerintahan dan Dakwah Islam

Ketum PM Gatra mengatakan, aset sejarah serta budaya yang memiliki nilai sangat tinggi adalah kawasan Heritage Kaum dan Alun-alun Limbangan.

Keduanya tumbuh dan berkembang sejak berdirinya Kabupaten Limbangan sebagai pusat pemerintahan dan peradaban pada masanya.

BACA JUGA:

Gaya Hidup Sehat Bupati Garut dan Sumedang West Java Extreme Walk 60K

Dalam tata ruang klasik pemerintahan Sunda dan Nusantara, keberadaan alun-alun, masjid, kawasan kaum dan pusat pemerintahan membentuk satu kesatuan ruang sosial dan budaya.

Alun-alun Limbangan sejak dahulu menjadi tempat berlangsungnya aktivitas pemerintahan, kegiatan masyarakat, perayaan budaya serta berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan sejarah daerah.

Di sekitar kawasan Kaum berkembang tradisi pendidikan dan dakwah Islam yang di pelopori oleh para ulama terdahulu.

Salah satu tokoh penting yang sangat di hormati masyarakat adalah Embah Khatib, ulama besar penyebar Islam di kawasan Limbangan. Dalam tradisi lokal di kenal sebagai kakek dari Mbah Wali Gunung Haruman.

“Keberadaan Alun-alun Limbangan, kawasan Kaum, masjid tua dan kompleks makam para ulama menjadikan kawasan ini sangat potensial di kembangkan sebagai kawasan heritage terpadu yang memadukan wisata sejarah, wisata religi, wisata budaya dan wisata edukasi,” imbuhnya.

Garut Utara juga memiliki warisan spiritual yang sangat penting melalui keberadaan Heritage Masjid Mbah Wali di Kampung Pesantren Tengah, Kecamatan Cibiuk.

Kawasan tersebut merupakan salah satu jejak penting perkembangan dakwah Islam dan pendidikan pesantren di Garut Utara.

BACA JUGA:

Catat! PM Gatra Terbuka untuk Semua

Warisan spiritual tersebut di perkuat dengan keberadaan makam dan petilasan para leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya dan religius yang tinggi.

Di antaranya, Makam Sunan Rumenggong (Prabu Wijaya Kusumah I), Makam Sunan Cipancar (Prabu Wijaya Kusumah II), Makam Embah Khatib, Makam Embah Salinggih, Makam Dalem Wirabangsa, Makam Dalem Surayuda di Malangbong dan Makam Mbah Wali Gunung Haruman.

Jalur ziarah tersebut dapat di padukan dengan kunjungan ke Heritage Kaum dan Alun-alun Limbangan, Heritage Masjid Mbah Wali, Situ dan Candi Cangkuang serta berbagai pesantren tua yang tersebar di Garut Utara. Sehingga membentuk satu rangkaian wisata sejarah dan spiritual yang utuh.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru