BANJAR, FOKUSJabar.id: Anak usia dini kerap di cap “nakal” hanya karena berlari ke sana kemari, sulit diam, atau tidak mau menurut. Padahal, perilaku tersebut bukan semata kenakalan, melainkan bagian dari proses belajar anak dalam mengenal dunia.
Mahasiswi Program Studi PIAUD STAI Putra Galuh Ciamis, Resa Beristina, menjelaskan bahwa anak berada pada tahap perkembangan yang sangat aktif dengan rasa ingin tahu tinggi.
“Mereka belum bisa berpikir seperti orang dewasa, sehingga sering bertindak berdasarkan apa yang di lihat dan di rasakan,”katanya.
Baca Juga: Sekdes Rejasari Kota Banjar Ancam Tempuh Jalur PTUN
Menurut teori Jean Piaget, anak belajar melalui pengalaman langsung. Sementara Lev Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial, di mana anak meniru perilaku orang tua, guru, maupun teman sebaya.
Contoh sederhana bisa di lihat saat anak mencoret dinding rumah. Bagi orang dewasa, itu di anggap kenakalan. Namun bagi anak, itu adalah ekspresi diri sekaligus cara belajar mengenal warna dan bentuk.
Begitu pula saat berebut mainan hingga menangis, yang sebenarnya menunjukkan proses belajar berbagi dan mengendalikan emosi.
Baca Juga: Kebakaran Rumah Warga di Banjar, Diduga Korsleting Kipas Angin
Resa menekankan, orang tua dan guru berperan penting dalam mendampingi anak. Alih-alih memberi label “nakal”, pendekatan sabar dan penuh pengertian akan membuat anak merasa aman untuk belajar.
“Memberikan contoh yang baik, mengajak berbicara, serta membimbing dengan cara positif jauh lebih efektif di bandingkan hukuman,” ujarnya.
Dengan memahami bahwa perilaku anak adalah bagian dari proses belajar, masyarakat di harapkan lebih bijak dalam menyikapi tingkah laku mereka. Anak bukan sedang melawan, melainkan sedang berusaha mengenal dunia.
(Budiana Martin)


