JAKARTA,FOKUSJabar.id: Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya bakal menyuguhkan kemeriahan format baru lewat penambahan jumlah kontestan. Menjelang sepak mula turnamen akbar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini, FIFA resmi merilis serangkaian regulasi radikal yang akan mengubah drastis jalannya setiap pertandingan sepanjang kompetisi.
Pembaruan regulasi ini menyentuh berbagai lini permainan, mulai dari ekspansi teknologi digital, pengawasan wasit, protokol penanganan cedera, pembatasan durasi substitusi pemain, hingga sanksi tegas untuk memangkas praktik mengulur-ulur waktu.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Terancam Suhu Ekstrem, FIFA Siapkan Langkah Antisipasi
Menghadapi total 48 negara peserta dan 104 pertandingan yang padat, FIFA memandang perombakan aturan ini sebagai langkah darurat. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut ingin memastikan setiap laga berjalan dengan kualitas terbaik, adil, efektif, serta menyuguhkan ritme permainan yang jauh lebih dinamis.
Satu dari sekian banyak perubahan yang paling menyedot perhatian publik pada Sabtu, 6 Juni 2026, adalah perluasan fungsi Video Assistant Referee (VAR). Otoritas sepak bola kini memberikan porsi keterlibatan teknologi yang jauh lebih besar bagi tim pengadil di lapangan.
Para pengamat sepak bola bahkan melabeli tren baru ini sebagai sinyal kuat atas dominasi mutakhir teknologi di lapangan hijau.
“Kenaikan peran VAR yang terus-menerus (relentless rise of VAR) kini merambah ke detail-detail kecil pertandingan. Detail kecil yang sebelumnya luput dari teknologi,” tulis laporan evaluasi perwasitan jelang turnamen.
Jika pada era sebelumnya VAR hanya memiliki wewenang mengoreksi keputusan krusial seperti gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain, kini cakupan tugas korps digital tersebut melebar. VAR kini memiliki hak penuh untuk mengoreksi keputusan hakim garis terkait pemberian tendangan sudut yang keliru.
Bukan hanya itu, tim VAR juga mengantongi kewenangan baru untuk meninjau ulang pemberian kartu kuning kedua yang berujung kartu merah apabila sang pengadil lapangan melakukan kesalahan penilaian.
Jurus Baru FIFA Berantas Maling Waktu: Terapkan Aturan 5 dan 10 Detik
Selain urusan teknologi, FIFA memformulasikan kategori pelanggaran baru yang berisiko ganjaran kartu merah langsung. Wasit akan langsung mengusir pemain maupun ofisial tim yang nekat berjalan keluar lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan pengadil.
Hukuman tegas serupa juga mengintai oknum yang sengaja menutupi mulut menggunakan tangan saat terlibat perselisihan di lapangan. Langkah ini menjadi strategi FIFA untuk meningkatkan transparansi. Sekaligus mempermudah pelacakan dugaan ujaran diskriminatif atau penghinaan rasial lewat pembacaan gerak bibir.
Demi mendongkrak tempo permainan, FIFA juga memperkenalkan aturan hitung mundur (countdown) lima detik. Hal itu untuk situasi memulai kembali permainan (restart), seperti lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Jika pemain mengulur waktu melebihi batas lima detik tersebut, wasit berhak mengalihkan kepemilikan bola kepada tim lawan.
Aturan pergantian pemain juga tidak luput dari sensor ketat. Pemain yang keluar wajib meninggalkan lapangan melalui titik batas terdekat dalam durasi maksimal 10 detik. Jika pemain sengaja berjalan lambat, wasit akan menahan pemain pengganti di pinggir lapangan selama beberapa menit sebagai bentuk sanksi penalti waktu.
Ketegasan FIFA juga menyasar protokol medis. Pemain yang menerima perawatan tim dokter di dalam lapangan harus berada di luar garis permainan minimal selama 60 detik sebelum boleh bergabung kembali. Kecuali untuk kasus cedera kepala (concussion), situasi penalti, atau diskresi khusus wasit.
Tekhnologi offside semi-otomatis
Uniknya, saat penjaga gawang mendapat perawatan cedera, rekan setimnya kini dilarang keras memanfaatkan jeda tersebut untuk berkumpul dan menerima instruksi taktik dari pelatih di pinggir lapangan.
FIFA juga akan mengoperasikan teknologi offside semi-otomatis generasi paling mutakhir yang mampu mengirimkan sinyal peringatan instan ke jam tangan asisten wasit. Secara garis besar, seluruh rentetan formula baru ini mengemban satu misi utama.
“Aturan-aturan baru ini dirancang untuk meningkatkan tempo pertandingan dan mengurangi praktik mengulur waktu,” tegas FIFA dalam rilis resminya.
Melalui kombinasi regulasi modern dan kecerdasan buatan, Piala Dunia 2026 bakal menjadi laboratorium sepak bola paling canggih dalam sejarah. Perubahan masif ini tidak hanya menuntut adaptasi dari korps wasit. Melainkan juga memaksa para pelatih merombak strategi taktis dan melatih kedisiplinan emosi para pemain di lapangan.
(Jingga Sonjaya)



