spot_imgspot_img
Senin 5 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 8313

Besan Jokowi Tutup Usia

0
Mobil jenazah siaga di depan kamar jenazah untuk menjemput jasad besan Jokowi. (Liputan 6)

SOLO, FOKUSJabar.id : Kabar duka tersiar dari keluarga besar Presiden Joko Widodo, Didit Supriyadi yang merupakan besan Jokowi meninggal dunia hari ini, Selasa (3/4/2018). Hal tersebut dibenarkan oleh keluarga presiden.

“Ya benar (meninggal),” kata Haryanto, kakak kandung Iriana Jokowi, seperti dilansir Detik.

Didit merupakan ayah mertua dari Gibran Rakabuming Raka atau ayah kandung Selvi Ananda.

Haryanto, mengaku belum mengetahui kondisi terakhir besan Jokowi tersebut. Namun dia mengatakan memang Didit sudah lama dirawat di RSUD dr Moewardi.

“Sakit di rumah sakit, udah lama. Ini saya belum dapat info lengkap,” katanya.

Menurutnya, Jokowi saat pulang ke Solo akhir pekan kemarin sempat menengok Didit.

“Pak Jokowi kemarin sempat nengok, hari Minggu,” ujarnya.

Soal pemakaman, dia masih akan bertemu keluarga untuk memastikannya. Sementara itu, Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Moewardi Solo, Eko Haryati, mengatakan Didit meninggal sekitar pukul 09.00 WIB. Dia sempat dirawat sejak sebulan yang lalu.

(Agung)

Ribuan Massa di Sindangsari Ciamis Ikuti Ngobeng Bareng Kang Hasan

0
warga Sindangsari Ciamis Ngobeng bersama Hasan dan Oih (foto Husen)
warga Sindangsari Ciamis Ngobeng bersama Hasan dan Oih (foto Husen)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Ribuan warga Desa Sindanghayu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis tumplek memadati saluran irigasi Sindangsari sepanjang 5 kilometer, Selasa (3/4/2018).

Mereka tumplek diirigasi tersebut untuk menangkap ikan tanpa alat (Ngobeng) bersama Cagub Jabar nomor urut 2 Tubagus Hasanuddin (Kang Hasan) dan Cabup Ciamis nomor urut 2 Oih Burhanudin.

“Saya ikut menangkap ikan ini karena baru pertamakali ada kegiatan seperti ini,” kata Yuni warga Dusun/Desa Sindanghayu Kecamatan Banjarsari.

Warga pun antusias mengikuti kegiatan langka tersebut dan gembira, terlebih mendapatkan ikan gratis yang ditabur di saluran irigasi tersebut.

baca juga: Ikut Ngobeng, Hasan Paparkan Program Imah Rempeg

“Semoga saja ikan yang ditabur untuk warga ini menjadi timbal balik kebaikan bagi mereka (Cagub dan Cabup) yang menebarnya, dan apa yang mereka cita-citakan tercapai,” kata dia.

Sementara itu Ketua Tim pemenangan Hasanah, Nanang Permana menjelaskan bahwa ikan yang ditabur di saluran irigasi Sindangsari tersebut sebanyak 2 ton dengan berbagai jenis ikan.

“Ikan yang kami tabur ini ada dua ton yang bisa diambil masyarakat dengan gratis,” ungkapnya.

(Husen Maharaja/LIN)

Harmoni Indonesia : Ribuan Orang Nyatakan Perangi Hoax

0
Harmoni Indonesia : Ribuan Orang Menyatakan Perang Pada Hoax. (FOKUSJabar/Ibenk)

BANDUNG, FOKUSJabar.id : Ribuan orang dari berbagai elemen, Kominfo RI, pejabat pemerintah daerah Jawa Barat (Jabar), Kepolisian dan TNI, tokoh agama Jabar, seniman atau budayawan, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, mahasiswa/pelajar, santri, menyatakan perang kepada berita palsu alias hoax, ujaran kebencian, dan Fitnah.

Deklarasi anti hoax sendiri dilakukan saat acara Harmoni Indonesia yang bertema “Bersama Dalam Harmoni untuk Indonesia Sejahtera” di Balai Sartika Bandung, Minggu (1/4/2018) lalu.

Acara digagas oleh Penggerak Budaya Nusantara bersama Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI itu merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam mencegah dan memerangi penyebaran berita hoaks yang turut berkembang pesat seiring perkembangan teknologi.

“Hal ini dikhawatirkan menggangu perdamaian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang notabene terdiri dari berbagai macam keragaman budaya, agama, bahasa, suku dan ras,” tulis Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dalam press release, Selasa (3/4/2018).

Diharapkan dengan dihadirinya berbagai macam elemen, pemberantasan berita hoax di masyarakat semakin efektif. Selain menggelar deklarasi anti hoax, dalam acara Harmoni Indonesia juga digelar sarasehan kebangsaan bertema Indonesia Sejahtera Tanpa Hoax dengan narasumber dari Pemda Jabar, Polda Jabar, Pangdam III/Siliwangi, dan Tokoh Masyarakat.

(Ibenk/DAR)

Soal Puisi Sukmawati, Yusup Mansur Minta Jangan Pancing Kemarahan Umat

0
ilustrasi (web)

BANDUNG, FOKUSjabar.co.id: Ustaz Yusuf Mansur menanggapi puisi Sukmawati Sukarnoputri yang menyindir azan dan cadar. Yusuf Mansur mengingatkan agar tidak ada lagi yang memancing kemarahan, kebencian, kekesalan dan emosi, perseteruan dan permusuhan. Namun kepada umat Islam ustaz Yusuf Mansur berharap tetap adem, positif, kalem, segera kembalikan kepada Allah SWT, apapun. Tapi tetap berjuang, berzikir dan berdoa, terus memperbaiki diri dan memperbaiki orang lain.

“Setiap kejadian pahami sebagai pesan dari Allah SWT, sebagai peringatanNya. Sebagai nasihat dariNya, Isya Allah kita tetap adem, hati dan pikiran kita,” tutup Ustaz Yusuf Mansur dalam instagramnya ‘belajar azan bagian 13 seperti dilansir Republika.co.id.

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Darul Quran ini, mengenai orang Muslim yang membandingkan azan lebih buruk dengan perbandingan lain, menurutnya a, barangkali banyak orang yang tidak tahu ketika diperdengarkan azan.

“Tidak ada yang lebih indah dari suara azan, demi Allah. Gak mungkin kita gak bergerak dan bergetar kalau kita mengetahui (maknanya) itulah azan,” ujar Ustaz Yusuf Mansur, Senin (2/4) waktu Istanbul.
“Sebenarnya siapa sih yang sedang diperkenalkan (dengan azan) itu. Jadi ya wajar juga, itu tanggung jawab kita memperkenalkan. Banyak juga kok di antara kita acuh tak acuh (saat mendengar azan). Ini jadi peringatan dari Allah SWT,” tutur Ustaz Yusuf Mansur.

Bayangkan bila seorang raja, presiden, gubernur atau wali kota datang. Ketika disebut dan dipanggil namanya saja semua orang siap-siap. Dari yang posisi santai ke posisi tegap. Ini karena diperdengarkan nama sang raja, presiden, gubernur atau walikota.

“Ini kan azan, kita mendengar dan diperdengarkan nama Allah SWT langsung, gitu kan. Harusnya kita bangun, bergerak dan menyongsong. Tapi emang kitanya yang lalai sih.”

Orang sering mendengar azan tapi tidak tergerak, tidak bergetar. “Jadi ini disentil sama Allah, ketika suara azan diperdengarkan belajar deh. Allahu Akbar.. Allahu Akbar. Nangis kita kalau tahu mah asli,” katanya.

Pemilik bisnis Paytren ini, menegaskan azan adalah bentuk satu komitmen sikap, kesepakatan dan prinsip. “Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar, tidak ada lagi yang lebih besar dari pada urusan Engkau. Karena itu kita harus sambut, maka belajar terus memahami azan, Insya Allah.”

Dengan memahami betul suara dan makna azan tersebut, menurut Yusuf Mansur, sebenarnya Allah seperti mengingatkan tentang komitmen Mulsim. Bahwa benar tidak ada yang lebih besar daripada Allah SWT dengan segala perintahnya, urusannya, suruhannya. Sehingga dengan azan itu ditinggalkan semua urusan dunia, karena tidak ada yang lebih penting.

(DAR)

Puisinya Dituding Lecehkan Islam, Sukmawati Angkat Bicara

0
ilustrasi (Web)

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar dipersoalkan. Untuk menjawab itu Sukmawati pun angkat bicara tentang ini.

Video bersisi  puisi yang dibacakan Sukmawati dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018 tersebut menjadi viral dan ramai dibahas warganet.

Salah satu yang mengkritik puisi tersebut adalah pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera. Menurut Kapitra, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan azan dengan kidung Pancasila.

“Jangan banding-bandingkan azan. Azan itu panggilan ibadah,” tutur Kapitra kepada wartawan, Senin (2/4/2018).

Sukmawati mengatakan apa yang disampaikannya adalah pendapat pribadi sebagai budayawan. Menurut Sukmawati, tidak ada isu SARA sama sekali dalam puisi yang dibawakannya.

“Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati, khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain,” kata Sukmawati, seperti dilansir Detik, Selasa (3/4/2018).

Sukmawati mengatakan apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” ujar Sukmawati.

“Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar. Sebagai panggilan waktu untuk salat. Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” sambungnya.

Berikut puisi karya Sukmawati tersebut:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

(Agung/DAR)

Dari Bandung, Athalia Ridwan Kamil Belanja Sayur di Pasar Ciamis

0

CIAMIS, FOKUSJabar.id : Istri Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Athalia Kamil menyempatkan diri blusukan ke Pasar Manis Ciamis. Bu Cinta panggilan akrabnya menyempatkan diri  berbelanja baju, sayuran serta menyapa masyarakat Ciamis Selasa pagi, (3/4/2018).

Kedatangan istri mantan Walikota Bandung ini disambut antusias warga Pasar Manis, beberapa orang minta selfi bareng termasuk Tieta Keyskenzkean. Tanpa merasa canggung Athalia wara – wiri berbelanja serta berbincang-bincang bersama masyarakat layaknya ibu rumah tangga.

Tieta sebagai kader Nasdem Ciamis, mengaku merasa bangga dengan sosok Athalia yang tidak mengindahkan statusnya sebagai istri salah satu orang berpengaruh di Jawa Barat, juga selaku Calon Gubernur Jawa Barat.

” Beliau selayaknya ibu dan seorang istri yang berbelanja untuk keperluan rumah tangga, menyapa masyarakat tanpa ada sekat, berbaur dan memang ibu Cinta Athalia sangat merakyat,” Jelasnya.

Setelah berkunjung ke Pasar Manis Ciamis Athalia bersama rombongan melanjutkan kunjunalgan ke Kampung Angklung di Dusun Nempel Desa Panyingkiran Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis.

(Riza M Irfansyah/DAR)

Biografi KH Abdul Halim yang Namanya Akan Dijadikan Nama Bandara

0
google.com

BANDUNG, FOKUSjabar.co.id : Pahlawan nasional KH Abdul Halim menjadi salah satu nama yang diusulkan untuk penamaan Bandara Internasional Jawa Barat ( BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang bakal diresmikan Juni 2018. Siapakah sosok KH Abdul Halim itu?

Abdul Halim dilahirkan tanggal 4 Syawal 1304 H (26 Juni 1887) di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dia adalah keturunan ulama besar pada zamannya Ayahnya bernama KH. Muhammad Iskandar berasal dari Banten dan jadi Penghulu di Jatiwangi. KH Muhammad Iskandar kemudian mempersunting gadis setempat bernama Siti Mutmainah dan dikarunia tujuh anak dan salah satunya adalah Abdul Halim sebagai anak bungsu.

Masa kecil Abdul Halim dihabiskan dengan memperdalam ilmu agama. Keluarganyalah yang mendidiknya, namun kebersamaan dengan ayahnya hanya sebenatar karena ayahnya meninggal dunia saat Abdul Halim baru berusia 7 tahun. Selanjutrnya Abdul Halim diasuh oleh Ibu dan keenam kakaknya. Kecintaannya kepada ilmu agama sudahh ditunjukkan Abdul Halim sejak kecil. Saat berusia 10 tahun, Abdul Halim belajar Alquran dan Alhadits kepada KH Anwar seorang ulama terkemuka dari Ranji Wetan Majalengka.

KH Anwar adalah guru pertamanya diluar keluarga. Belajar kepada orang lain Abdu Halim sangat disiplin, tiada hari tanpa belajar. Bukan hanya ilmu agama saja yang dipelajarinya disiplin ilmu lainnya juga didalaminya. Abdul Halim juga tak pilih-pilih mazhab atau aliran dalam mempelajari ilmu. Yang penting bermanfaat bagi dirinya. Bahkan Abdul Halim pernah belajar bahasa Belanda dan huruf latin Van Hoeven kepada seorang pendeta dan missionaris Kristen di Cideres, Majalengka.

Menginjak usia remaja Abdul Halim mulai belajar lebih luas lagi Belajar di berbagai Pondok Pesantren. Diantaranya: Pesantren Lontangjaya Penjalin Leuwimunding Majalengka asuhan KH. Abdullah, Pesantren Bobos Sumber Cirebon asuhan KH. Sujak, Pesantren Ciwedus Timbang Cilimus Kuningan asuhan KH. Ahmad Shobari, Pesantren Kedungwangi Kenayangan Pekalongan asuhan KH. Agus.

Setelah menginjak usia 21 tahun, Abdul Halim menikah dengan Siti Murbiyah putri KH. Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka) yang kemudian hari dikaruniai 7 orang anak. Walaupun sudah berkeluarga, Abdul Halim tidak lantas berhenti belajar. Sebagai pecinta ilmu, ia meneruskan dan memperdalam ilmu-ilmu keislaman di tanah kelahiran Islam, yaitu Mekah. Di Tanah Suci, ia berguru kepada ulama-ulama besar, satu diantaranya ialah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Sejarah mencatat bahwa Syeikh Ahhmad Khatib al-Minangkabawi adalah salah seorang ulama al-Jawi (Nusantara) yang menetap di Mekah, bahkan menjadi ulama besar dan Imam Masjid al-Haram pada masa hidupnya. Syeikh dari Minangkabau inilah guru dari ulama-ulama besar Indonesia abad ke-20 yang banyak berkecimpung dalam perjuangan bangsa Indonesia dan pergerakan nasional, seperti Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH, Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansyur, KH. Bisri Syansuri, Syeikh sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Mustafa Husein Nasution, KH. Sirajuddin Abbas, Syeikh Khatib Ali, KH. Agus salim, dan banyak lagi lainnya. Bisa dikatakan bahwa Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah guru para nasionalis Islam Indonesia.

Di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim terkenal sangat toleran kepada teman-temannya, baik dari kalangan pembaharu maupun kalangan tradisionalis. Hal itu di buktikan bahwa KH. Abdul Halim banyak bergaul dengan KH. Mas Mansyur (tokoh Muhammadiyah) dan KH. Wahab Hasbullah (tokoh Nahdlatul Ulama) hingga hubungan mereka bertiga menjadi sangat dekat dan akrab –walaupun kedua sahabat karib beliau berbeda tempat pengabdian. Selain itu juga ditunjang dengan pembacaan beliau yang beraneka ragam terhadap ilmu-ilmu keislaman dan sosial-kemasyarakatan.

Setelah tiga tahun belajar di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim kembali ke Tanah Air. Beliau mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka (1911), untuk mendidik putra-putra daerah. Setahun kemudian, setelah Majlis Ilmi berkembang, beliau mendirikan sebuah oerganisasi bernama Hayatul Qulub, dimana Majlis Ilmi merupakan bagian di dalamnya.

Hayatul Qulub yang didirikan tahun 1912 itu bergerak dalam lapangan ppendidikan dan perekonomian. KH Abdul Halim berusaha memajukan tingkat pendidikan dan perekonomian –terutama sektor perdagangan– masyarakat. Sesuai dengan bidang usahanya maka anggota organisasi ini bukan saja dari kalangan guru, kiyai dan santri, tetapi para petani dan pedagang.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang perdagangan tentu saja tidak akan lepas dari persaingan dagang, khususnya dengan para saudagar pendatang. Keadaan lebih sulit lagi ketika pemerintah Hindia-Belanda melalui penguasa setempat banyak membela kepentingan-kepentingan para pedagang dari Cina yang diberi status hukum lebih kuat dibanding pedagang pribumi. Persaingan ini memuncak ketika terjadi kerusuhan di Majalengka, dimana toko-toko milik para pedagang Cina diserang oleh sebagian oknum asal pribumi (1915). Pemerintah Hindia-Belanda menuding Hayatul Qulub pimpinan KH. Abdul Halim sebagai biang keladi kerusuhan. Akibatnya, organisasi Hayatul Qulub dibubarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan dilarang meneruskan kegiatannya. Untuk menyelamatkan kepentingan perjuangan Islam, KH. Abdul Halim mengambil langkah kembali ke Majlis Ilmi dalam membina kader-kadernya, sambil menunggu perkembangan keadaan.

Ketika keadaan mulai membaik, KH. Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan yang lebih baik, diatur dengan sistem klasikal dan koedukasi, sebagai metamorfosa dari Majlis Ilmi. Lembaga yang diberi nama Jamiyyah al-I’anah al-Muta’allimin ini secara resmi berdiri pada 16 Mei 1916 M. Setahun kemudian, dengan dukungan HOS Cokroaminoto, lembaga tersebut dikembangkan dan berganti nama menjadi Persyarikatan Ulama, yang kemudian dikenal dengan PUI (Persyarikatan Ulama Indonesia).

Persyarikatan Ulama Indonesia mempunyai tujuan pokok, antara lain: A) Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran agama Islam. B) Memajukan perihal penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam. C) Memelihara tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati supaya suka tolong-menolong antara satu dengan lainnya.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu PUI berusaha mendirikan dan memelihara sekolah, menerbitkan, menyiarkan dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, surat kabar dan majalah yang berisi bernafaskan keislaman, meningkatkan pertanian dan perdagangan serta perekonomian lainnya, mendidik pemuda yang sebagai kader muslim masa mendatang, serta bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Islam.

Persyarikatan Ulama Islam yang berdiri 1917 itu, sejak 1924 mengalami perkembangan yang ditandai dengan berdirinya cabang-cabang PUI di berbagai daerah di Jawa dan Madura, dan kemudian semenjak 1937 meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia. Walau organisasi ini tidak sebesar NU dan Muhammadiyah, tetapi peran yang diambilnya tidak bisa dikatakan kecil bahkan bisa dikatakan bahwa PUI seakan-akan merupakan perpaduan antara kedua organisasi tersebut. KH. Abdul Halim dengan PUI-nya menganut madzhab Syafi’i (sebagaimana NU yang mengikuti salah satu dari Madzhab Empat) tetapi juga menerima dan membuka luas akan adanya pembaharuan (sebagaimana lazim dikalangan Muhammadiyah).

Dalam dunia politik KH. Abdul Halim menjadi anggota Sarekat Islam yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ulama ini banyak berhubungan dengan HOS Cokroaminoto dan juga tokoh-tokoh Sarekat Islam lainnya. Sikapnya sangat moderat dan penuh toleransi, terbukti ketika DR. Sukiman dipecat dari PSII karena kemelut yang terjadi di internal partai, KH. Abdul Halim tidak menyetujui pemecatan tersebut dan tetap menghendaki adanya penyelesaian masalah secara musyawarah.

KH. Abdul Halim dalam mengelola pendidikannya banyak mengambil rujukan dari tokoh-tokoh lain, banyak mengambil nasehat dan contoh yang baik, tidak pandang dari siapa asalnya. Misalnya, dia mencontoh Jam’iyah al-Khairat dan al-Irsyad di Jakarta, bahkan dari Perguruan Tinggi Santiniketan di India, beliau juga banyak mengambil contoh dari Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Syafe’i yang keduanya merupakan tokoh pendidikan nasional. KH. Abdul Halim menempatkan murid-muridnya dalam asrama pesantren yang diberi nama Santi Asromo (Asrama Damai) yang didirikan bulan April 1932 di kaki Gunung Ciremai, Pasir Ayu Sukahaji Majalengka.

Disamping mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, Persyarikatan Ulama Indonesia, KH. Abdu Halim Majalengka juga menerbitkan beberapa majalah, antara lain: Suara Persyarikatan Oelama, Suara Islam, asy-Syura, Miftah as-Sa’adah, Pengetahuan Islam, Berita PO (Persyarikatan Oelama), al-Mu’allimin, Pemimpin Pemuda dan Petunjuk Jalan Kebenaran. Banyaknya judul majalah ini menunjukkan jalannya pengelolaan yang kurang mulus, apalagi kesuluruhan majalah tersebut umurnya hanya 11 tahun, yang terbit 1930-1941 secara bergantian judul ataupun secara bersamaan. Hal ini dapat dimaklumi karena keadaan saat itu belum semaju sekarang. Walau demikian, upaya ini merupakan langkah progresif yang diambil oleh KH. Abdul Halim beserta kader-kadernya.

Sebagai salah seorang tokoh pergerakan nasional dan pemimpin organisasi Persyarikatan Ulama Indonesia, wajar apabila tokoh ini memiliki pengaruh cukup besar. Beliau termasuk salah seorang dari sekian banyak tokoh Indonesia yang ikut membahas rencana pembentukkan negara Indonesia pada masa akhir penjajahan Jepang. KH. Abdul Halim termasuk anggota dari Dokuritsu Tyunbi Tyoo Sakai alias Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diresmikan 29 Mei 1945 bersama KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur, KH. Mas Mansyur, KH. Abdul Kahar Muzakir, KH Agus salim dan beberapa tokoh lainnya.

Abdul Halim terkenal sebagai seorang ulama yang berpendirian tegas, tetapi sikapnya begitu toleran dengan masyarakat terlebih di kalangan Ulama. Beliau adalah pengikut madzhab Syafi’i, tetapi menghormati rekan-rekannya yang tidak bersedia ikut madzhab atau dikenal dengan kelompok reformis (pembaharu). Ia tidak segan-segan menerima ilmu yang datang dari orang lain, walau tidak sealiran dengannya, begitu pula dalam pembaharuan pendidikan dan pesantren yang di pimpinnya.

Ulama besar asal Majalengka Jawa Barat ini mengabdikan dirinya kepada Allah, mendarmabaktikan dirinya kepada umat, bangsa dan negara, dan khususnya dalam pengembangan pendidikan Islam tiada henti-hentinya sampai akhir hayat. KH. Abdul Halim wafat di Majalengka pada 7 Mei 1962 dalam usia 75 tahun namun perjuangannya masih dilanjutkan oleh putra-putra dan murid-muridnya hingga kini.

(DAR)