spot_imgspot_img
Sabtu 3 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 69

Bikin Haru! Kisah Mansur Penyintas Tumor Ganas di Pangandaran

0
Pangandaran@fokusjabar.id
Mansur bersama Istri (fokusjabar.id/Sajidin)

‎PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Tumpukan batang daun kelapa berserakan di depan rumah sederhana di Blok Warung Bungur, RT 1/6, Dusun Empangsari, Desa/Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

‎Di atas kursi roda, Mansur (65) duduk membungkuk. Tangannya tak berhenti meraut batang daun kelapa satu per satu menjadi sapu lidi. Gerakannya pelan, tapi tekun.

‎Setahun lalu, tangan itu masih memegang kemudi mobil, mengantar gula lintas provinsi. Kini, tangan itu harus belajar bertahan dengan cara lain.

Baca Juga: Pernah Jadi Lokasi Syuting Mak Lampir, Goa Parat di Pangandaran Simpan Makam 2 Penyebar Islam

‎Tak jauh darinya, sang istri, Karsem (60) sibuk mengolah gadung yang baru ia kumpulkan dari perbukitan. Gadung itu akan menjadi keripik, dijual Rp60.000 per kilogram.

‎Bagi mereka, lidi dan keripik gadung bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah napas terakhir untuk tetap hidup setelah harta habis untuk berobat.

‎Semuanya bermula dari benjolan di tubuh Mansur. Kadang dua, kadang tiga. Nyeri itu tak tertahankan.

‎”Ada benjolan, tumor ganas katanya. Kalau sudah kerasa, waduh enggak sebandinglah nyerinya, ya Allah,” ucap Mansur lirih.

‎Vonis itu membawanya bolak-balik dari Pangandaran ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas, Jawa Tengah sejak 2025.

‎Operasi dijalani, dirawat 10 hari. Belum selesai. Ia harus menjalani kemoterapi 12 kali. Dalam sebulan, dua kali kemo selama enam bulan.

Sudah Tak Miliki Uang

‎Perjalanan sekitar tiga jam itu tak ditempuh dengan mobil. Tapi dengan motor.

‎Karsem yang menjadi sopirnya. Mereka berangkat jam 4 subuh agar tiba jam 7 pagi.

‎”Mau pakai mobil sudah enggak ada dana. Jadi pakai motor saja. Kata bapak nanti gantian nyupirnya,” ujar Karsem.

‎Sewa mobil butuh Rp600.000 ditambah uang makan sopir Rp200.000. Uang yang tak mereka punya.

‎Perjuangan itu makin berat ketika luka bekas operasi jebol lagi 10 hari setelah penutupan. Mansur harus kembali ke Banyumas hingga lima kali.

‎Biaya perjalanan, obat, dan kontrol perlahan menggerus semua yang mereka punya.

‎”Iya, jual motor dua buat pengobatan dia. Kebun habis semua. Makanya sekarang berjuangnya gini, sudah buat makan,” kata Karsem sambil menahan air mata.

Buka Jasa Tambal Ban

‎Saat uang tak ada, Karsem pinjam ke tetangga. Bantuan sosial Kartu Merah Putih sebesar Rp600.000 per tiga bulan yang ia terima, habis untuk bayar utang.

‎Kini Mansur tak lagi bisa jadi sopir. Ia lebih banyak di kursi roda. Kadang memaksakan diri membuka jasa tambal ban.

‎”Kalau enggak gitu gimana lagi. Jadi dia maksa nambal ban. Kalau ada yang mau nyuci mobil dia belum sanggup. Ini sanggupnya nambal doang,” kata Karsem.

Baca Juga: Pemprov Jabar Batal Bangun Permanen Jembatan Pongpet Pangandaran?

‎Karsem sendiri harus berjalan jauh ke atas gunung untuk mencari gadung dan bahan sapu lidi. Di rumah, Mansur yang merautnya.

‎”Alhamdulillah, satungtung tos dioperasi, alhamdulillah pada tiis,” ucap Mansur dalam bahasa Sunda, bersyukur nyerinya berkurang setelah operasi.

‎Oktober mendatang, Mansur harus kembali kontrol ke Banyumas. Mereka berharap itu menjadi kontrol terakhir.

‎Di rumah sederhana itu, Mansur dan Karsem masih bertahan. Dengan lidi yang diraut dari kursi roda, dan keripik gadung yang dijual kiloan. Sambil menunggu jadwal berikutnya ke rumah sakit.

(Sajidin)

Pasca Kebakaran Kantor Wali Kota Banjar, Tak Dipasang Police Line

0
Banjar@fokusjabar.id
Pasca kejadian kebakaran di TKP Kantor Wali Kota Banjar. (Agus Purwadi/fokusjabar.id)

BANJAR, FOKUSJabar.id: Penyebab pasti yang mengakibatkan terjadinya kebakaran Kantor Wali Kota Banjar sampai hari ini belum bisa diketahui. 

Di lokasi kejadian pun tampak tidak ada police line yang di pasang oleh pihak kepolisian meski jarak Mako Polres Banjar dengan Kantor Wali Kota Banjar berdampingan. 

Pantauan di tempat kejadian perkara (TKP), pelapon dan dinding ruangan resepsionis hangus terbakar. Selain itu, kursi yang berada di ruangan tersebut pun tidak luput dilalap si jago merah.

Bahkan puing – puing bekas terjadinya kebakaran masih menumpuk dan berserakan karena  belum dibersihkan. 

Baca Juga: Polemik Layanan dan Piutang, HMI Desak DPRD Panggil RSUD Banjar

Tampak terlihat para petugas PLN sedang memperbaiki kelistrikan yang padam akibat peristiwa kebakaran. Aliran listrik baru bisa menyala sekitar pukul 11.00 WIB setelah petugas PLN berhasil memperbaiki jalur kelistrikan.  

Saat hendak dimintai keterangan soal tidak adanya police line di TKP pasca kejadian kebakaran, Kepala Bagian Umum Setda Kota Banjar Milasari Dewi enggan memberikan jawaban. Dirinya mengaku akan menemui Wali Kota Banjar Sudarsono.

“Mau ke Pak Wali dulu,” singkatnya ditemui di TKP Kamis (17/9/2026). 

Sebelumnya, Kantor Wali Kota Banjar yang beralamat di Jalan Siliwangi Kota Banjar dilalap si jago merah. Peristiwa yang menggegerkan warga ini terjadi Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 22.10 WIB 

Saksi mata kejadian Feri mengatakan, awalnya dirinya mendengar adanya suara dari bagian carger paralel yang ada diruangan receptionis. Dirinya kaget pasalnya melihat ada api yang menyala dibagian carger paralel tersebut.

“Saya kaget karena api sudah membesar. Saya berusaha untuk memadamkan api dengan air dan alat seadanya,” ungkapnya. 

Akibat Korsleting Listrik

Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjar Ruhimat mengatakan, penyebab kejadian kebakaran ini diduga akibat korsleting listrik. Kata ia, ruangan yang terbakar dan dilalap api hanya bagian ruangan receptionis.

“Diduga dari konsleting listrik,” ungkapnya saat ditemui dilokasi kejadian. 

Kata Ruhimat, sebanyak 4 armada pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api. Api baru bisa dipadamkan oleh para petugas damkar sekitar 1 jam lebih.

Baca Juga: Kantor Wali Kota Banjar Terbakar Malam Hari, Api Diduga Muncul dari Charger

“Sekitar satu jam api baru bisa dijinakan oleh petugas. Kita terjunkan 3 unit mobil damkar dan satu unit mobil tangki,” terangnya. 

Wali Kota Banjar Sudarsono mengaku mendapatkan informasi kebakaran ini usai rapat di Pendopo. Dirinya dan para pejabat yang rapat langsung meluncur ke lokasi untuk melihat langsung kondisi.

“Pas tadi kesini api masih kecil. Penyebabnya dari carger dan alhamdulillah sudah ditangani,” singkatnya.

(Agus Purwadi) 

Wadah Perangkat Desa, Garda PSGC Ciamis Resmi Dibentuk

0
Ciamis@fokusjabar.id
Ketua PPDI Ciamis, Akhmad Himawan bersama Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya. (Dok.PPDI)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Dukungan terhadap PSGC Ciamis mendapat tambahan kekuatan dari kalangan perangkat desa. Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis membentuk Garda PSGC sebagai wadah bagi perangkat desa yang ingin memberikan dukungan langsung kepada tim kebanggaan Tatar Galuh dari tribun stadion.

Garda PSGC diperkenalkan dalam rangkaian Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) PPDI Kabupaten Ciamis di Doi Cafe, Kecamatan Cijeungjing, Kamis (17/9/2026).

Kelompok tersebut disiapkan untuk mengisi Tribun Utara dalam pertandingan kandang PSGC. Anggotanya akan memberikan dukungan melalui yel-yel dan nyanyian untuk membangun atmosfer pertandingan.

Baca Juga: PPDI Ciamis Gelar Rakerkab, Begini Pesan Bupati Herdiat Sunarya

Ketua PPDI Kabupaten Ciamis, Akhmad Himawan atau Mas Ahim mengatakan pembentukan Garda PSGC berawal dari kesamaan kecintaan terhadap sepak bola di kalangan perangkat desa.

“Teman-teman banyak yang dulunya suporter. Sekarang rata-rata sudah berusia 30 tahun ke atas, jadi kami mencoba membuat wadah sendiri,” kata Ahim.

Menurut Ahim, Garda PSGC tidak dibuat untuk menggantikan atau mengambil ruang kelompok suporter yang telah lebih dahulu mendukung PSGC. Kelompok tersebut justru diharapkan menjadi tambahan energi bagi tim selama menjalani kompetisi.

Pada pertandingan terdekat, PPDI menargetkan sekitar 250 anggota Garda PSGC memenuhi Tribun Utara.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring pendataan dan pendaftaran anggota yang terus dilakukan.

Dari sekitar 3.000 perangkat desa di Kabupaten Ciamis, Ahim menyebut antusiasme yang telah muncul mencapai sekitar 10 persen atau sekitar 300 orang.

PPDI menargetkan jumlah anggota Garda PSGC dapat berkembang hingga sekitar 500 orang.

“Kami ingin dukungan ini terus berkembang. Yang penting teman-teman bisa hadir, bernyanyi, memberikan semangat dan mendukung PSGC dari tribun,” ujarnya.

Untuk mendorong keterlibatan anggota, Taufik memberikan 100 tiket pada momentum peluncuran Garda PSGC.

PPDI juga menyiapkan keberangkatan bersama bagi anggota yang hendak menyaksikan pertandingan. Salah satu skema yang disiapkan yakni minimal satu kendaraan untuk setiap pertandingan yang diikuti.

Jadi Dukungan Positif untuk PSGC

Ahim berharap Garda PSGC tidak berhenti sebagai wadah berkumpul, tetapi berkembang menjadi bagian dari dukungan positif terhadap perjalanan PSGC Ciamis di kompetisi.

Ia menilai performa PSGC pada pertandingan sebelumnya sebenarnya sudah menunjukkan permainan yang cukup baik, meski belum menghasilkan kemenangan.

Baca Juga: Bupati Ciamis Cek Kebersihan OPD, ASN Diminta jadi Teladan

“Kemarin permainannya sudah bagus, hanya mungkin belum beruntung. Mudah-mudahan pertandingan berikutnya bisa lebih maksimal dan mendapatkan tiga poin di Stadion Garut,” katanya.

Menurut Ahim, keterbatasan pertandingan uji coba juga menjadi bagian dari proses tim dalam menemukan komposisi pemain yang paling tepat.

Dengan terbentuknya Garda PSGC, perangkat desa kini memiliki wadah khusus untuk menyalurkan dukungan terhadap PSGC. Mereka tidak hanya menjalankan aktivitas pemerintahan di desa, tetapi juga siap membawa semangat kebersamaan ke tribun untuk memberi energi tambahan bagi tim selama kompetisi berlangsung.

(Mia)

PPDI Ciamis Gelar Rakerkab, Begini Pesan Bupati Herdiat Sunarya

0
Ciamias@fokusjabar.id
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat menghadiri Rakerkab PPDI Kabupaten Ciamis (Dok. PPDI Ciamis)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Perangkat desa di Kabupaten Ciamis dituntut tidak hanya fokus pada urusan administrasi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan kebijakan, keterbatasan anggaran, serta perkembangan teknologi pemerintahan.

Perangkat desa menjaga integritas dan kedisiplinan karena memiliki posisi strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat menghadiri Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis di Doi Cafe, Kecamatan Cijeungjing, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Bupati Ciamis Cek Kebersihan OPD, ASN Diminta jadi Teladan

Rakerkab mengusung tema “Sing Tenang, Kita Semua Bersaudara” dan menjadi forum PPDI untuk mengevaluasi program organisasi serta menyusun agenda kerja menghadapi berbagai tantangan pemerintahan desa.

“Saya berharap bapak ibu selalu menjaga integritas dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat dengan penuh disiplin. Utamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan,” ujar Herdiat.

Herdiat turut memaparkan kondisi keuangan daerah yang masih menghadapi tekanan. APBD Kabupaten Ciamis 2026 mengalami defisit sekitar Rp150 miliar, sementara pemerintah daerah menghadapi efisiensi sekitar Rp174 miliar akibat pengurangan transfer ke daerah.

Keterbatasan tersebut mendorong desa untuk lebih kreatif mengembangkan sumber daya yang dimiliki.

Herdiat meminta setiap desa memetakan potensi lokal untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Pengembangan usaha lokal diharapkan dapat memperkuat kemandirian desa di tengah ruang fiskal pemerintah yang terbatas.

“Masyarakat saja bersemangat, masa kita tidak semangat. Saya berharap perangkat desa lebih semangat lagi,” katanya.

Harmonis Menjalankan Pemdes

Ia juga meminta kepala desa, perangkat desa dan BPD menjaga hubungan kerja yang harmonis dalam menjalankan pemerintahan desa.

“Kepala desa tidak bisa jalan sendiri tanpa perangkat desa dan BPD. Harus betul-betul terjaga harmonisasi, dengan niat yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tuturnya.

Sebanyak 40 desa di Kabupaten Ciamis dijadwalkan mengikuti Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026 dengan sistem pemungutan suara digital.

“Tidak semua masyarakat mengerti. Bapak ibu harus lebih banyak sosialisasi dan menerangkan bagaimana mekanisme pencoblosan Pilkades menggunakan digital,” ujarnya.

Kondisi kemarau yang telah berlangsung sekitar empat bulan juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan air bersih sehingga pemerintah daerah melakukan pendistribusian air kepada masyarakat,” tuturnya.

Herdiat meminta perangkat desa ikut mengedukasi warga agar menggunakan air secara bijak. Masyarakat juga diingatkan tidak membakar sampah atau lahan sembarangan karena kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran.

Program Strategi Nasional

Ketua PPDI Kabupaten Ciamis, Akhmad Himawan mengatakan perubahan kebijakan dan pelaksanaan berbagai program strategis nasional membuat tugas perangkat desa semakin kompleks.

“Di zaman efisiensi dan program strategis nasional, tantangan kerja PPDI tentu semakin berat,” ujar Akhmad.

Menurutnya, peningkatan kapasitas menjadi salah satu fokus organisasi agar anggota mampu mengikuti perkembangan kebutuhan pemerintahan desa.

PPDI juga mendorong perangkat desa membangun sinergi dengan berbagai elemen, termasuk dalam pengembangan UMKM dan penguatan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Laga PSGC vs Sumsel United Bebas Asap Rokok, Petugas Bakal Sweeping Ketat Penonton di Pintu Masuk

“Perangkat desa hari ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus didukung dan bersinergi dengan lintas elemen,” katanya.

Akhmad berharap Rakerkab menghasilkan rumusan program yang dapat memperkuat organisasi sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat desa.

Selain pembahasan agenda organisasi, Rakerkab turut diramaikan Voice the Voice berupa lomba menyanyi antarpeserta perangkat desa.

(Mia)

Waduh! 25 Merek Beras Fortifikasi di Kota Bandung Bermasalah

0
Bandung@fokusjabar.id
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar (FokusaJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung turun memantau peredaran beras fortifikasi di sejumlah pasar setelah pemerintah menarik 25 merek produk tersebut dari peredaran.

Penarikan dilakukan setelah pemeriksaan laboratorium menemukan ketidaksesuaian antara kandungan zat gizi yang tercantum pada label dengan kandungan sebenarnya dalam produk.

Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, pihaknya mulai melakukan monitoring ke pasar tradisional maupun pasar modern di Kota Bandung pada Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Sampah Ilegal Terbakar, Pengamat Pertanyakan Pengawasan Pemkot Bandung

Sebelum turun ke lapangan, DKPP terlebih dahulu berkomunikasi dengan sejumlah pengelola pasar. Dari komunikasi tersebut, beberapa pengelola menyatakan 25 merek beras fortifikasi yang dimaksud telah ditarik dari peredaran.

“Untuk Kota Bandung, hari ini kita sedang menyebar ke lapangan. Sebelum itu kita sudah komunikasi dengan beberapa pasar, dan mereka menyatakan untuk 25 merek itu sudah ditarik di pasaran mereka,”kata Gin Gin, Kamis (17/9/2026).

Gin Gin menjelaskan, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras reguler yang ditambahkan zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral. Penambahan tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat tertentu.

“Iya, jadi beras fortifikasi ini sebetulnya beras jenis reguler yang ditambahkan zat mineral mikro, difortifikasi. Ada istilahnya kernel, hanya sekitar satu persen sebetulnya,” katanya.

Tidak Sesuai Hasil Pemeriksaan

Menurutnya, zat gizi yang ditambahkan antara lain vitamin A dan asam folat. Beras fortifikasi ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi, termasuk bagi ibu hamil, balita, serta kelompok masyarakat yang mengalami stunting atau kekurangan gizi.

Namun, persoalan muncul setelah kandungan yang diklaim pada label sejumlah produk tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.

“Yang terjadi sekarang, klaim beras-beras fortifikasi yang harusnya ditambah ternyata tidak sesuai dengan apa yang tertera di label. Di label tertera mineral tertentu sekian miligram, setelah diperiksa di empat laboratorium yang terakreditasi oleh Kementan, ditemukan ternyata tidak sesuai. Jadi ada pemalsuan di situ,” jelasnya.

Gin Gin menambahkan, persoalan tersebut menjadi perhatian karena harga beras fortifikasi jauh lebih tinggi dibandingkan beras reguler.

Ia menyebut harga beras reguler berada di kisaran Rp13.500 per kilogram, sedangkan beras yang diklaim sebagai beras fortifikasi dapat dijual dengan harga rata-rata Rp57.000 per kilogram.

“Dan harganya memang tinggi. Dari harga standar Rp13.500 reguler, ini dihargai sampai rata-rata Rp57.000. Ini bisa dibayangkan bagaimana tingginya,” ucapnya.

DKKP Bersama Satgas Pangan

Meski demikian, Gin Gin memastikan pengawasan pangan di Kota Bandung terus dilakukan. DKPP juga rutin melakukan pemeriksaan, termasuk bersama Satgas Pangan saat melakukan inspeksi mendadak.

Hasil monitoring sementara menunjukkan DKPP belum menemukan 25 merek beras fortifikasi bermasalah tersebut beredar di Kota Bandung.

Baca Juga: Kebakaran Lahan di Bandung Picu Penyegelan, Begini Sorotan Farhan

“Tapi insya Allah di Kota Bandung tidak ditemukan karena kita intens pemeriksaan, termasuk mendampingi Satgas Pangan saat sidak. Pedagang Kota Bandung juga pintar dan bijak, kalau menemukan secara sadar mereka akan melaporkan. Tapi tetap kita waspada,” katanya.

Gin Gin menambahkan, informasi mengenai 25 merek beras tersebut baru dipublikasikan pemerintah pusat sehari sebelumnya. Setelah informasi tersebut disampaikan, pemerintah daerah kemudian melakukan pemantauan di wilayah masing-masing.

“Setelah diumumkan kemarin, kita juga ikut bergerak. Paling tidak secara formal mulai hari ini kita bergerak ke pasar modern dan pasar tradisional untuk monitoring. Insya Allah bisa berjalan lancar. Yang penting beras secara umum di Kota Bandung tersedia cukup aman,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Sampah Ilegal Terbakar, Pengamat Pertanyakan Pengawasan Pemkot Bandung

0
Bandung@fokusjabar.id
Seorang Petugas Tengah Melakukan Pemadaman di Lahan Tempat Penimbunan Sampah di Cimbuleuit Kota Bandung (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kebakaran di lokasi penimbunan puing dan sampah di kawasan Punclut, Ciumbuleuit, Kota Bandung, memicu sorotan terhadap pengawasan pemerintah.

Lahan sekitar 2,2 hektare tersebut diduga digunakan sebagai tempat pembuangan sampah ilegal sebelum terbakar pada 14 September 2026.

Pengamat kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono mengatakan, keberadaan lokasi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu dievaluasi dari sisi pengawasan pemerintah.

Baca Juga: Wali Kota Bandung: Lahan di Ciumbuleuit Disegel

“Munculnya lokasi pembuangan sampah ilegal di Punclut memang menjadi indikator yang patut dipertanyakan dari sisi pengawasan pemerintah. Hal ini sebagai bukti tunggal kegagalan Pemkot Bandung,” kata Kristian, Kamis (17/9/2026).

Penyegelan Bukan Akhir Persoalan

Kebakaran di lokasi tersebut sempat menimbulkan asap hingga mencapai permukiman warga. Pemkot Bandung kemudian menyegel lokasi itu dan meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengumpulkan informasi untuk dilaporkan kepada penegak hukum lingkungan.

Namun, Kristian menilai penyegelan bukan menjadi akhir persoalan. Pemerintah juga perlu menjelaskan bagaimana aktivitas penimbunan dan pembuangan sampah tersebut bisa berlangsung sebelum akhirnya diketahui dan ditindak.

“Yang menjadi persoalan tata kelola justru adalah pertanyaan mengapa aktivitas tersebut dapat berlangsung sebelum pemerintah mengambil tindakan,” katanya.

Kristian juga menyoroti pernyataan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengenai dugaan sampah dari luar wilayah Bandung yang transit di lokasi tersebut serta dugaan adanya transaksi jasa pembuangan sampah.

“Pernyataan itu masih merupakan dugaan yang harus dibuktikan melalui penyelidikan. Tetapi apabila nantinya terbukti bahwa kegiatan tersebut berlangsung dalam waktu lama tanpa terdeteksi, maka persoalannya tidak lagi sebatas perilaku masyarakat atau pemilik lahan,” ucapnya.

Evaluasi Sistem Pengawasan Sampah

Menurutnya, Pemkot Bandung perlu mengevaluasi sistem pengawasan persampahan, termasuk pendataan lokasi rawan, mekanisme pengaduan masyarakat, pengawasan pengangkutan sampah, serta koordinasi dengan wilayah di sekitar Kota Bandung.

“Pemerintah perlu mengevaluasi sistem pengawasan, pendataan lokasi rawan, mekanisme pengaduan masyarakat, pengawasan terhadap pengangkutan sampah, serta koordinasi antara pemerintah kota dengan wilayah di sekitarnya,” jelasnya.

Ia menilai kasus kebakaran di punclut juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir.

“Kasus Punclut juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir,” ujarnya.

Kristian menyebut, Kota Bandung masih menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari. Sementara kemampuan pengolahan di dalam kota sekitar 200 hingga 300 ton per hari dan sekitar 1.000 ton masih dikirim ke Sarimukti.

“Dalam kondisi seperti itu, tekanan terhadap sistem persampahan sangat besar. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka cakupan pengangkutan. Yang harus diukur adalah berapa sampah yang dikurangi dari sumber, berapa yang dipilah, berapa yang diolah, dan berapa yang masih dibuang ke tempat lain,” katanya.

Persoalan Sampah Belum Teratasi

Menurutnya Kristian, tingginya cakupan layanan persampahan tidak otomatis menunjukkan persoalan sampah telah terselesaikan.

“Bahkan cakupan layanan persampahan yang tinggi tidak otomatis menunjukkan bahwa persoalan sampah telah selesai,” ungkapnya.

Karena itu, Kristian menilai kasus Punclut bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pengawasan dan pertanggungjawaban pengelolaan sampah di Kota Bandung.

Baca Juga: Pasutri Tinggal di Tengah TPU Pandu Bandung, Begini Faktanya

“Penutupan lokasi merupakan langkah awal yang diperlukan, tetapi bukan penyelesaian akhir. Pemerintah perlu mengungkap bagaimana lokasi tersebut dapat beroperasi, siapa yang bertanggung jawab, dari mana sampah berasal, apakah terdapat pelanggaran izin, dan bagaimana sistem pengawasannya sebelumnya,” katanya.

Kristian menegaskan, jika pelanggaran terbukti, proses penegakan aturan harus berjalan. Bersamaan dengan itu, Pemkot Bandung perlu memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dan pengawasan lintas wilayah.

“Dengan begitu, pemerintah tidak hanya memadamkan kebakaran setelah masalah muncul, tetapi memperbaiki sistem yang memungkinkan masalah tersebut terjadi,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Kebakaran Lahan di Bandung Picu Penyegelan, Begini Sorotan Farhan

0
Bandung@fokusjabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Pendopo Kamis (17/9/2026) (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyegel dua lokasi yang menjadi titik kebakaran lahan dan tumpukan sampah di tengah kemarau panjang. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Ciumbuleuit dan Cicabe.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kebakaran lahan dan tumpukan sampah menjadi salah satu dampak dari kemarau panjang yang melanda Kota Bandung.

“Kota Bandung sekarang salah satu bencana yang akibat dari kemarau yang sangat panjang ini adalah kebakaran lahan tumpukan sampah. Ternyata terjadi,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Pasutri Tinggal di Tengah TPU Pandu Bandung, Begini Faktanya

Farhan mengatakan, kebakaran di Cicabe masih dalam penanganan. Sementara itu, kebakaran di Ciumbuleuit telah berhasil dipadamkan setelah berlangsung selama 39 jam.

Proses pemadaman di Wali Kota Bandung: Lahan di Ciumbuleuit Disegel melibatkan berbagai pihak, termasuk Kartika Rescue. Petugas juga menghadapi medan yang sulit karena harus turun sekitar 200 meter ke jurang untuk menyemprotkan air ke bagian dalam tumpukan sekam yang terbakar.

“Ciumbuleuit sudah padam, akhirnya selama 39 jam dengan bantuan dari berbagai macam pihak, termasuk pihak Kartika Rescue. Karena mesti turun 200 meter ke jurang untuk menyemprotkan air untuk pemadaman sekam di dalamnya,” katanya.

Dugaan Praktik Jual Beli

Setelah api berhasil dipadamkan, lokasi tersebut kemudian disegel oleh Pemkot Bandung. Penyegelan juga dilakukan di lokasi pembuangan sampah di Cicabe.

Farhan menegaskan, tidak boleh ada lagi aktivitas pembuangan sampah ke lokasi tersebut. Pemkot Bandung menduga terdapat praktik jual beli jasa pembuangan sampah di kawasan itu.

Baca Juga: Wali Kota Bandung: Lahan di Ciumbuleuit Disegel

“Nah, tempat tersebut sekarang sedang kita segel. Demikian juga yang di Cicabe sedang kita segel, tidak boleh ada pembuangan ke arah sampah sana karena diduga ada jual beli jasa pembuangan sampah,” jelasnya.

Farhan menambahkan, dugaan tersebut, akan ditindaklanjuti. Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung tengah mengumpulkan laporan terkait aktivitas di lokasi tersebut.

“Nah, ini akan kita tindak. Sedang dikumpulkan laporannya oleh Dinas Lingkungan Hidup dan nanti akan dilaporkan kepada penegakan hukum Kementerian Lingkungan Hidup,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)