spot_imgspot_img
Sabtu 25 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 314

Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Ciamis Dijaga 2 Harimau Raksasa

0
Dusun Citapen Kolot fokusjabar.id
Lokasi petilasan Eyang Sanggabuana yang berlokasi di Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Sejak dulu hingga kini Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) tidak pernah di masuki orang jahat atau maling.

Konon, wilayah Dusun Citapen Kolot di jaga dua Harimau berukuran besar.

BACA JUGA:

Alun-alun Ciamis Jadi Pusat Dakwah Pesantren Ortodok pada Peringatan Isra Mi’raj

Menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, kedua Harimau gaib tersebut merupakan Panglima pasukan zaman kerajaan Galuh bernama Singdarapa dan Wangsadarapa.

Singdarapa dan Wangsadarapa mengamankan wilayah itu sejak ratusan tahun lalu.

Keduanya merupakan panglima perang Raja Galuh semasa Eyang Sanggabuana seorang leluhur yang pertama kali membuka kawasan Citapen kolot.

Dusun Citapen Kolot fokusjabar.id
Lokasi petilasan Eyang Sanggabuana yang berlokasi di Dusun Citapen Kolot Desa Sukajaya Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis

Tokoh masyarakat Dusun Citapen Kolot, Dasta (71) mengisahkan, patilasan atau tetenger Eyang Sanggabuana saat ini keberadaannya terawat dengan baik.

Hal itu sebagai bukti bahwa warga di lokasi itu sangat menghormati jasa-jasanya semasa hidupnya.

“Patilasan Eyang Sanggabuana saat ini masih ada. Dan lokasinya berada tepat di bawah pohon Angsana,” katanya, Selasa (20/1/2026).

Menurut Dasta, selain patilasan Eyang Sanggabuana, di lokasi itu ada juga makam Eyang Mulyasakti dan Ratu Imamahdi.

Warga Dusun Citapen Kolot merawat dan menjaga kelestarian makam=makam tersebut.

“Mereka itu sangat berjasa bagi kami di sini. Sehingga Kampung ini ramai dan tetap aman sampai sekarang,” ungkap Dasta.

BACA JUGA:

Minyakita Menghilang dari Pasar, Pemda Ciamis Dorong Peran Bulog

Dia menyebut, pernah pada suatu waktu wilayah Citapen Kolot kemasukan maling yang berusaha membawa kabur sepeda motor milik warga.

Namun si maling tidak berhasil membawa kabur keluar wilayah Citapen Kolot. Pencuri itu ketakutan saat melihat seekor Harimau seukuran jalan yang akan dilewati pencuri. Alhasil, sepeda motor itu ditinggalkan.

“Setelah pencuri itu berhasil ditangkap, Dia mengaku meninggalkan sepeda motor curiannya karena di tengah jalan perbatasan Dusun Citapen Kolot dicegat sosok Harimau besar,” pungkasnya.

(Husen Maharaja)

Permainan Bandar Picu Harga Daging Tinggi di Ciamis

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Daging Sapi yang dijual sejumlah pedagang di Pasar Manis Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Tingginya harga daging sapi di Pasar Manis Ciamis belakangan ini bukan di sebabkan kelangkaan sapi. Melainkan di picu oleh persoalan rantai distribusi dan biaya operasional yang di nilai memberatkan pedagang lokal.

Kondisi tersebut muncul karena tidak ada pedagang daging di Ciamis yang berani melakukan penyembelihan sapi hidup di Rumah Potong Hewan (RPH).

Biaya operasional pemotongan yang di anggap tinggi membuat para pedagang memilih jalan praktis dengan membeli daging siap jual dari bandar besar di Tasikmalaya.

Baca Juga: Alun-alun Ciamis Jadi Pusat Dakwah Pesantren Ortodok pada Peringatan Isra Mi’raj

Akibatnya, harga daging sapi di tingkat pasar ikut terdongkrak dan sulit di kendalikan.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu menilai, jika pedagang lokal berani memotong sapi sendiri harga daging di pasaran berpotensi lebih rendah dan tidak sepenuhnya di kendalikan oleh bandar besar.

“Kalau ada pedagang yang memotong sapi sendiri, harga bisa lebih terkontrol. Yang terjadi sekarang bukan karena sapi mahal. Tapi lebih ke permainan bandar besar,” ujar Anton.

Ia mengakui, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah berada pada posisi sulit untuk menekan harga daging sapi di pasaran. Menurutnya, lonjakan harga sapi biasanya terjadi pada momen tertentu seperti Idul Adha, namun situasi saat ini berbeda.

“Kalau Idul Adha memang wajar harga sapi naik. Tapi sekarang, yang mahal itu dagingnya, bukan sapi hidupnya,” jelasnya.

Biaya Pemotongan Daging Tinggi

Anton menambahkan, tingginya permintaan masyarakat terhadap daging sapi, yang tidak diimbangi dengan ketersediaan stok di tingkat pedagang lokal, membuat hukum ekonomi berjalan secara alami.

“Ketika permintaan tinggi sementara persediaan terbatas, otomatis harga naik. Itu hukum ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Eros, salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Manis Ciamis, membenarkan bahwa dirinya tidak melakukan penyembelihan sendiri. Ia mengaku lebih memilih membeli daging dari bandar di Pasar Induk Tasikmalaya karena biaya pemotongan di RPH dinilai terlalu besar.

“Kalau motong sendiri biayanya tinggi. Jadi kami beli daging langsung dari bandar,” ungkapnya.

Eros menyebut, stok daging di tingkat bandar sebenarnya cukup tersedia. Namun kenaikan harga dari pemasok membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual kepada konsumen.

“Barangnya ada, tapi harganya naik. Mau tidak mau, kami ikut menyesuaikan,” pungkasnya.

(Husen Maharaja)

Bandung Zoo Jadi Sorotan, Orangutan dan Gajah Diduga Stres

0
bandung zoo@fokusjabar.id
Lembaga Pemerhati Satwa Geopix Menemukan Dugaan Indikasi Stres pada sejumlah satwa di Bandung Zoo

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kondisi kesejahteraan satwa di Bandung Zoo kembali menjadi sorotan. Lembaga pemerhati satwa Geopix menemukan dugaan indikasi stres pada sejumlah satwa usai melakukan kunjungan ke Bandung Zoo pada 14 Januari 2026 lalu.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati menyampaikan, bahwa kondisi beberapa satwa sangat memprihatinkan dan tidak boleh di abaikan.

Satwa yang di soroti antara lain orangutan, gajah, dan monyet hitam yang menunjukkan tanda-tanda gangguan kesejahteraan.

Baca Juga: Insinerator Dihentikan, Penumpukan Sampah Hiasi Kota Bandung

“Temuan di lapangan menunjukkan dugaan stres pada beberapa satwa kunci. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan tidak boleh di abaikan,” kata Annisa dalam keterangan tertulis yang di terima, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, pembukaan Bandung Zoo untuk pengunjung tidak di lakukan secara tergesa-gesa. Juga evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan standar pengelolaan harus menjadi prioritas, terlebih di tengah konflik internal yang belum sepenuhnya tuntas.

“Kesejahteraan satwa harus menjadi syarat utama. Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan perlu memastikan kebun binatang ini benar-benar layak sebelum kembali di buka,”ucapnya.

Sementara itu, Senior Biologist sekaligus Wildlife Curator Center for Orangutan Protection (COP)  Indira Nurul Qomariah menyampaikan, berdasarkan pengamatan awal, ia menemukan indikasi gangguan kesehatan pada primata yang berpotensi berkaitan dengan stres.

“Kebotakan pada lengan dan kaki bawah orangutan maupun monyet hitam bisa di sebabkan oleh penyakit kulit, kekurangan nutrisi, atau stres akibat kebosanan dan perilaku kompulsif seperti overgrooming,” katanya.

Indira menjelaskan, bahwa faktor genetik seperti alopecia juga memungkinkan menjadi penyebab. Oleh karena itu, di perlukan pemeriksaan medis mendalam serta observasi perilaku lanjutan untuk memastikan diagnosis yang tepat.

Selain primata, perilaku gajah di Bandung Zoo juga menjadi perhatian. Indira menyebut salah satu gajah memperlihatkan perilaku stereotip berupa swaying atau gerakan berulang tanpa tujuan, yang kerap di kaitkan dengan kondisi stres pada satwa dalam penangkaran.

“Perilaku ini biasanya muncul akibat lingkungan yang kurang mendukung kesejahteraan satwa, seperti minimnya pengayaan atau tidak terpenuhinya kebutuhan sosial,”jelasnya.

Humas Bandung Zoo

Menanggapi hal tersebut, Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, menegaskan, bahwa pengelola telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi satwa, termasuk pemberian terapi pengayaan secara rutin.

Baca Juga: Patuhi Arahan Mentri LH, DLH Kota Bandung Stop Oprasional Insinerator

“Kami memberikan variasi makanan setiap hari dan menempatkannya di lokasi yang berbeda agar satwa tetap aktif. Selain itu, kondisi satwa terus dipantau oleh dua orang dokter,”kata Sulhan.

Meski begitu, Sulhan mengaku bahwa keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Menurutnya, kebutuhan alami satwa di habitat liar sulit sepenuhnya di penuhi di area kebun binatang.

“Di alam, gajah bisa berjalan puluhan kilometer per hari dan orangutan membutuhkan kanopi pepohonan yang luas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami,”ungkapnya.

(Yusuf Mugni)

Pemkot Bandung Hati-hati Soal PPPK SPPG, Anggaran dan Keadilan Jadi Pertimbangan

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Rencana pengangkatan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) masih belum menemui titik final.

Pemerintah Kota Bandung menegaskan, kebijakan tersebut masih dalam tahap kajian mendalam dan memerlukan koordinasi lintas instansi.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada keputusan resmi terkait pengangkatan tersebut.

Menurutnya, Pemkot Bandung harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), sekaligus berkonsultasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga: Patuhi Arahan Mentri LH, DLH Kota Bandung Stop Oprasional Insinerator

“Kami akan membahasnya lebih dulu dengan BKPSDM. PPPK itu kan pembiayaannya dari pemerintah daerah. Sementara penyusunan anggaran sudah berjalan. Jadi kalau kebijakan ini diambil, bisa saja memerlukan penyesuaian anggaran,” ujar Iskandar, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, dari sisi administrasi dan keuangan, pengangkatan PPPK di luar perencanaan awal berpotensi menimbulkan konsekuensi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Oleh karena itu, setiap langkah harus di kaji secara matang agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Selain persoalan anggaran, Iskandar juga menyoroti potensi munculnya kecemburuan sosial. Khususnya dari kalangan guru honorer yang hingga kini belum seluruhnya di angkat menjadi PPPK. Menurutnya, aspek keadilan dan pemerataan menjadi pertimbangan penting sebelum kebijakan diputuskan.

“Kami juga harus melihat kondisi guru-guru yang belum diangkat. Semua ini perlu dikoordinasikan dan dikonsultasikan dengan pemerintah pusat agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan masalah baru,” jelasnya.

Kerangka Anggara yang Tersusun

Iskandar menegaskan, Pemkot Bandung saat ini telah memiliki kerangka anggaran yang tersusun, sehingga setiap kebijakan baru harus pasti, apakah memerlukan perubahan anggaran atau tidak.

“Kalau ada kebijakan baru, tentu harus kita sosialisasikan lebih dulu. Tidak bisa langsung menerapkannya begitu saja,” katanya.

Terkait besarnya beban anggaran akibat jumlah PPPK di Kota Bandung, Iskandar mengakui bahwa seluruh pembiayaan PPPK menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Kondisi ini menuntut Pemkot untuk lebih kreatif dalam meningkatkan potensi pendapatan daerah.

“Beban PPPK itu ada di pemerintah kota atau kabupaten. Maka dari sisi anggaran, kita harus berpikir bagaimana meningkatkan pendapatan daerah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Iskandar menjelaskan bahwa saat ini Pemkot Bandung menerapkan skema kerja non-perorangan, yang mekanismenya menyerupai kerja sama dengan pihak swasta atau badan usaha. Dalam skema tersebut, pemerintah daerah tidak lagi mengontrak individu secara langsung.

“Kontraknya bukan perorangan, tapi seperti kerja sama dengan perusahaan swasta. Misalnya, mereka harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Mekanismenya mengikuti aturan yang berlaku,” paparnya.

Ia menegaskan, pola kontrak honorer seperti yang sebelumnya di lingkungan pemerintah daerah kini sudah tidak boleh. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari penataan birokrasi dan penyesuaian dengan regulasi nasional terkait aparatur sipil negara dan tenaga kerja.

“Sudah tidak boleh lagi ada model kontrak honorer seperti dulu,” tegasnya.

Meski demikian, Pemkot Bandung masih membutuhkan tenaga lapangan, seperti petugas kebersihan, gober, dan penyapu jalan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kebutuhan tersebut tetap dipenuhi melalui skema sistem kerja yang sesuai dengan regulasi yang berlaku.

“Kota Bandung masih membutuhkan tenaga-tenaga itu. Mereka masuk ke sistem yang sudah kami jelaskan, bukan honorer seperti sebelumnya,” pungkas Iskandar.

(Yusuf Mugni)

Wapres Gibran Tinjau RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya

0
wapres gibran tasikmalaya@fokusjabar.id
Wapres Gibran Rakabuming, didampingi Wali Kota Viman Alfarizi dan Direktur RSUD dr Budi Tarmidi saat menyalami pasien yang sedang menjalani perawatan medis (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Safari kunjungan kerjanya ke Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, Selasa (20/01/2026), Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka melakukan peninjauan langsung proses pelayanan kesehatan di RSUD dr. Soekardjo.

Agenda kedua setelah sebelumnya kunjungan di Pasar Induk Cikurubuk ini di lakukan untuk memastikan penguatan fasilitas dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat terus berjalan secara optimal.

Kunjungan ke RSUD dr Soekardjo, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Yakni, Negara memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak dan mudah di akses. 

Baca Juga: Driver Ojol Tasikmalaya Curhat ke Wapres Gibran, Soal Sulitnya Cari Kerja

Dalam konteks tersebut, Wapres menegaskan pentingnya penguatan fasilitas pelayanan kesehatan serta optimalisasi sistem jaminan kesehatan nasional sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia sehat.

Dalam peninjauan itu, Wapres memantau langsung alur pelayanan pasien. Mulai dari pendaftaran rawat jalan, pelayanan poliklinik hingga farmasi. 

Ia pun menyempatkan diri, melihat sejumlah fasilitas layanan rumah sakit. Termasuk gedung poliklinik yang masih dalam tahap penyelesaian serta bangunan rawat inap dari sisi luar.

Wapres pun menyempatkan juga berdialog dengan tenaga kesehatan dan menyapa sejumlah warga yang tengah menjalani pemeriksaan maupun yang sedang melakukan pengobatan.

Direktur RSUD dr. Soekardjo, Budi Tirmadi mengungkapkan, Wapres memberikan perhatian khusus terhadap penguatan fasilitas rumah sakit. Termasuk percepatan penyelesaian pembangunan gedung pelayanan RSUD.

“Pak Wapres tadi menekankan pentingnya peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan. Beliau pun melihat langsung gedung poliklinik yang masih dalam tahap penyelesaian. Beliau mendorong agar koordinasi dengan pemerintah provinsi Jawa Barat dapat segera di tuntaskan,” ungkap Budi Tirmadi, Selasa (20//1/2026).

BPJS Kesehatan

Budi menjelaskan, sebagian besar pasien yang di layani di RSUD dr. Soekardjo merupakan peserta BPJS Kesehatan.

Dia juga menyampaikan jika Kota Tasikmalaya saat ini telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan tingkat kepesertaan BPJS mencapai sekitar 99 persen dari total penduduk.

Baca Juga: Wapres Gibran  Rakabuming Beli Bawang Daun di Pasar Cikurubuk 2 Kg

“Keaktifan peserta saat ini berada di angka sekitar 83 persen. Tadi Pak Wapres juga meninjau pelayanan di beberapa poliklinik. Seperti klinik anak, kebidanan dan saraf serta melihat pelayanan farmasi rawat jalan,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wapres Gibran juga berdialog dengan keluarga pasien salah satunya Neng Neti (47), warga Desa Sukamenak sekaligus pendamping Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT), Ia menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang di berikan Wapres terhadap kondisi pasien yang tengah menjalani proses rujukan medis.

“Alhamdulillah, Pak Wapres menanyakan langsung kondisi pasien dan memberikan bantuan agar proses rujukan pengobatan ke rumah sakit rujukan dapat berjalan lancar,”tuturnya.

(Seda)

Insinerator Dihentikan, Penumpukan Sampah Hiasi Kota Bandung

0
sampah kota bandung@fokusjabar.id
Kepala DLH Kota Bandung, Darto di Balai Kota Bandung Selasa (20/1/2026)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengakui mulai terjadi penumpukan sampah di sejumlah titik setelah operasional insinerator di hentikan sementara.

“Dari hasil pengecekan lapangan kemarin, sudah mulai ada penumpukan di titik yang waktu itu di tinggalkan oleh Pak Menteri karena insineratornya tidak beroperasi. Sementara sampah di sana terus bertambah setiap hari,”kata Kepala DLH Kota Bandung, Darto di Balai Kota Bandung Selasa (20/1/2026).

Terkait rencana penambahan 25 unit insinerator, Darto menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak secara eksplisit menyebut penggunaan insinerator. Menurutnya, yang di maksud dalam perencanaan adalah teknologi termal, bukan insinerator secara spesifik.

Baca Juga: Patuhi Arahan Mentri LH, DLH Kota Bandung Stop Oprasional Insinerator

“Yang di sebutkan itu teknologi termal. Teknologi termal tidak selalu insinerator. Kalau pirolisis itu termasuk, dan menurut informasi dari Pak Menteri, pirolisis tidak ada masalah,”katanya.

Menurutnya, apabila ke depan teknologi tersebut perlu di sesuaikan ke sistem Refuse Derived Fuel (RDF), secara teknis masih memungkinkan untuk di lakukan penyesuaian.

“Soal teknis, kita masih punya waktu untuk menyesuaikan. Jadi tidak ada kendala serius dalam pemilihan teknologi penanganan sampah,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai 15 unit insinerator yang sebelumnya telah ada, Darto menjelaskan bahwa secara administrasi pengadaan alat tersebut tidak secara rinci menyebut jenis teknologi yang di gunakan.

“Secara teknis itu bukan rincian kode belanja yang menyebut teknologi tertentu. Yang tertulis hanya pembelian peralatan pengolahan sampah, bukan kode rekening teknologi insinerator,” jelasnya.

Meski demikian, DLH memastikan pelaksanaan pengadaan maupun penggunaan teknologi ke depan akan di sesuaikan dengan hasil kajian dan rekomendasi dari perguruan tinggi.

“Kita akan sesuaikan dengan rekomendasi hasil penelitian dan pengembangan bersama 4 sampai 5 rektor. Rekomendasinya nanti apa, itu yang akan kita ikuti,”ucapnya.

Pemkot Gandeng ITB

Ia menyebutkan, DLH Kota Bandung telah menggandeng sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk mengkaji teknologi pengolahan sampah yang paling ramah lingkungan.

“Perguruan tinggi paham betul, apalagi ITB punya jurusan Teknik Lingkungan. Harapannya mereka bisa memberikan masukan yang objektif dan ilmiah,” katanya.

Darto juga menyinggung hasil peninjauan Menteri Lingkungan Hidup yang di duga menemukan pelampauan baku mutu emisi. Namun, pihak DLH belum menerima laporan resmi hasil pengujian tersebut.

“Informasinya memang begitu, tapi kami belum memperoleh laporan resmi hasil pengujiannya,”ungkapnya.

Baca Juga: Antisipasi Penumpukan, Pemkot Bandung Kirim 100 Ton Sampah per Hari ke RDF Bekasi

Darto menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 70, terdapat delapan parameter polutan yang harus diuji, mulai dari partikulat, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), hingga dioksin dan furan.

“Dari 15 unit yang beroperasi, tujuh unit sudah pernah di uji emisinya dan hasilnya tidak melebihi baku mutu lingkungan. Dokumennya sudah kami serahkan ke Kementerian LH,”jelasnya.

Meski demikian, DLH tetap membuka diri terhadap evaluasi dan masukan. Untuk itu, pengujian emisi ulang terhadap seluruh unit insinerator mulai di lakukan kembali.

“Kami tidak defensif. Mulai hari ini seluruh unit akan di uji emisi ulang bersama Sucofindo, tim independen lainnya, dan juga di hadiri oleh Kementerian,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Lakukan KDRT, Seorang Pria Diamankan Polres Pangandaran

0
kdrt polres pangandaran@fokusjabar.id
ilustrasi.

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Satuan Reserse Kriminal Polres Pangandaran melalui Unit IV PPA berhasil mengungkap kasus tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga.

Peristiwa ini terjadi di Dusun Parigi RT/RW 001, Desa/Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran Jumat, 16 Januari 2026 sekitar pukul 20.00 WIB,

Kapolres Pangandaran, AKBP Ikrar Potawari melalui Kasi Humas Polres Pangandaran Aiptu Yusdiana mengatakan, dalam kasus ini polisi mengamankan seorang pria berinisial SY (35), warga Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Baca Juga: Siswi Bernasib Malang Siti Aulia Marlina, Jadi Anak Angkat Kapolres Pangandaran

“Pelaku di duga melakukan kekerasan terhadap istrinya, Ela Hayati (42) hingga mengakibatkan korban mengalami luka berat di bagian kaki,” kata Yusdiana, Selasa (20/1/2026).

Yusdiana mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan, kejadian bermula saat pelaku dan korban terlibat cekcok. Pelaku kemudian mendorong korban hingga terjatuh dan menebaskan sebilah golok ke arah kaki kanan korban.

“Pelaku sempat mengantarkan korban ke RSUD Pandega Pangandaran untuk mendapatkan penanganan medis. Kemudian, pelaku di amankan oleh Polsek Parigi sebelum akhirnya di serahkan ke Unit IV PPA Satreskrim Polres Pangandaran untuk proses hukum lebih lanjut,” jelasnya.

Setelah itu, Unit IV PPA Satreskrim Polres Pangandaran melakukan penangkapan terhadap pelaku pada Minggu, 18 Januari 2026 sekitar pukul 18.30 WIB.

“Saat di amankan, pelaku bersikap kooperatif dan tidak melakukan perlawanan,” ujarnya.

Amankan Barang Bukti

Dari tangan pelaku, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti. Yani, satu bilah golok beserta sarungnya serta dua buku nikah atas nama pelaku dan korban.

Baca Juga: Siti Aulia Marlina Siswi Teladan di SMK Pasundan Cijulang Pangandaran

“Saat ini, pelaku telah di lakukan penahanan di Polres Pangandaran guna kepentingan penyidikan,” tegasnya.

Untuk menebus perbuatannya, pelaku di jerat dengan Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

“Polres Pangandaran mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor kepada pihak kepolisian apabila mengetahui atau mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga. Hal itu guna mendapatkan perlindungan dan penanganan hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.

(Sajidin)