spot_img
Senin 2 Februari 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 24

Satu Abad NU di Garut, Bupati Garut Siapkan Akses Modal Tanpa Agunan

0
Garut, FOKUSJabar.id
Keterangan Foto: Opening Ceremony Satu Abad Nahdatul Ulama (NU) 1926-2026 dan Musyawarah Kerja Cabang (Mukercab) PCNU Kabupaten Garut yang bertempat di Lapangan SOR Ciateul, Jalan Proklamasi, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (26/01/2026).

GARUT,FOKUSJabar.id: Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (1926–2026) di Kabupaten Garut bukan sekadar seremoni sejarah. Momentum ini dimanfaatkan sebagai titik tolak memperkuat kemandirian ekonomi umat, seiring dimulainya abad kedua perjalanan NU.

Hal itu tercermin dalam Opening Ceremony Satu Abad NU beriringingan dengan rangkaian Musyawarah Kerja Cabang (Mukercab) PCNU Kabupaten Garut, di Lapangan SOR Ciateul, Jalan Proklamasi, Senin (26/1/2026), Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin membuaka langsung kegiatan tersebut.

Baca Juga: Pemkab Garut Rilis Panduan Hari Jadi ke-213, Upacara Puncak Digelar 18 Februari

Dalam sambutannya, Bupati Syakur mengapresiasi kontribusi NU selama satu abad terakhir, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan. Namun, menurutnya, tantangan ke depan menuntut kolaborasi yang lebih konkret di sektor ekonomi.

“NU sudah terbukti menjaga umat selama 100 tahun. Memasuki abad kedua, sinergi NU dan pemerintah harus lebih mengarah pada penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Syakur.

Akses Modal Ringan hingga Tanpa Agunan

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Kabupaten Garut menyiapkan dukungan permodalan bagi warga Nahdliyin dan masyarakat umum. Syakur mengungkapkan, Pemkab telah menjalin koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta perbankan, termasuk Bank BJB, untuk menghadirkan skema pembiayaan yang ramah pelaku usaha kecil.

“Untuk pinjaman sampai Rp10 juta, kita upayakan bunganya hanya sekitar 3 persen. Bahkan untuk kebutuhan modal yang lebih besar, ada skema bantuan tanpa agunan,” jelasnya.

Ia berharap kemudahan akses modal ini mampu mendorong geliat usaha masyarakat, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah berbasis kerakyatan.

Meneguhkan Khidmatul Ummah

Ketua PCNU Kabupaten Garut, KH Atjeng Abdul Wahid, menyampaikan bahwa peringatan satu abad NU versi Masehi ini merupakan wujud rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi yang terus konsisten melayani umat.

Menurutnya, semangat himayatul ummah (melindungi umat) dan khidmatul ummah (melayani umat) harus tetap menjadi ruh pergerakan NU di masa depan.

“Ini menjadi pengingat bahwa harokah NU tidak boleh lepas dari peran melayani dan menjaga umat, dalam kondisi apa pun,” tegasnya.

Mukercab, UMKM, dan Apel Kebangsaan

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Adis Abdullah Effendi, menjelaskan kemasan rangkaian peringatan Satu Abad NU di Garut terdiri dalam tiga agenda besar. Selain Mukercab PCNU, acara ini juga menghadirkan Pameran Bazar UMKM yang melibatkan lebih dari 200 pelaku usaha, serta Apel Kebangsaan yang dijadwalkan pada 29 Januari 2026.

Tak hanya itu, panggung hiburan rakyat juga disiapkan melalui 50 penampilan seni. Kemudian penampilan kreasi dari Majelis Wakil Cabang (MWC), lembaga, hingga badan otonom NU.

“Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum. Selain silaturahmi, kami ingin NU hadir langsung menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Adis.

Rangkaian acara di SOR Ciateul dapat masyarakat kunjungi setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 22.00 WIB. Harapannya, peringatan satu abad ini tidak hanya memperkuat kebersamaan warga NU. Tetapi juga memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut.


(Y.A. Supianto)

Jejak Kejayaan Pacuan Kuda Dadaha Kota Tasikmalaya, Kini Tinggal Kenangan

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id: Jejak Kejayaan Pacuan Kuda Dadaha Kota Tasikmalaya, Kini Tinggal Kenangan
Jejak Kejayaan Pacuan Kuda Dadaha Kota Tasikmalaya, Kini Tinggal Kenangan ((Ilustrasi WEB)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kompleks Olahraga Dadaha hari ini dikenal sebagai jantung aktivitas olahraga Kota Tasikmalaya. Stadion megah, gedung basket, hingga arena bulu tangkis berdiri kokoh dan ramai oleh aktivitas atlet. Namun, jauh sebelum derap sepatu olahraga menggema, Dadaha pernah menjadi arena pacuan kuda paling bergengsi di Jawa Barat.

Bagi generasi awal abad ke-20 hingga mereka yang tumbuh di era 1980-an, Dadaha bukan sekadar ruang publik. Kawasan ini adalah pusat hiburan rakyat, tempat adu gengsi para pemilik kuda terbaik, sekaligus saksi sejarah olahraga berkuda yang pernah berjaya.

Baca Juga: Anggaran Kota Tasikmalaya 2026 “Berdarah”, Tapi Belanja Makan dan Internet Malah Meroket

Dadaha, Arena Elit dan Hiburan Rakyat

Budayawan Tasikmalaya, Tatang Pahat, mengenang Dadaha sebagai magnet sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Arena pacuan kuda kala itu kerap menjadi ajang unjuk prestise kuda-kuda milik para pejabat dan bangsawan lokal (menak), namun tetap terbuka bagi masyarakat umum.

“Dulu pacuan kuda di Dadaha sangat populer. Bukan hanya hiburan, tapi juga arena adu ketangkasan kuda-kuda milik para pejabat pada zamannya,” ujar Tatang, Senin (26/1/2026).

Menariknya, sejumlah bangunan olahraga yang ada saat ini menyimpan jejak fungsi lamanya. GOR Sukapura, misalnya, dahulu digunakan sebagai area pelatihan kuda sebelum berlaga. Sementara Gedong Peteng, bangunan peninggalan kolonial Belanda, pernah difungsikan sebagai tribun VIP dengan akses khusus menuju bagian bawah yang dahulu menjadi istal kuda.

Bahkan, lokasi yang kini menjadi arena olahraga bulu tangkis dan sekitarnya dulunya merupakan hamparan padang rumput tempat kuda merumput, sekaligus menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi kuda pacu yang mati.

Lintasan Legendaris dan Nama-Nama Abadi

Dadaha juga melahirkan legenda. Nama-nama kuda seperti Semberani, Fortun, Januar, Hanter, hingga Dudut pernah menjadi idola publik. Kecepatan dan ketangguhan mereka tak lepas dari peran para joki legendaris seperti Elan, Oos, Uus, Endang, dan joki lainnya yang dikenal piawai memacu kuda dengan keberanian tinggi.

Sinergi antara kuda dan joki menghadirkan ketegangan di setiap lomba. Sorak sorai penonton yang memadati tribun kayu sederhana kala itu menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer pacuan kuda Dadaha.

Redupnya Kejayaan Pacuan Kuda

Memasuki era 1980-an, kejayaan pacuan kuda Dadaha mulai memudar. Alih fungsi kawasan menjadi kompleks olahraga modern membuat lintasan pacu semakin menyempit dan akhirnya hilang.

“Sempat ada wacana pemindahan arena ke wilayah Cilembang, namun tidak sesukses Dadaha karena lintasan pacunya dianggap kurang ideal,” tutur Tatang.

Perlahan, suara derap kaki kuda tergantikan oleh pantulan bola basket dan gemuruh suporter sepak bola. Dadaha pun bertransformasi total, meninggalkan pacuan kuda sebagai bagian dari masa lalu.

Warisan yang Layak Hidup Kembali

Meski tinggal kenangan, pacuan kuda memiliki potensi besar sebagai olahraga tradisional sekaligus daya tarik wisata. Lebih dari sekadar lomba, olahraga ini mencerminkan kedisiplinan, ketangkasan, dan warisan budaya yang pernah mengharumkan Tasikmalaya di tingkat regional hingga nasional.

Revitalisasi olahraga berkuda bukan hal mustahil. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, semangat pacuan kuda Dadaha dapat hidup kembali dalam format modern tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Dadaha menjadi pengingat bahwa Tasikmalaya memiliki akar olahraga yang kuat. Mengenal sejarah pacuan kuda di kawasan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya merawat identitas kota agar warisan ketangkasan itu suatu hari bisa kembali berlari, mengharumkan nama Tasikmalaya.


(Abdul)

Sembilan Kandidat Pejabat Strategis Kabupaten Tasikmalaya Menunggu Keputusan Bupati

0
Open bidding pejabat Kabupaten Tasikmalaya fokusjabar.id
Kepala BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya, H. Iing Farid Khozin, M.Si, menjelaskan perkembangan seleksi terbuka pengisian jabatan strategis di lingkungan Pemkab Tasikmalaya.

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Tahapan panjang seleksi terbuka pengisian jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya akhirnya mengerucut.

Kepala BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya  Iing Farid Khozin menjelaskan, proses open bidding pejabat Kabupaten Tasikmalaya telah memasuki tahap akhir.

Dari proses open bidding yang telah di lalui, kini tersisa sembilan kandidat terbaik untuk mengisi tiga Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama.

Kepala BKPSDM Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan, proses seleksi telah berjalan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Mulai dari administrasi hingga penilaian kompetensi.

BACA JUGA: 

Pj Sekda Kabupaten Tasikmalaya Dilantik, BKPSDM Pastikan Seleksi Definitif Tetap Jalan

“Tahapan seleksi sudah selesai. Saat ini masing-masing jabatan tinggal menyisakan tiga kandidat dan tinggal menunggu penetapan dari Bupati Tasikmalaya,” kata Iing, Senin (26/1/2026).

Tiga jabatan yang di perebutkan tersebut meliputi Kepala Dinas PUTRPRKPLH, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya.

Untuk Dinas PUTRPRKPLH, kandidat yang lolos adalah Agianto Ahmad Tahir, Deden Ramadan, dan Yafit Khairul Adnan.

Sementara pada posisi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, tiga nama yang tersisa yakni Agianto Ahmad Tahir, Agus Sutisna, dan Dr. Rubi Azahra.

Adapun untuk jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ada nama Dodi Ajat Sudrajat, Edi Ruswandi Hidayatuloh, serta Wandi Herpiyadi yang berasal dari lingkungan kementerian.

Open Bidding Pejabat Terbuka Tak Hanya Untuk Kabupaten Tasikmalaya

Menurut Iing, komposisi kandidat menunjukkan keterbukaan seleksi, karena tidak seluruh peserta berasal dari internal Pemkab Tasikmalaya.

“Sebagian kandidat berasal dari daerah lain dan kementerian. Ini menunjukkan seleksi berjalan secara terbuka dan kompetitif,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemkab Garut Rilis Panduan Hari Jadi ke-213, Upacara Puncak Digelar 18 Februari

Ia menegaskan, rekomendasi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) telah terbit dan memberikan kewenangan penuh kepada Pejabat Pembina Kepegawaian, untuk memilih satu kandidat terbaik pada masing-masing jabatan.

“Pelantikan sudah terjadwal dan rencananya dilaksanakan pada Januari ini,” pungkas Iing.

(Farhan)

Pemkab Garut Rilis Panduan Hari Jadi ke-213, Upacara Puncak Digelar 18 Februari

0
Garut, FOKUSJabar.id
Logo Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut

GARUT,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Garut resmi meluncurkan pedoman peringatan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 tahun 2026. Panduan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.14.1.1/359/PKP yang ditetapkan pada 26 Januari 2026 dan ditandatangani langsung oleh Bupati Garut Abdusy Syakur Amin.

Melalui edaran ini, Pemkab Garut mengajak seluruh lapisan masyarakat mulai dari instansi pemerintah, sektor swasta, hingga warga desa untuk bersama-sama menyemarakkan peringatan hari jadi sebagai momentum refleksi dan kebangkitan daerah.

Baca Juga: Ormas GAS Tuding Ada Mafia Tanah Berkedok “Koperasi Siluman”

Tema Sarat Filosofi

Pada peringatan tahun ini, HJG mengusung tema “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang”. Tema tersebut merepresentasikan harapan agar Garut terus bersinar, tangguh, dan mampu mengoptimalkan seluruh potensi serta capaian daerah demi menguatkan kembali wibawa dan daya saing Garut di tingkat regional maupun nasional.

Seiring dengan tema tersebut, logo resmi HJG ke-213 juga telah diperkenalkan. Identitas visual ini memuat unsur sejarah, jati diri Garut, kekuatan ekonomi kerakyatan, serta peran strategis pendidikan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Pengunduran Jadwal Upacara

Terdapat penyesuaian dalam agenda utama peringatan. Upacara Hari Jadi dan Rapat Paripurna Istimewa DPRD yang semula dalam jadwal pada 16 Februari 2026, mundur menjadi Rabu, 18 Februari 2026. Perubahan ini terjadi karena tanggal 16 Februari bertepatan dengan cuti bersama Tahun Baru Imlek 2577.

Tradisi, Religi, dan Sejarah Jadi Ruh Perayaan

Selain agenda puncak, Pemkab Garut juga menyiapkan rangkaian kegiatan bernuansa tradisi, religi, dan sejarah sebagai bagian dari napak tilas perjalanan daerah. Beberapa kegiatan tersebut antara lain:

  • Ngarawat Sumur Cigarut, Kamis (12/2/2026) di Kompleks SMPN 1 Garut.
  • Mengenang Titik Nol Garut, Kamis (12/2/2026) di Jalan Kiansantang.
  • Ziarah Makam Tokoh, termasuk makam Bupati Garut pertama RAA Adiwijaya dan para pendahulu, Kamis (12/2/2026).
  • Doa Bersama, di Masjid Agung Kabupaten Garut, Kamis (12/2/2026).

Sementara itu, puncak perayaan pada 18 Februari 2026 di Lapang Otto Iskandardinata, Alun-alun, akan ramai dengan pagelaran seni budaya, mini pelayanan publik, gelar pangan murah, pameran produk UMKM, hingga pameran sejarah.

Imbauan Partisipasi Kolektif

Abdusy Syakur turut mengimbau seluruh instansi pemerintah, swasta, hingga pemerintah desa untuk berpartisipasi aktif dalam menyosialisasikan tema dan logo HJG ke-213. Beberapa poin antara lain:

  • Pemasangan spanduk, baliho, dan umbul-umbul bernuansa biru dan kuning selama 1–28 Februari 2026.
  • Pemasangan janur kuning di depan kantor pada 16–18 Februari 2026.
  • Penggunaan pakaian adat Sunda pada hari puncak peringatan, 18 Februari 2026, bagi ASN, pegawai swasta, hingga pelajar.

Perayaan Hari Jadi ke-213 harapannya menjadi ruang kebersamaan dan ungkapan rasa syukur seluruh warga, sekaligus momentum memperkuat nilai religius, budaya, dan manfaat nyata bagi masyarakat.


(Y.A. Supianto)

Viral di TikTok, Bau Limbah Hotel Cemari Pantai Barat Pangandaran

0
walhi pencemaran dugaan limbah hotel Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Genangan limbah yang mengalir ke Pantai Barat Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Dugaan pembuangan air limbah hotel ke laut kembali mencoreng wajah wisata Pantai Barat Pangandaran. Sorotan tajam kali ini datang dari pegiat media sosial, Ai Giwang Sari, yang mengunggah kondisi tersebut melalui akun TikTok pribadinya @GiwangsariAdvokat.

Dalam unggahannya, Giwang memperlihatkan aliran air limbah berbau menyengat yang diduga mengalir langsung ke laut. Aroma tidak sedap itu disebut mengganggu kenyamanan pengunjung, baik wisatawan lokal maupun luar daerah.

Baca Juga: Sumur Tua di Paledah Pangandaran Sudah Ada Sejak 1926

Kritik tersebut direkam Giwang saat ia berjalan santai di kawasan Pantai Pangandaran, Minggu (25/1/2026). Ia mengaku terkejut mendapati limbah hotel dengan bau busuk mengalir bebas di kawasan wisata unggulan Jawa Barat itu.

“Kumaha ieu Dinas Lingkungan Hidup? Pak Kadis yeuh limbah gera dibereskeun. Teu nyaman ieu, komo wisatawan luar, warga lokal ge teu nyaman,” ujar Giwang dalam video unggahannya.

Dalam rekaman tersebut, Giwang juga mengarahkan kamera ponselnya ke titik sumber aliran limbah. Ia menegaskan, lokasi yang direkam hanyalah satu contoh dan meyakini masih ada titik-titik lain di kawasan Pangandaran yang mengalami persoalan serupa.

“Bauna keneh karasa, komo ningali cai na nepi ka hejo,” katanya, sambil menunjukkan warna air yang tampak kehijauan.

Menurut Giwang, persoalan limbah di Pangandaran bukanlah masalah baru. Ia menyebut persoalan tersebut sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum Pangandaran resmi menjadi kabupaten mandiri.

“Se iya nya sekarang sudah teratasi, Pangandaran kan sudah jadi kabupaten. Tapi di sini mah harus Viral dulu, baru bergerak,” ungkapnya.

Pejabat Terkesan Lambat Bergerak

Ia juga menyayangkan sikap para pejabat yang memiliki kewenangan namun terkesan lamban dan tidak memiliki solusi konkret dalam penanganan limbah.

Caricing wae? Kumaha atuh ieu, gancang beberes,” pungkasnya.

Pantauan Senin (26/1/2026), unggahan tersebut viral di media sosial. Video Giwang telah mendapat penonton lebih dari 10,7 ribu kali dan banjir berbagai komentar warganet.

Salah satu akun, @bulin4410, menuliskan kekhawatirannya terhadap dampak limbah bagi wisatawan.
“ih gareuteul mun ngojay,” tulisnya.

Sementara akun @Baraya.Atep bahkan menandai langsung akun Gubernur Jawa Barat @dedimulyadiofficial, sebagai bentuk dorongan agar persoalan tersebut mendapat perhatian pemerintah provinsi.

Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan pembuangan limbah hotel tersebut.


(Sajidin)

Anggaran Kota Tasikmalaya 2026 “Berdarah”, Tapi Belanja Makan dan Internet Malah Meroket

0
Anggaran Kota Tasikmalaya FOKUSJabar.id
Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tasikmalaya, Asep Endang Nur Syam

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah tekanan ekonomi yang memaksa warga berhemat, pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya justru menuai tanda tanya.

Awal 2026 di buka dengan kondisi fiskal yang berat, APBD Kota Tasikmalaya mengalami defisit besar. Sementara sejumlah pos belanja rutin di organisasi perangkat daerah (OPD) justru tercatat melonjak signifikan.

Pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat sebesar Rp219 miliar atau sekitar 18,5 persen membuat Pemkot Tasikmalaya harus melakukan efisiensi ketat. Terutama pada sektor infrastruktur dan pelayanan publik.

Namun di sisi lain, data belanja menunjukkan adanya pos anggaran yang di nilai tidak sejalan dengan semangat penghematan.

Baca Juga: Ribuan Guru Honorer Demo Balekota Tasikmalaya, Tuntut Keadilan Status PPPK

Belanja Konsumsi BPKAD Jadi Sorotan

Perhatian publik tertuju pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), lembaga yang seharusnya menjadi contoh dalam pengendalian anggaran. Dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) 2026, BPKAD tercatat mengalokasikan sekitar Rp884,9 juta hanya untuk belanja makan dan minum.

Anggaran tersebut terbagi ke dalam 52 paket pengadaan langsung, dengan nilai per paket bervariasi. Beberapa kegiatan rapat bahkan tercatat menelan anggaran hingga Rp78 juta sampai Rp89 juta.

Aktivis lokal, Fadli Khoerullah, mempertanyakan rasionalitas belanja tersebut di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang tertekan.

“Bagaimana mungkin masyarakat di minta memahami keterbatasan anggaran saat jalan rusak belum tertangani. Sementara belanja konsumsi di kantor pengelola keuangan hampir menyentuh satu miliar rupiah,” kritiknya.

Anggaran Internet Diskominfo Dinilai Tak Efisien

Sorotan juga datang dari DPRD Kota Tasikmalaya. Ketua Fraksi PKB, Asep Endang Nur Syam, mengungkap adanya indikasi pemborosan pada belanja jaringan internet dan intranet di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Ia membeberkan setidaknya tiga persoalan utama yang perlu di evaluasi secara serius. Pertama, pemisahan anggaran antara internet dan intranet yang di nilai tidak efisien. Karena keduanya berjalan di atas infrastruktur jaringan yang sama.

Kedua, belanja kabel fiber optik yang terus muncul hampir setiap tahun. Asep mempertanyakan kejelasan status aset tersebut.

“Apakah kabel itu di sewa, di beli atau setiap tahun selalu di anggarkan ulang? Ini perlu kejelasan,” ujarnya.

Ketiga, lemahnya skala prioritas anggaran. Menurut Asep, Diskominfo seharusnya lebih fokus pada program strategis seperti digitalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk pajak parkir dan hotel, dibandingkan terus membiayai belanja rutin yang membengkak.

Ketimpangan Efisiensi dan Krisis Kepercayaan

Situasi ini memunculkan kesan adanya ketimpangan dalam penerapan kebijakan efisiensi. Di satu sisi, Pemkot Tasikmalaya telah memangkas belanja infrastruktur, mengurangi dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD, serta menyesuaikan berbagai pos operasional. Namun di sisi lain, belanja rutin di OPD strategis justru masih terlihat longgar.

“Upaya peningkatan PAD tidak akan berdampak signifikan jika kebocoran belanja rutin tidak segera disumbat,” tegas Asep Endang, Senin (26/1/2026).

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlebar jarak kepercayaan antara pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran.

Publik Menunggu Sikap Tegas Wali Kota

Kini, sorotan publik mengarah pada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan. Masyarakat dan DPRD menantikan keberanian kepala daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap RUP 2026, termasuk audit belanja non-prioritas yang dinilai tidak selaras dengan kondisi fiskal daerah.

Tanpa transparansi dan langkah korektif yang tegas, defisit ratusan miliar rupiah bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran, melainkan ancaman nyata terhadap kualitas layanan publik dan kesejahteraan warga Tasikmalaya ke depan.

(Abdul)

Ribuan Guru Honorer Demo Balekota Tasikmalaya, Tuntut Keadilan Status PPPK

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : Ribuan guru-guru honorer Madrasah dan Sekolah swasta, melakukan aksi demo di depan Balekota Tasikmalaya, menuntut mereka untuk diperhatikan secara serius oleh Pemerintah (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ribuan guru honorer madrasah dan sekolah swasta menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Balekota Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, Bungursari, Senin (26/1/2026) sore. Aksi ini menjadi luapan kekecewaan atas kebijakan pemerintah pusat yang dinilai tidak berpihak pada tenaga pendidik honorer.

Massa aksi datang dari berbagai daerah, mulai Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, hingga Garut. Mereka menuntut keadilan atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mengangkat pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sementara nasib guru honorer hingga kini masih belum memiliki kejelasan status.

Baca Juga: Terjepit Tambang Pasir, Situs Lingga Yoni Tasikmalaya Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

Dengan mengenakan pakaian hitam putih, para guru membawa spanduk dan poster berisi tuntutan keadilan dan kepantasan kebijakan. Aksi dipimpin langsung Ketua Umum Persatuan Guru Madrasah (PGM) Asep Rizal bersama Sekretaris Jenderal PGM Arip Ripandi, dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dan Satpol PP.

Setibanya di Balekota, perwakilan massa diterima Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra Negara, Sekretaris Daerah Asep Goparulloh, anggota DPRD Kota Tasikmalaya Habib Kosim Nurwahab, Kepala Kesbangpol Ade Hendar, serta Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto.

Koordinator aksi, Arip Ripandi, menyampaikan demonstrasi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam para guru honorer terhadap kebijakan yang mencederai rasa keadilan.

“Kebijakan pengangkatan pekerja SPPG menjadi PPPK sangat melukai hati kami. Guru-guru honorer dan sekolah swasta sudah puluhan tahun mengabdi, namun sampai hari ini belum ada kejelasan status,” ujar Arip.

Pengangkatan SPPG jadi PPPK Terlalu Mudah

Ia menilai pemerintah terlalu mudah mengangkat pekerja SPPG yang baru bekerja sekitar enam bulan. Sementara guru honorer madrasah yang telah puluhan tahun mengabdikan diri justru terabaikan.

“Coba berpikir secara rasional, pekerja SPPG baru enam bulan sudah bisa jadi PPPK. Sementara guru honorer yang puluhan tahun mencerdaskan bangsa justru tidak mendapat perhatian,” tegasnya.

Arip menegaskan, aksi ini bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan seruan moral agar pemerintah bersikap jujur, adil, dan rasional dalam menetapkan kebijakan.

“Ini bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan, tapi demi keberlanjutan dunia pendidikan dan masa depan generasi penerus bangsa,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, mengaku tersentuh dengan perjuangan para guru honorer. Ia bahkan tak kuasa menahan haru saat massa aksi menyanyikan lagu Hymne Guru.

“Terus terang saya menangis. Ayah saya juga seorang guru. Jadi saya bisa merasakan bagaimana perasaan para guru honorer yang hingga kini belum mendapatkan perhatian serius,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa perjuangan para guru honorer merupakan perjuangan mulia dan patut mendapatkan dukungan. Ia menegaskan bahwa Pemkot Tasikmalaya akan meneruskan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat.

“Apa yang kami sampaikan hari ini adalah hal yang wajar. Insyaallah seluruh aspirasi ini akan kami teruskan ke pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia juga berharap kebijakan pemerintah tidak justru menimbulkan ketimpangan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Menutup aksi, massa menyatakan akan kembali turun ke jalan dengan jumlah lebih besar jika tuntutan mereka tidak mendapatkan respon. Bahkan, mereka mengancam akan menggelar aksi lanjutan hingga ke Istana Negara agar jeritan para guru honorer terdengar langsung oleh Presiden.


(Seda)