BANJAR,FOKUSJabar.id: Pelapor dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Desa Rejasari, Andri Setiawan, menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Inspektorat Kota Banjar. Ia menilai lembaga pengawas internal tersebut belum menunjukkan keterbukaan dalam menangani laporan yang ia sampaikan.
Andri mengungkapkan bahwa Inspektorat telah menyelesaikan pemeriksaan dan menemukan indikasi temuan. Namun, hingga kini ia tidak memperoleh akses terhadap hasil audit tersebut, termasuk rincian temuan yang muncul.
Sebagai pelapor, Andri mengaku telah berkomunikasi langsung dengan pihak Inspektorat dan bertemu dengan Inspektur Pembantu (Irban) Ngasip. Dalam pertemuan itu, ia meminta penjelasan terkait hasil pemeriksaan. Namun, pihak Inspektorat menyampaikan bahwa seluruh hasil audit bersifat rahasia dan tidak dapat dibuka kepada publik, termasuk kepada pelapor.
“Saya sama sekali tidak mengetahui hasil auditnya. Nominal temuan, objek yang bermasalah, semuanya tidak disampaikan dengan alasan aturan perundang-undangan,” kata Andri, Senin (9/2/2026).
Menurut penjelasan Inspektorat, kerahasiaan hasil audit merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 23, yang menyebutkan bahwa laporan hasil pengawasan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) bersifat rahasia dan tidak terbuka untuk publik.
Lanjut Hasil Auidt Inspektorat
Andri juga mempertanyakan mekanisme tindak lanjut dari hasil audit tersebut. Ia menyebutkan bahwa Inspektorat menjelaskan adanya kewajiban pengembalian jika terdapat potensi kerugian negara. Namun, Inspektorat tidak menyampaikan batas waktu pengembalian secara tertulis. Jangka waktu tersebut hanya tersampaikan secara lisan, berkisar antara 10 hingga 60 hari.
“Dengan kondisi seperti ini, publik tidak memiliki kepastian apakah pengembalian benar-benar terjadi atau tidak. Padahal pengawasan publik sangat penting,” ujarnya.
Selain itu, Andri menilai kewenangan Inspektorat terlalu terbatas. Ia menyebutkan bahwa Inspektorat hanya menangani audit terkait potensi kerugian negara. Sementara dugaan pelanggaran hukum lain, seperti indikasi pengaturan atau persekongkolan dalam pengadaan barang dan jasa, berada di luar lingkup kewenangan lembaga tersebut.
Atas dasar itu, Andri menyatakan sikap untuk melanjutkan laporannya ke Aparat Penegak Hukum (APH) agar dugaan pelanggaran hukum mendapatkan tindaklanjut secara lebih menyeluruh.
“Demi menjaga akuntabilitas dan kepastian hukum, saya memutuskan melanjutkan laporan ini ke APH,” tegasnya.
BANDUNG, FOKUSJabar.id: Sosok pemimpin yang berasal dari pelaku olahraga bola basket menjadi figur yang di butuhkan untuk memimpin kepengurusan Persatuan Olahraga Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Provinsi Jawa Barat 2025-2029.
Seperti diketahui, kepengurusan Perbasi Jabar di bawah kepemimpinan Efriyanto sudah habis masa bakti dan akan segera menggelar Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov).
Rencananya, musorprov Perbasi Jabar akan di gelar pertengahan Februari 2026.
Tokoh olahraga bola basket Jawa Barat, Guntur Rahmadi berharap, Musorprov Perbasi Jabar bisa melahirkan sosok pemimpin (ketua umum) yang mumpuni.
Pasalnya, organisasi yang baik bisa mendukung pada pencapaian prestasi olahraga yang baik.
“Kalau kita berbicara tentang organisasi olahraga bola basket, itu cukup unik. Kota dan kabupaten itu punya karakter dan kekuatan masing-masing. Sehingga kepengurusan di provinsi harus mampu mengoptimalkannya,” kata Guntur, Senin (9/2/2026).
Ketua Umum Perbasi Kota Banjar tiga periode (2008-2020) ini menuturkan, sosok pemimpin organisasi bola basket di Provinsi Jabar harus memiliki blue print pembinaan yang tepat.
Tidak hanya sosok pemimpin yang kuat dari sisi finansial ataupun pengaruh kekuasaan.
“Ketua di level Provinsi Jabar itu harus peka memahami dan melihat setiap potensi maupun permasalahan olahraga bola basket. Sosok yang memang lahir dan besar di dunia bakset, sosok yang passionnya memang di basket. Kalau saya menyebutnya orang basket murni bukan (masuk) basket karena politik atau popularitas,” kata anak dari mantan Wali Kota Banjar, Herman Sutrisno.
Dengan latar belakang sebagai orang yang bergelut dan menyukai olahraga basket, Guntur meyakini jika sosok tersebut mampu memahami karakter dan permasalahan serta menjadi pemersatu dari semua kekuatan olahraga bola basket di Jabar. Di banding sosok yang hanya menjadikan bola basket sebagai kendaraan politik atau popularitas semata.
“Pembinaan di daerah itu sebenarnya sudah berjalan. Tapi kalau kebijakan yang di keluarkan di tingkat provinsi tidak memahami karakter hingga kemampuan kota dan kabupaten ya akan sulit. Itu yang terjadi sekarang, banyak kota dan kabupaten yang tidak bisa ikut kebijakan Pengprov Perbasi saat ini,” tegas Guntur.
Guntur menambahkan, pola pembinaan yang di terapkan Perbasi Jabar saat ini di nilai kurang pas. Perbasi Jabar yang menerapkan pembinaan olahraga bola basket melalui kompetisi dengan format divisi di nilai kurang tepat.
Alasannya, kemampuaan setiap kota dan kabupaten di Jabar untuk mengikuti kompetisi memiliki perbedaan. Terlebih lagi, kebijakan PB Perbasi terkait pembinaan olahraga bola basket melalui kompetisi menggunakan format wilayah. Di mana Jabar tergabung di wilayah Jawa.
“Kalau menggunakan format divisi, banyak kota dan kabupaten kesulitan. Misalnya Pangandaran dan Ciamis yang tergabung di Divisi II yang di gelar di Kota Depok, dari sisi pendanaan jelas kesulitan. Sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk atlet pun tidak masksimal. Dampaknya, performa atlet pun tidak akan maksimal,” kata Guntur.
Hal berbeda, akan terjadi jika pembinaan olahraga melalui kompetisi menggunakan format wilayah. Setiap kota/kabupaten di pastikan akan lebih maksimal karena dari sisi pembiyaan pun akan lebih murah.
Tidak hanya dari sisi akomodasi maupun transportasi, yang paling penting adalah pemenuhan nutrisi bagi atlet. Sehingga bisa tampil lebih maksimal.
“Kemampuan anggaran setiap kota/kabupaten berbeda. Apalagi saat ini dengan kendala efisiensi anggaran,” sebutnya.
Tak hanya itu, Guntur melihat jika keberlangsungan pembinaan secara berjenjang dan berkelanjutan di level provinsi pun tidak berjalan semestinya.
Dengan format divisi yang di terapkan serta kondisi anggaran yang berbeda, maka setiap kota/kabupaten di pastikan akan memilih dan memilah untuk mengirim tim terbaiknya untuk mengikuti program yang di siapkan Pengprov Perbasi Jabar.
Kondisi ini membuat data base pemain bola basket di Jabar tidak akan terpantau secara utuh oleh Pengprov Perbasi Jabar. Data base pemain sangat penting sebagai bekal Perbasi Jabar dalam menyiapkan kerangka tim untuk perhelatan kompetisi di level nasional.
“Inilah yang menyebabkan beberapa atlet bola basket potensial asal Jabar banyak yang pindah ke provinsi lain, karena tidak terdata dan luput dari pantauan. Contohnya, Fathir yang asalnya dari Kabupaten Bogor tapi sekarang justru membela Jakarta. Ini seharusnya tugas dari Perbasi jabar membentenginya,” kata Guntur.
Kondisi yang terjadi dalam pembinaan olahraga bola basket di Jabar menjadi salah satu penyebab dari kegagalan di dua gelaran terakhir PON.
Pada dua gelaran multieven olahraga terbesar di Indonesia tersebut, bola basket Jabar gagal meraih medali emas.
Yakni pada PON XX tahun 2021 di Papua, bola basket Jabar hanya meraih medali perak nomor 3×3 putra empat nomor yang di pertandingkan dan tiga medali perunggu pada PON XXI tahun 2024 di Sumut dan Aceh.
Sebelumnya, pada PON XVIII tahun 2012 dan PON XIX tahun 2016, bola basket Jabar selalu berhasil menyumbangkan medali emas.
“Kegagalan di PON ini tidak lepas dari kepemimpinan Perbasi Jabar yang saya nilai tidak memiliki power dan evaluasi pada setiap tahapan. Sehingga lost control. Karena itu, Perbasi Jabar ke depan butuh sosok yang memang orang basket murni. Bukan politisasi atau popularitas. Sosok yang memang dari basket untuk basket, sosok yang gila basket,” pungkas Guntur.
Caption: Polres Banjar saat mengungkap motif pembacokan terhadap driver GrabCar di Banjar. (Foto: Budiana Martin).
BANJAR, FOKUSJabar.id: Polres Banjar mengungkap motif di balik aksi pembacokan terhadap seorang pengemudi GrabCar yang terjadi di wilayah Kota Banjar. Pelaku berinisial MRA (22) nekat melakukan kekerasan karena dorongan faktor ekonomi.
Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro menjelaskan bahwa pelaku merupakan residivis kasus penganiayaan yang baru bebas dari lembaga pemasyarakatan pada September 2025.
“Pelaku mengaku melakukan perbuatannya karena faktor ekonomi,” ujar Didi saat konferensi pers di Mapolres Banjar, Senin (9/2/2026).
Dalam peristiwa tersebut, korban bernama Herliyadi mengalami luka sobek di pipi sebelah kiri akibat sabetan senjata tajam. Tim medis segera memberikan penanganan, dan saat ini korban sudah menjalani rawat jalan.
Didi memaparkan, kejadian bermula ketika pelaku mencoba memeras seorang warga di sekitar simpang tiga dekat Stasiun Kereta Api Kota Banjar. Karena korban menolak memberikan uang, pelaku langsung menyerang menggunakan senjata tajam lalu melarikan diri dari lokasi.
Mendapat laporan masyarakat, tim Satreskrim Polres Banjar langsung bergerak melakukan penyelidikan. Berkat informasi warga dan pengemudi ojek online di sekitar lokasi kejadian, polisi berhasil menangkap pelaku dalam waktu kurang dari tiga jam.
Dalam penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan sebilah golok yang digunakan pelaku saat melakukan pembacokan.
Atas perbuatannya, penyidik menjerat MRA dengan Pasal 466 ayat (1) dan (2) KUHP tentang penganiayaan serta Pasal 482 KUHP tentang pemerasan. Pelaku terancam hukuman pidana penjara maksimal sembilan tahun.
Polres Banjar mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera melapor jika menemukan tindakan kriminal di lingkungan sekitar.
HomPim Play Dago Pakar Hadirkan Konsep Wisata Keluarga Terpadu di Bandung
BANDUNG,FOKUSJabar.id: Bandung terus memperkaya pilihan wisata keluarga. Salah satu destinasi yang kini menarik perhatian adalah HomPim Play, taman rekreasi keluarga yang berlokasi di kawasan Dago Pakar. Berdiri di atas lahan hampir 2,2 hektar, HomPim Play menawarkan lebih dari 10 wahana permainan dalam satu kawasan terpadu yang menyasar seluruh anggota keluarga.
HomPim Play mengusung konsep One Stop Family Recreation, memadukan hiburan, edukasi, dan ruang kebersamaan dalam satu pengalaman liburan. Konsep tersebut dirancang berdasarkan tiga nilai utama, yakni Delivery Happiness, Sweet Escape, dan Educative Experience.
General Manager Commercial HomPim Play, Riswan Septiawan, menjelaskan bahwa destinasi ini hadir untuk menjawab kebutuhan keluarga akan ruang bermain yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga memberi nilai pembelajaran.
“Kami menghadirkan HomPim Play sebagai ruang kebahagiaan bagi anak dan keluarga dan tempat melepas penat dari rutinitas. Sekaligus sarana bermain yang mendorong proses belajar dan tumbuh bersama,” ujar Riswan.
Beragam wahana tersedia dan dapat dinikmati sesuai usia dan minat pengunjung. Mulai dari Gokart anak dan dewasa, Flying Fox, Wall Climbing, hingga HomPim Jungle atau Mix Playground yang mengusung konsep indoor outbound modern.
Pengalaman edukatif juga hadir melalui HomPim Farm, tempat anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan berbagai hewan. Seperti berinteraksi dengan capybara, alpaca, kuda poni, serta beragam jenis burung dan reptil. Wahana ini dirancang untuk mengenalkan dunia satwa secara menyenangkan dan interaktif.
Wahana Bermain Air
HomPim Play juga tengah mempersiapkan wahana permainan air yang akan mulai beroperasi pada libur Hari Raya Idul Fitri. Kehadiran wahana tersebut akan memperkaya pilihan atraksi bagi pengunjung.
Tak hanya ramah anak, HomPim Play turut memberi perhatian pada kenyamanan orang tua. Berbagai area relaksasi tersedia, seperti Happy Garden Bloom dengan panorama alam Dago Pakar dan kursi pijat. Kemudian tersedia juga wahana aktivitas keluarga seperti memetik stroberi di wahana Kisah Bukit Strawberry. Pengunjung juga dapat menikmati permainan remote control, bumper car, shooting target, hingga archery di area HomPim City.
Dari sisi kuliner, HomPim Play menghadirkan beragam pilihan makanan. Mulai dari Sangu Haneut dengan menu khas Sunda dan Merambah Rasa yang menyajikan hidangan nusantara. Kemudian Papo’s Fried Chicken, Hola Aloha dengan sajian khas Meksiko, hingga tenant UMKM lokal pilihan.
Dalam rangka menyambut libur Imlek, HomPim Play akan menghadirkan pertunjukan Barongsai pada Minggu, 15 Februari 2026.
“Melalui pertunjukan ini, kami ingin memperkenalkan nilai budaya kepada anak-anak. Sekaligus menghadirkan pengalaman liburan yang berkesan bagi seluruh keluarga,” kata Ilham Fadjriansyah, Senior Sales and Marketing Manager HomPim Play.
Saat ini HomPim Play terbuka untuk umum dan siap menjadi salah satu destinasi unggulan wisata keluarga di Bandung. Mari bermain, belajar, dan bertumbuh bersama HomPim Play.
Foto Bersama Momen HPN 2026 Anggota PWI Ciamis, Banjar dan Pangandaran
CIAMIS,FOKUSJabar.id: Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ciamis, Banjar, dan Pangandaran menggelar doa bersama dan pemotongan tumpeng. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor PWI Ciamis, Jalan Iwa Kusumah Soemantri Nomor 06, Senin (9/2/2026).
Meski kemasaan kegiatan secara sederhana, kegiatan ini sarat makna. Pengurus dan anggota PWI, bersama sejumlah undangan, mengikuti rangkaian acara dengan doa bersama, kemudian pemotongan tumpeng oleh Ketua PWI Ciamis, Banjar, dan Pangandaran.
Ketua PWI Ciamis, Banjar, dan Pangandaran, Anthika Asmara, menyampaikan bahwa peringatan HPN 2026 tidak berhenti pada seremoni. PWI telah menyiapkan sejumlah kegiatan sosial dan kepedulian lingkungan yang akan terlaksana pada April 2026 mendatang.
“Tahun ini, rangkaian HPN kami isi dengan kegiatan nyata. Di antaranya penanaman pohon di wilayah Kecamatan Banjarsari, aksi bersih-bersih sungai, serta program bedah rumah untuk membantu salah satu warga di Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg,” ujar Anthika.
Menurutnya, HPN menjadi momentum penting bagi insan pers untuk memperkuat peran dan tanggung jawab jurnalistik di tengah dinamika zaman. Ia menegaskan pentingnya menjaga integritas, profesionalisme, dan solidaritas di tubuh organisasi.
“Kita semua harus memiliki rasa memiliki terhadap PWI. Dengan begitu, marwah dan kepercayaan publik terhadap profesi wartawan tetap terjaga,” tegasnya.
Acara kemudian berlanjut dengan doa bersama dan pemotongan nasi tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Dian Soleh Hudin, salah satu anggota PWI Ciamis memimpin doa tersebut.
Aktivis akademisi Hendra Sukarman, anggota DPRD Ciamis Andang Irfan, serta pengurus PWI lainnya berbagi tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Prosesi ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi insan pers dalam menjaga etika dan kualitas jurnalistik yang terus berkembang seiring kemajuan zaman.
Vokalis band Slank, Kaka tampil aktraktif menghibur penonton pada United Day 9, Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung
BANDUNG, FOKUSJabar.id: Hellprint Supermusic United Day 9 berhasil menciptakan ekosistem setara bagi setiap penampil sekaligus memberikan pengalaman tersendiri bagi para penonton.
Di gelar sejak sore hingga malam hari pada Minggu (8/2/2026), festival musik yang mengusung tema ‘Unsplit & Equal’ ini mampu menjadi gelaran termegah.
Tritan Point yang berlokasi di sebelah timur dari pusat Kota Bandung menjadi titik temu elemen berbeda dalam menikmati suguhan musik berbagai genre dari setiap penampil.
“Lebih dari sekadar festival, United Day 9 di posisikan sebagai ‘rumah’ bagi setiap elemen di dalamnya. Selama 15 tahun kebersamaan Supermusic dan Hellprint, kami melihat jika musik adalah satu-satunya bahasa yang tidak membutuhkan terjemahan untuk menyatukan perbedaan,” kata perwakilan Supermusic Bandung, Tries Pondang.
Gelaran United Day ke-9 menghadirkan keberagaman genre musik di lima panggung besar yang berjalan paralel. Mulai dari Rock, Metal hingga Indie bersatu, berbagi panggung. Sehingga menciptakan ekosistem setara bagi setiap penampil yang semuanya berdiri di atas garis yang sama (qual).
Beberapa penampil yang menghangatkan udara dingin Kota Bandung di antaranya, Slank, Burgerkill, The Sigit, Fstvlst, The Adams hingga Rebellion Rose.
Hadir pula puluhan band nasional lainya dan talenta band lokal dari berbagai daerah di Indonesia.
“United Day 9 adalah ruang berkumpul bagi para komunitas, ruang berkarya bagi musisi dan ruang setara bagi setiap penonton tanpa memandang latar belakang. Dan Tritan Point menjadi lokasi yang tepat dan strategis untuk menampung ribuan energi yang akan melebur dalam keberagaman genre tersebut,” kata Tries.
Sebagai perayaan perjalanan 15 tahun kolaborasi Supermusic dan Hellprint, United Day 9 menjadi sebuah pembuktian dari kreativitas, konsep serta terobosan baru yang tidak pernah habis.
Untuk itu, gelaran tahun ini menjadi sebuah bukti kebanggaan dari perjalanan 15 tahun dengan memberikan sebuah pertunjukkan yang megah.
Kolaborasi Supermusic dengan Hellprint tidak hanya lewat United day. Namun juga melalui berbagai program lain. Seperti Demonstration of Noise, Kecil Tapi Party, Nge-Gigs dan program musik lainnya.
“Di United Day ini kita dorong terus berkembang. Sehingga ada keterbaruan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Tidak hanya dari sisi penampil saja. Saya melihat United Day 9 ini memang terasa paling ‘wah’, paling megah. Kami ingin menunjukkan jika Supermusic dan Hellprint tidak hanya menghadirkan festival yang biasa saja dan Bandung memiliki kebanggaan melalui Hellprint dan Unitedday sebagai salah satu event yang punya karakter dan roh serta dinantikan para pecinta musik,” Tries menegaskan.
Promotor Hellprint, Danny Kazul mengaku cukup kaget sekaligus terkesan dengan antusiasme serta euforia yang di tunjukkan para penonton.
Berdasarkan jumlah tiket yang terjual, sekitar 20 ribu penonton memenuhi area Tritan Point untuk menikmati suguhan musik dari line up performer United Day 9 di lima panggung yang di siapkan.
“Jumlah penonton tembus 20 ribu orang dan Alhamdulillah cuaca juga mendukung. Dengan harga tiket di kisaran Rp125-150 ribu untuk presale serta on the spot Rp250 ribu. Jujur saya cukup kaget dengan antusiasme ini karena target awal kita tidak di angka sebesar ini penontonnya,” kata Kazul.
Kehadiran band legendaris Slank menjadi salah satu yang spesial pada United Day 9.
Dengan basis penonton anak muda di rentang usia 18-35 tahun, kehadiran Slank sejalan dengan target audience dari gelaran musik kolaborasi Supermusic dan Hellprint ini.
“Selain itu ada Burgerkill yang tampil dengan vokalis baru dan berkolaborasi dengan Anime String Orchestra Bandung. Sehingga sekitar 12 orang di atas panggung. Juga kehadiran talenta band baru seperti Sukses Lancar Rezeki hingga band era 90-an. Seperti Injekti dan Hellgods. Apalagi United Day 9 ini menjadi momen khusus bersama Supermusic,” Kazul menjelaskan.
Situasi United Day 9 di Tritan Point, Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung
Meski dari sisi jumlah penonton cukup puas, Kazul mengaku masih ingin terus berkreasi dan melahirkan ide maupun konsep baru yang lebih baik untuk gelaran selanjutnya.
Salah satunya program tur di sekitar 15 kota melalui konsep Ngegigs yang menadi ajang penyaringan band-band baru menuju Hellprint berikutnya.
“Keinginan kami, Hellprint dan Supermusic tidak hanya menjadi Bandung-sentris. Dulu kami pernah tur di empat provinsi dan 96 kota sekitar tahun 2016–2017. Mudah-mudahan rencana tur itu bisa kembali di jalankan bersama Supermusic. Ke depan, kami berharap bisa dapat venue yang lebih besar dan saya inginnya di Tegalega,” kata Kazul.
Kehadiran Slank pada United Day 9 menjadi warna tersendiri. Sekaligus mempertegas dari tema yang di usung yakni ‘Unsplit dan Equal’.
Band bergenre rock blues yang di gawangi drummer Bimo Setiawan ‘Bimbim’ Almachzumi bersama, vokalis Akhadi Wira ‘Kaka’ Satriaji, bassist Ivan Kurniawan ‘Ivanka’ Arifin, gitaris Abdee Negara Nurdin serta gitaris Mohammad Ridwan ‘Ridho’ Hafiedz ini mengaku sangat antusias dengan festival musik bergenre keras yang di gelar Hellprint dan Supermusic.
“Tiap tahun selalu dengar ada acara musik keras (United Day). Happy ya bisa tampil di sini, sampai mikir juga mau bawain lagu apa. Sempat kepikiran bawain lagu ‘Anjing’ yang jarang banget kita bawain,” kata Bimbim.
Bimbim menilai jika gelaran United Day 9 tidak sekedar festival musik biasa. Namun menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
“Ini bukan cuma soal main musik. Tapi soal gen lama ketemu gen baru. Gen Z ketemu Gen A. Musik bikin semuanya nyambung,” Bimbim menegaskan.
Antusiasme senada di ungkapkan band The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The SIGIT). Band yang lahir di Kota Bandung ini mengaku jika United Day memiliki makna khusus bagi mereka.
“Kita sudah lebih dari lima kali tampil di United Day. Dan kami selalu di rangkul serta di apresiasi. Hellprint yang berangkat dari skena underground yang identik dengan musik keras, mampu mengapresiasi kami yang musiknya tidak sekeras itu. Jadi ini bener-bener sebuah festival lintas genre, mengapresiasi semua genre musik. Dan di United Day 9 ini kami hadirkan hal spesial yang salah satunya mengenalkan kembali formasi baru The SIGIT,” kata vokalis sekaligus pemetik gitar, Rektivianto Yoewono.
Jejak Sipatahoenan, Kisah Lahirnya Raksasa Koran Sunda dari Jantung Tasikmalaya
TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Hari ini Kota Tasikmalaya dikenal luas sebagai Kota Santri dan sentra kerajinan bordir. Namun jauh sebelum identitas itu melekat, kota ini pernah menjadi titik lahir salah satu surat kabar (Koran) sunda paling berpengaruh di Tanah Pasundan, bahkan gaungnya sampai ke Negeri Belanda.
Nama surat kabar itu Sipatahoenan. Lebih dari sekadar media cetak, Sipatahoenan tampil sebagai corong perlawanan, ruang intelektual, sekaligus simbol keberanian masyarakat Sunda di bawah tekanan kolonial.
Sejarah Sipatahoenan tidak bisa dipisahkan dari sosok Sutisna Senjaya, atau yang lebih dikenal sebagai Abah Sutsen. Namanya kini terabadikan sebagai salah satu ruas jalan utama di Kota Tasikmalaya. Sayangnya, tak banyak yang mengetahui bahwa ia bukan hanya pejuang, melainkan juga tokoh pers yang meletakkan fondasi jurnalisme kritis di daerah ini.
Sebagai Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan sekaligus guru HIS di Tasikmalaya, Abah Sutsen membawa mandat besar dari Kongres Paguyuban Pasundan di Bandung pada 1923. Ia memilih jalur tulisan untuk membangkitkan kesadaran rakyat terhadap ketidakadilan penjajahan.
Pada 20 April 1923, edisi perdana Sipatahoenan terbit dari Tasikmalaya dengan segala keterbatasannya. Redaksi menempati paviliun milik Ahmad Atmaja di Jalan Stationsweg Nomor 17, yang kini dikenal sebagai Jalan Tarumanegara. Proses cetak berlangsung di Percetakan Galunggung, tidak jauh dari rumah Abah Sutsen. Saat itu, tak satu pun pengelola menerima upah. Idealismelah yang menggerakkan roda redaksi.
Keberanian Sipatahoenan membuat pemerintah Hindia Belanda merasa terancam. Koran ini kerap menyajikan kritik tajam dan tidak segan menyuarakan keberpihakan pada perjuangan nasional. Akibatnya, Belanda dua kali membredel Sipatahoenan.
Pesan Penyemangat Inggit Garnasih
Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi ketika redaksi memuat pesan penyemangat untuk Inggit Garnasih, istri Ir. Soekarno, saat Sang Proklamator menjalani hukuman penjara. Tulisan berkode “Sip” yang merujuk pada Soekarno berbunyi, “Ulah leutik hate sanajan Ir Soekarno keur aya di jero bui oge…”
Tulisan itu memicu kemarahan penguasa kolonial. Polisi Belanda langsung menyita seluruh plat cetak timah milik Sipatahoenan.
Meski mendapat tekanan, Sipatahoenan justru terus berkembang. Dari terbit mingguan, lalu dua kali sepekan, hingga akhirnya menjadi surat kabar harian. Pada 1939, di bawah kepemimpinan Otto Iskandar Dinata, pusat operasional Sipatahoenan pindah ke Bandung. Di kota itu, koran ini mencapai masa kejayaannya dan bahkan mampu membangun gedung dua lantai di Jalan Dalem Kaum.
Bagi generasi tua Tasikmalaya, logo Sipatahoenan dengan ejaan “OE” masih membekas kuat dalam ingatan. Koran ini bukan sekadar bacaan, melainkan alat propaganda kemerdekaan. Distribusinya menjangkau pelosok seperti Karangnunggal hanya dengan sepeda ontel, sementara pengelolaan iklan sudah berjalan profesional jauh sebelum Indonesia merdeka.
Kini, bangunan tua tempat Sipatahoenan pertama kali terbit masih berdiri di depan Kantor PWI Tasikmalaya. Warisan itu menjadi pengingat bahwa dari sebuah paviliun kecil, lahir gagasan besar yang mengguncang kekuasaan kolonial.
Sudah sepantasnya Abah Sutsen mendapat pengakuan sebagai Tokoh Pers Nasional. Di tengah derasnya arus berita digital, keberanian dan kejujuran yang ia tanamkan lebih dari seabad lalu tetap relevan sebagai kompas moral pers Indonesia hari ini.