BANDUNG,FOKUSJabar.id: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring dimulainya musim hujan pada November 2026.
Sejumlah kawasan yang selama ini menjadi langganan banjir dan longsor diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari 2027.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi mengatakan, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini, baik melalui pembenahan infrastruktur pengendali air maupun peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Baca Juga: Bangunan Liar di Bundaran Cibiru Bandung Ditertibkan
Menurutnya, salah satu upaya penting untuk mencegah banjir adalah mengoptimalkan fungsi seluruh badan air, mulai dari area resapan, saluran aliran hingga tempat penampungan air. Pembersihan sampah dan pengerukan sedimentasi juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak menghambat aliran air.
“Untuk mengantisipasi banjir, kita harus mengoptimalkan badan-badan air yang ada, baik fungsi resapan, aliran, maupun penampungannya. Semuanya harus dioptimalkan. Jangan sampai ada yang tertutup sampah. Sedimen juga harus terus dikeruk. Apalagi ini baru awal musim hujan,” kata Didi Selasa (3/11/2026).
Selain mengandalkan penanganan infrastruktur, BPBD meminta warga yang tinggal di kawasan rawan banjir mulai mengenali tanda-tanda kenaikan debit air.
Masyarakat juga perlu menyiapkan langkah evakuasi, termasuk menentukan titik kumpul, jalur penyelamatan, serta waktu untuk mengamankan barang-barang berharga.
Kesiapsiagaan serupa perlu dilakukan untuk menghadapi ancaman angin kencang dan tanah longsor. Warga diminta memastikan kondisi atap rumah cukup kuat serta mengetahui bagian rumah yang relatif aman untuk berlindung ketika angin kencang terjadi.
Kawasan Rawan Longsor
Sementara bagi masyarakat di kawasan rawan longsor, pengenalan terhadap tanda-tanda pergerakan tanah menjadi hal penting. Didi juga menekankan perlunya komunikasi antara warga di wilayah hulu dan hilir, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu.
“Kalau hujan turun deras, beri tahu daerah hilir. Harus ada komunikasi, baik antarwarga maupun antarperangkat wilayah,” katanya.
Didi memastikan, imbauan kesiapsiagaan telah disampaikan kepada seluruh wilayah administrasi di Kota Bandung. Ia menyebut, sejumlah wilayah juga mulai bergerak melakukan langkah antisipasi menghadapi musim hujan.
Berdasarkan pemetaan BPBD, kawasan utara Kota Bandung seperti Cidadap, Cibiru, Ujungberung, dan Mandalajati menjadi wilayah yang perlu diwaspadai terhadap ancaman tanah longsor.
Sementara itu, kawasan Kopo, Ciwastra, dan Gedebage merupakan sejumlah wilayah yang kerap mengalami banjir berulang. Kawasan tersebut membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika intensitas hujan meningkat.
Baca Juga: Farhan: Porprov XV Jabar Punya Arti Penting bagi Kota Bandung
Didi mengungkapkan, kejadian bencana dalam beberapa hari terakhir tidak hanya terjadi di titik-titik yang telah teridentifikasi. Masih terdapat kejadian lain di kawasan permukiman yang belum seluruhnya terdata.
Menurut Didi, masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan penanganan permanen dari pemerintah. Selama upaya penanganan belum tuntas, kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk evakuasi, harus tetap menjadi prioritas.
“Masih banyak lagi, belum termasuk yang di permukiman. Yang penting diantisipasi, kalau penanganan permanen belum selesai, pastikan rencana evakuasi sudah matang,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



